PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Khemal Nasery. Menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berpotensi berdampak luas bagi perekonomian masyarakat. Mulai dari meningkatnya inflasi hingga terganggunya daya beli.
“Terus terang saya kaget dengan kenaikan BBM jenis Pertamax yang sangat tinggi dari sebelumnya sekitar Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Ini pasti berdampak besar bagi masyarakat dan akan dirasakan secara menyeluruh,” ucapnya pada Kamis (11/6/2026).
Khemal melihat, selisih harga yang cukup jauh antara Pertamax dan Pertalite berpotensi memicu lonjakan permintaan terhadap BBM bersubsidi. Sehingga dapat menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.
Khemal memperkirakan kondisi ini akan berpengaruh terhadap distribusi kebutuhan pokok di Kota Palangka Raya, yang sebagian besar pasokannya berasal dari luar daerah.
“Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat masyarakat akan berlomba-lomba mencari Pertalite. Dampaknya tentu luar biasa dan kita bisa kembali melihat antrean panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi,” tuturnya.
Khemal mengatakan. Sekitar 90 persen kebutuhan pokok masyarakat Kota Palangka Raya masih didatangkan dari luar daerah. Sehingga kenaikan biaya transportasi berpotensi mendorong naiknya harga berbagai komoditas.
Politisi tersebut mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan bersama-sama menjaga situasi keamanan serta ketertiban di tengah kondisi ekonomi yang dinilai cukup berat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjaga agar kondisi tetap aman serta kondusif di Kota Palangka Raya yang kita cintai. Memang situasinya berat, tetapi harus kita hadapi bersama-sama,” tandasnya. (jef)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Khemal Nasery. Menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berpotensi berdampak luas bagi perekonomian masyarakat. Mulai dari meningkatnya inflasi hingga terganggunya daya beli.
“Terus terang saya kaget dengan kenaikan BBM jenis Pertamax yang sangat tinggi dari sebelumnya sekitar Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Ini pasti berdampak besar bagi masyarakat dan akan dirasakan secara menyeluruh,” ucapnya pada Kamis (11/6/2026).
Khemal melihat, selisih harga yang cukup jauh antara Pertamax dan Pertalite berpotensi memicu lonjakan permintaan terhadap BBM bersubsidi. Sehingga dapat menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.
Khemal memperkirakan kondisi ini akan berpengaruh terhadap distribusi kebutuhan pokok di Kota Palangka Raya, yang sebagian besar pasokannya berasal dari luar daerah.
“Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat masyarakat akan berlomba-lomba mencari Pertalite. Dampaknya tentu luar biasa dan kita bisa kembali melihat antrean panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi,” tuturnya.
Khemal mengatakan. Sekitar 90 persen kebutuhan pokok masyarakat Kota Palangka Raya masih didatangkan dari luar daerah. Sehingga kenaikan biaya transportasi berpotensi mendorong naiknya harga berbagai komoditas.
Politisi tersebut mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan bersama-sama menjaga situasi keamanan serta ketertiban di tengah kondisi ekonomi yang dinilai cukup berat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjaga agar kondisi tetap aman serta kondusif di Kota Palangka Raya yang kita cintai. Memang situasinya berat, tetapi harus kita hadapi bersama-sama,” tandasnya. (jef)