SAJIAN berupa aneka kembang tertata di sebuah meja persegi panjang yang berhias empat lilin dan cawan sebagai pelengkap. Di atasnya terdapat seekor buaya yang tinggal kerangka menganga dengan ekor menjuntai sepanjang 6 meter.
Di seberangnya ada tengkorak buaya yang diletakkan di depan kursi kosong.
”Itu karya interaktif. Pengunjung bisa memakai tengkorak buaya,” ungkap Bambang ”Toko” Witjaksono, kurator pameran Manusia Sungai yang digelar di Nadi Gallery.

Seni instalasi bertajuk Magical Crocodile itu merupakan satu di antara puluhan karya yang dipajang dalam pameran tunggal seniman muda Rizka Azizah Hayati.
Buaya memang menjadi salah satu tagline yang kuat dalam pemeran tunggal Rizka. Seperti karya Rumahku, Rumahmu, Rumah Kita di Dalam Rumah-Rumah yang menampilkan tengkorak buaya dengan tubuh berupa belulang ular. Meliuk-liuk di antara tiang-tiang kayu konstruksi rumah panggung. Uniknya, kayu yang dipilih telah lapuk dan berserbuk.
Buaya tersaji tak hanya dalam bentuk instalasi, tapi juga tergores di atas kanvas. Misalnya, karya berjudul Hilangnya Kartamina, Croco 1, dan Croco 2. ”Rizka seperti ingin mengangkat sejarahnya sendiri. Sebagai orang Banjar Melayu dan Sungai Martapura,” terang Bambang.
Rizka mengungkapkan bahwa perjalanan mengulas tema manusia sungai berawal dari pencarian jati diri. Khususnya mengenai buaya yang dulu disakralkan masyarakat Dayak dan Banjar. Misalnya, legenda Datu Kartamina yang merupakan buaya kuning yang memiliki kesaktian dan dipercaya menjadi leluhur orang Banjar.
Namun, pandangan itu mulai berubah ketika kolonialisme datang. Kulit buaya diperdagangkan dan hewan reptil tersebut dianggap menjadi musuh. ”Karena ada korban serangan buaya semisal,” kata perempuan kelahiran Bawahan Pasar, Banjar, Kalimantan Selatan, itu.
Dia pun ingin mengangkat kembali kisah buaya sebagai penjaga sungai. Sekaligus menjadikannya penjaga ekosistem sebagai puncak rantai makanan di wilayah sungai.
Rizka juga menampilkan pameran tunggalnya secara otentik. Yakni, lewat pemakaian bahan-bahan dari kampungnya di Banjar, Kalimantan Selatan. ”Kain warna kuning itu, kain penutup nisan keramat,” kata perempuan kelahiran 1996 tersebut.
Semula Rizka takut pamali ketika menggunakan kain kuning itu sebagai bagian dari karya seni. Namun, Rizka memberanikan diri setelah mendapat izin dari tetua adat. Termasuk menggunakan mukena dan kelambu bekas sang nenek untuk dibentuk menjadi rupa Magical Crocodile. Bahan untuk tiang kayu yang disulap menjadi fondasi rumah panggung juga diboyong langsung dari kampung.
Rizka mengakui sengaja mencampurkan budaya Barat dan Timur pada karya di pameran tunggal tersebut. Dia ingin menyeimbangkan dua pengaruh itu. Rizka ingin terwujud keseimbangan tanpa dominasi dengan tetap memiliki akar sejarah. (elo/c7/kkn/jpg)