32.3 C
Palangkaraya
Tuesday, February 7, 2023

Sejak Januari-September 2022, Ada 33 Kasus HIV-AIDS di Kotim

SAMPIT, PROKALTENG.CO– Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Dra.Rinie sangat mendukung upaya pemerintah daerah melalui Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kotim dalam melakukan antisipasi penyebaran penyakit menular HIV/AIDS di daerah ini.

“Kami sangat mendukung pemerintah Kabupaten Kotim dan KPAD yang terus berupaya melakukan antisipasi penyebaran penyakit yang mematikan itu, dan beberapa hari lalu saya ikut mendampingi wakil bupati dan ketua KPAD Kotim untuk studi banding ke Kebupaten Banjar, Martapura Provinsi Kalimantan Selatan,” kata Rinie, Kamis (27/10).

Menurutnya, penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Kotim butuh penangan serius agar penderita dan korban meninggal tidak terus bertambah, Dengan terus dilakukan antisipasi diharapkan dapat menekan angka penderita yang terjangkit virus mematikan HIV/AIDS.

“Informasi yang kami dapat ada sekitar 33 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kotim dari bulan Januari hingga September tahun 2022 ini, dan yang terkena hampir 75 persen kasus itu kategori usia produktif, yaitu berkisar 19 sampai 25 tahun dan kemudian usia 25 sampai 49 tahun, ini sangat memprihatinkan,” ucap Rinie.

Baca Juga :  Dukung Peningkatan Produksi Pertanian, H Rudianur Ikut Panen Perdana

Politisi PDI Perjuangan juga meminta pihak Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, KPAD Kabupaten Kotim serta sekolah dan pihak terkait lainnya juga harus mengintensifkan sosialisasi tentang bahaya penyakit menular yang mematikan itu, karena hingga sekarang tidak ada obatnya.

“Agar sosialisasi dan penyuluhan bahaya HIV/AIDS berjalan lebih efektif hendaknya Dinkes, Disdik, KPA menggandeng para praktisi pendidikan, tokoh budaya, tokoh agama, tokoh pemuda serta tokoh masyarakat dan pihak terkait lainnya,” ujar Rinie.

Sementara itu, berdasarkan data KPAD Kotim untuk tahun 2022 hingga bulan September ada 33 kasus HIV/Aids didaerah ini, tahun 2021 sebanyak 44 kasus, tahun 2020 ada 53 kasus, dan tahun 2019 ada 77 kasus, untuk tahun 2022 ini hampir 75 persen penderitanya usia produktif.

Ia mengatakan Kabupaten Kotim memang rawan terjadi penyebaran HIV/AIDS karena sejumlah faktor, yaitu kondisi geografisnya yang mudah dijangkau, kemudian mobilitas penduduk yang tinggi karena hampir semua angkutan ada di daerah ini baik itu angkutan darat, udara dan kapal laut.

Baca Juga :  Perangi Narkoba Perlu Tindakan Nyata dan Bersama-sama

“Selain itu infrastruktur yang semakin terbuka dengan banyaknya daerah yang dapat ditembus dengan jalan darat, dan terakhir tingkat perekonomian yang semakin baik, dengan banyaknya investasi yang masuk, seperti perkebunan kelapa sawit, sehingga banyak warga pendatang yang mencari pekerjaan di daerah ini,” sampai Rinie

Dirinya mengatakan dengan banyaknya warga pendatang yang masuk ke Kabupaten Kotim, apakah mereka sehat atau tidak, bahkan mereka mengidap penyakit apa juga tidak tahu. Kemungkinan besar dari situlah awal dari penyebaran virus HIV/AIDS, maka dari itu pencegahan harus dilakukan melalui sosialisasi baik di Sekolah, Kampus maupun di perusahaan-perusahaan agar mereka tahu akan penyakit mematikan itu.

“Untuk mencegah itu semua terjadi pada diri kita. Makanya lebih baik hindari dan taati dan patuhi aturan agama agar hidup selamat dan bahagia. Saya mengigatkan para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum lainnya, Jangan suka melakukan seks bebas, gunta-ganti pasangan dan jajan sembarangan, ingat  bahaya penyakit tersebut, karena tidak ada obatnya,” tutupnya.(bah)

SAMPIT, PROKALTENG.CO– Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Dra.Rinie sangat mendukung upaya pemerintah daerah melalui Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kotim dalam melakukan antisipasi penyebaran penyakit menular HIV/AIDS di daerah ini.

“Kami sangat mendukung pemerintah Kabupaten Kotim dan KPAD yang terus berupaya melakukan antisipasi penyebaran penyakit yang mematikan itu, dan beberapa hari lalu saya ikut mendampingi wakil bupati dan ketua KPAD Kotim untuk studi banding ke Kebupaten Banjar, Martapura Provinsi Kalimantan Selatan,” kata Rinie, Kamis (27/10).

Menurutnya, penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Kotim butuh penangan serius agar penderita dan korban meninggal tidak terus bertambah, Dengan terus dilakukan antisipasi diharapkan dapat menekan angka penderita yang terjangkit virus mematikan HIV/AIDS.

“Informasi yang kami dapat ada sekitar 33 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kotim dari bulan Januari hingga September tahun 2022 ini, dan yang terkena hampir 75 persen kasus itu kategori usia produktif, yaitu berkisar 19 sampai 25 tahun dan kemudian usia 25 sampai 49 tahun, ini sangat memprihatinkan,” ucap Rinie.

Baca Juga :  DPRD Dukung BPK RI Audit Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit

Politisi PDI Perjuangan juga meminta pihak Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, KPAD Kabupaten Kotim serta sekolah dan pihak terkait lainnya juga harus mengintensifkan sosialisasi tentang bahaya penyakit menular yang mematikan itu, karena hingga sekarang tidak ada obatnya.

“Agar sosialisasi dan penyuluhan bahaya HIV/AIDS berjalan lebih efektif hendaknya Dinkes, Disdik, KPA menggandeng para praktisi pendidikan, tokoh budaya, tokoh agama, tokoh pemuda serta tokoh masyarakat dan pihak terkait lainnya,” ujar Rinie.

Sementara itu, berdasarkan data KPAD Kotim untuk tahun 2022 hingga bulan September ada 33 kasus HIV/Aids didaerah ini, tahun 2021 sebanyak 44 kasus, tahun 2020 ada 53 kasus, dan tahun 2019 ada 77 kasus, untuk tahun 2022 ini hampir 75 persen penderitanya usia produktif.

Ia mengatakan Kabupaten Kotim memang rawan terjadi penyebaran HIV/AIDS karena sejumlah faktor, yaitu kondisi geografisnya yang mudah dijangkau, kemudian mobilitas penduduk yang tinggi karena hampir semua angkutan ada di daerah ini baik itu angkutan darat, udara dan kapal laut.

Baca Juga :  Pelantikan Waket II, Hairis Salamad Dijadwalkan 29 Maret 2021

“Selain itu infrastruktur yang semakin terbuka dengan banyaknya daerah yang dapat ditembus dengan jalan darat, dan terakhir tingkat perekonomian yang semakin baik, dengan banyaknya investasi yang masuk, seperti perkebunan kelapa sawit, sehingga banyak warga pendatang yang mencari pekerjaan di daerah ini,” sampai Rinie

Dirinya mengatakan dengan banyaknya warga pendatang yang masuk ke Kabupaten Kotim, apakah mereka sehat atau tidak, bahkan mereka mengidap penyakit apa juga tidak tahu. Kemungkinan besar dari situlah awal dari penyebaran virus HIV/AIDS, maka dari itu pencegahan harus dilakukan melalui sosialisasi baik di Sekolah, Kampus maupun di perusahaan-perusahaan agar mereka tahu akan penyakit mematikan itu.

“Untuk mencegah itu semua terjadi pada diri kita. Makanya lebih baik hindari dan taati dan patuhi aturan agama agar hidup selamat dan bahagia. Saya mengigatkan para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum lainnya, Jangan suka melakukan seks bebas, gunta-ganti pasangan dan jajan sembarangan, ingat  bahaya penyakit tersebut, karena tidak ada obatnya,” tutupnya.(bah)

Most Read

Artikel Terbaru