24.9 C
Jakarta
Saturday, March 7, 2026

Rahasia Puasa Lebih Berkah: Akhirkan Sahur, Segerakan Berbuka

KESEMPURNAAN ibadah tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan kewajiban, tetapi juga sejauh mana sunnah-sunnahnya dihidupkan. Dalam puasa Ramadan, terdapat dua amalan yang kerap dianggap sederhana, padahal sarat makna dan keberkahan: mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Teladan ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah sahur bersama Zaid bin Tsabit. Usai makan sahur, beliau langsung bersiap menunaikan salat. Ketika ditanya jarak antara sahur dan salat Subuh, Anas menjawab, “Kira-kira waktu membaca lima puluh ayat.”

Ulama besar Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab syarahnya menjelaskan bahwa salat yang dimaksud adalah Subuh. Artinya, jarak antara selesai sahur dan azan Subuh sangat dekat, diperkirakan sekitar 10 menit.

Baca Juga :  Kapan Idulfitri 2024? Simak Penjelasan Versi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah

Di sinilah letak hikmahnya. Mengakhirkan sahur membuat seseorang lebih siap menyambut Subuh tanpa kembali terlelap. Dengan begitu, peluang menunaikan salat di awal waktu, bahkan berjamaah, semakin besar. Sebaliknya, sahur terlalu dini berisiko membuat seseorang tidur kembali dan melewatkan Subuh.

Jika sahur dianjurkan di akhir waktu, maka berbuka justru disegerakan. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dan Imam al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

Menyegerakan berbuka bukan berarti tergesa-gesa sebelum waktunya, melainkan segera membatalkan puasa saat Maghrib tiba tanpa menunda. Anas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah sebelum salat. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering. Bila tak tersedia, cukup dengan beberapa teguk air.

Baca Juga :  Tarawih Berhadiah Sepeda hingga Mesin Cuci, Masjid di Gresik Mendadak Dipenuhi Jamaah Tiap Malam

Kebiasaan ini menunjukkan kesederhanaan dan keseimbangan. Kurma serta air menjadi pilihan utama, bukan hidangan berlebihan. Selain mengikuti sunnah, cara tersebut juga baik bagi kesehatan karena tubuh menerima asupan ringan setelah seharian berpuasa.

Electronic money exchangers listing

Menghidupkan sunnah mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka bukan sekadar tradisi. Di dalamnya terdapat nilai disiplin, kesiapan ibadah, serta keberkahan yang dijanjikan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga meneladani Rasulullah SAW dalam detail-detail kecil yang kerap terlewat. Dari situlah, kesempurnaan ibadah perlahan terwujud. (ida/fir/jpg)

KESEMPURNAAN ibadah tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan kewajiban, tetapi juga sejauh mana sunnah-sunnahnya dihidupkan. Dalam puasa Ramadan, terdapat dua amalan yang kerap dianggap sederhana, padahal sarat makna dan keberkahan: mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Teladan ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah sahur bersama Zaid bin Tsabit. Usai makan sahur, beliau langsung bersiap menunaikan salat. Ketika ditanya jarak antara sahur dan salat Subuh, Anas menjawab, “Kira-kira waktu membaca lima puluh ayat.”

Ulama besar Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab syarahnya menjelaskan bahwa salat yang dimaksud adalah Subuh. Artinya, jarak antara selesai sahur dan azan Subuh sangat dekat, diperkirakan sekitar 10 menit.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Kapan Idulfitri 2024? Simak Penjelasan Versi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah

Di sinilah letak hikmahnya. Mengakhirkan sahur membuat seseorang lebih siap menyambut Subuh tanpa kembali terlelap. Dengan begitu, peluang menunaikan salat di awal waktu, bahkan berjamaah, semakin besar. Sebaliknya, sahur terlalu dini berisiko membuat seseorang tidur kembali dan melewatkan Subuh.

Jika sahur dianjurkan di akhir waktu, maka berbuka justru disegerakan. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dan Imam al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

Menyegerakan berbuka bukan berarti tergesa-gesa sebelum waktunya, melainkan segera membatalkan puasa saat Maghrib tiba tanpa menunda. Anas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah sebelum salat. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering. Bila tak tersedia, cukup dengan beberapa teguk air.

Baca Juga :  Tarawih Berhadiah Sepeda hingga Mesin Cuci, Masjid di Gresik Mendadak Dipenuhi Jamaah Tiap Malam

Kebiasaan ini menunjukkan kesederhanaan dan keseimbangan. Kurma serta air menjadi pilihan utama, bukan hidangan berlebihan. Selain mengikuti sunnah, cara tersebut juga baik bagi kesehatan karena tubuh menerima asupan ringan setelah seharian berpuasa.

Menghidupkan sunnah mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka bukan sekadar tradisi. Di dalamnya terdapat nilai disiplin, kesiapan ibadah, serta keberkahan yang dijanjikan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga meneladani Rasulullah SAW dalam detail-detail kecil yang kerap terlewat. Dari situlah, kesempurnaan ibadah perlahan terwujud. (ida/fir/jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru