PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Jarum jam baru saja menunjuk pukul 02.00 WIB dini hari. Setiap hari selama Ramadan, saat sebagian besar warga Kota Palangka Raya masih terlelap dalam balutan dinginnya malam, denyut kehidupan justru baru mulai terasa hangat di sebuah sudut kota. Kepulan asap dari makanan yang baru matang menyapa siapa saja yang singgah di Jalan Let. Jend Suprapto.
Di tempat inilah, Relawan Berbagi Rezeki Palangka Raya (REL BRP) menggelar lapak sahur gratisnya. Tidak ada sekat atau meja mewah, yang ada hanyalah kebersamaan warga, musafir, hingga para pekerja malam yang sedang singgah untuk mengisi perut sebelum waktu imsak tiba.
Kisah sahur gratis ini bukanlah cerita baru. Tahun ini menandai tahun ketujuh komunitas REL BRP konsisten menemani malam-malam Ramadan warga Palangka Raya.
Langkah ini bermula dari sebuah pengamatan sederhana di lapangan. Selama bulan puasa, membagikan takjil atau makanan berbuka adalah pemandangan yang biasa. Namun, bagaimana dengan mereka yang harus sahur di jalanan?
“Kalau untuk berbuka puasa kan sudah banyak di mana-mana. Nah, sahur yang belum ada. Makanya kami mengambil terobosan di Palangka Raya ini untuk mengadakan kegiatan makan sahur gratis,” ungkap ahmad hairudin selaku ketua pantia, Kamis (26/2/26).
Bagi Rangga Aditya Triwardana (21), seorang pengemudi ojek online (ojol), keberadaan tenda sahur gratis ini lebih dari sekadar pengisi perut. Dengan adanya lapak REL BRP sebagai tempat singgah andalannya di sela-sela mencari penumpang hingga dini hari.
“Bagi kami para driver ojol di Palangka Raya, adanya sahur gratis ini pastinya sangat membantu,” tutur Rangga dengan raut wajah bersyukur.
“Bukan cuma soal makanannya, tapi dengan sahur di sini kami bisa merasakan kebersamaan dalam melaksanakan ibadah puasa,” katanya.
Rangga tidak sendirian. Setiap malamnya, sekitar 300 porsi makanan ludes dinikmati oleh warga, musafir, hingga rekan-rekan sesama ojol. Jumlah ini bahkan kerap melonjak kala malam akhir pekan tiba.
Ada satu aturan unik namun tegas yang diterapkan panitia: makanan pantang dibungkus bawa pulang. Semua hidangan harus dinikmati di tempat.
Bukan tanpa alasan, aturan ini dibuat untuk memastikan makanan benar-benar dikonsumsi oleh mereka yang sedang berada di jalan dan tidak memiliki akses untuk memasak sahur. “Kalau dibawa ke rumah kan beda lagi ceritanya,” jelas ahmad.
Selain itu, aturan ini secara tidak langsung menciptakan ruang interaksi sosial antarwarga yang mungkin tidak saling kenal sebelumnya.
Tepat pukul 03.00 dini hari, seluruh porsi makanan biasanya sudah ludes tak bersisa.
Konsistensi selama tujuh tahun tentu bukan hal yang mudah. Hebatnya, gerakan ini murni digerakkan oleh urunan swadaya masyarakat. Siapa pun boleh menyumbang, dan siapa pun boleh mengisi pos donasi.
Selain donatur anonim dan warga sekitar, gerakan ini juga mendapat tempat di hati para tokoh daerah. Anggota DPR RI Muhammad Syauqi dan Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin tercatat rutin memberikan dukungan pada kegiatan ini dari tahun ke tahun.
Bahkan ketika Ramadan usai, semangat berbagi REL BRP tidak ikut redup. Di luar bulan puasa, mereka tetap rutin membagikan nasi gratis setiap harinya untuk warga yang membutuhkan.
Di bawah langit malam Palangka Raya, sepiring nasi sahur gratis ini membuktikan bahwa kepedulian bisa diwujudkan dari hal yang paling sederhana. Ia mengenyangkan perut yang lapar, sekaligus menghangatkan hati mereka yang berjuang di dinginnya malam.
REL BRP juga membuka donasi bagi yang ingin menyalurkan sedikit rezeki untuk membantu kegiatan sahur ini, dengan Nomor Rekening : 1566061304 BANK BNI, Atas Nama : Relawan Berbagi Rezeki Palangka Raya. (her)


