Kisah Inspiratif Yunisa Nasella Evansa, Mahasiswi Berprestasi UMPR Peraih Gelar Nyai Kalteng 2026

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO —  Bagi Yunisa Nasella Evansa, menjadi mahasiswa bukan berarti hanya berkutat dengan tugas dan ruang perkuliahan.

Di sela kesibukannya sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), perempuan yang akrab disapa Asel ini juga menjalani berbagai aktivitas yang membuat hari-harinya terus bergerak.

Menulis, membuat konten, terlibat dalam kegiatan kebudayaan hingga memperkenalkan potensi pariwisata daerah, menjadi bagian dari kesehariannya.

Ia juga menjalani aktivitas sebagai jurnalis lepas, dan kini dipercaya menyandang gelar Jagau Bawi Nyai Kalimantan Tengah atau Nyai Kalteng 2026.

Namun. Perjalanan tersebut tidak datang begitu saja. Lahir di Banjarmasin dan besar di Kalimantan Tengah, Asel dikenal memiliki ketertarikan untuk mencoba berbagai hal baru.

Baginya, setiap pengalaman merupakan kesempatan untuk belajar dan berkembang. “Buat aku pribadi, hidup itu harus terus belajar dan nggak boleh gampang puas atau ngebatasin diri buat berkembang,” ujarnya.

Ketertarikannya untuk terus mencoba kemudian mulai ia wujudkan sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Asel tidak ingin pengetahuan yang diperoleh hanya berhenti di ruang kelas.

Electronic money exchangers listing

Ia mulai mengikuti berbagai ajang, organisasi dan proyek sosial. Dari sana, ia tidak hanya mendapatkan pengalaman baru, tetapi juga belajar membangun keberanian, melatih mental serta memperluas jejaring.

Selama menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMPR angkatan 2023, Asel juga melihat kampus sebagai ruang untuk mempraktikkan apa yang dipelajari.

Baca Juga :  Sri Wahyuni, Polwan Polda Kalteng yang Otodidak Jago MC

Interaksi dengan berbagai orang dan keterlibatannya dalam aktivitas akademik maupun sosial turut membentuk cara berpikirnya.

Kesibukannya kemudian semakin beragam. Selain kuliah, ia menjalani aktivitas sebagai jurnalis lepas dan content creator. Ia juga terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata dan kebudayaan daerah.

Di tengah berbagai kesibukan tersebut, manajemen waktu menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan. Asel terbiasa menentukan prioritas dan berusaha menyelesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke pekerjaan lainnya.

Tugas kuliah, deadline liputan hingga persiapan kegiatan harus diatur agar dapat berjalan beriringan.

“Namanya capek pasti ada, tapi kalau dijalanin dengan niat baik dan ikhlas, semuanya puji Tuhan bisa ke-handle dengan baik,” katanya.

Di balik sosoknya yang aktif, ada pengalaman hidup yang turut membentuk cara Asel menjalani berbagai peran tersebut. Kehilangan sang ibunda menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya.

Ditambah pengalaman beradaptasi dengan dunia kerja dan kehidupan publik, pengalaman tersebut mengajarkannya untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri.

Dari sana, ia belajar untuk tidak mudah bergantung pada keadaan dan berusaha berdiri di atas kaki sendiri dalam berbagai situasi.

Perjalanan panjang itu kemudian membawanya pada salah satu pencapaian terbarunya, yakni menjadi Jagau Bawi Nyai Kalimantan Tengah 2026.

Baca Juga :  Sup Filet Ikan Patin

Untuk sampai pada tahap tersebut, Asel harus melalui berbagai proses, mulai dari latihan, mempersiapkan mental hingga memperdalam pengetahuan mengenai budaya daerah.

Ia membawa nama Gunung Mas dalam ajang tersebut. Baginya, gelar yang diraih bukan sekadar mahkota, melainkan sebuah tanggung jawab.

“Pencapaian ini bukan cuma soal pakai mahkota, tapi bentuk tanggung jawab besar buat jadi inspirasi dan penggerak bagi anak muda supaya makin cinta sama budaya sendiri,” tuturnya.

Kini, setelah melewati berbagai pengalaman selama menjadi mahasiswa, Asel masih memiliki perjalanan panjang yang ingin ditempuh. Ia ingin terus berkembang hingga ke tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu impiannya adalah melanjutkan studi melalui program pertukaran pelajar ke luar negeri setelah memiliki fondasi karier dan pengalaman yang lebih matang.

Bagi Asel, kesempatan untuk berkembang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Terkadang, keberanian untuk mencoba menjadi langkah pertama yang menentukan perjalanan berikutnya.

“Jangan pernah takut buat ngambil kesempatan pertama yang datang di depan mata. Gagal itu wajar, tapi diam di tempat cuma karena ragu bakal bikin kita rugi sendiri,” pesannya.

Ia percaya, proses tidak harus selalu berjalan sempurna. Yang terpenting adalah tetap menikmati perjalanan, konsisten dengan tujuan, dan membiarkan karya serta kerja keras berbicara melalui hasilnya. (Mg4)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO —  Bagi Yunisa Nasella Evansa, menjadi mahasiswa bukan berarti hanya berkutat dengan tugas dan ruang perkuliahan.

Di sela kesibukannya sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), perempuan yang akrab disapa Asel ini juga menjalani berbagai aktivitas yang membuat hari-harinya terus bergerak.

Menulis, membuat konten, terlibat dalam kegiatan kebudayaan hingga memperkenalkan potensi pariwisata daerah, menjadi bagian dari kesehariannya.

Electronic money exchangers listing

Ia juga menjalani aktivitas sebagai jurnalis lepas, dan kini dipercaya menyandang gelar Jagau Bawi Nyai Kalimantan Tengah atau Nyai Kalteng 2026.

Namun. Perjalanan tersebut tidak datang begitu saja. Lahir di Banjarmasin dan besar di Kalimantan Tengah, Asel dikenal memiliki ketertarikan untuk mencoba berbagai hal baru.

Baginya, setiap pengalaman merupakan kesempatan untuk belajar dan berkembang. “Buat aku pribadi, hidup itu harus terus belajar dan nggak boleh gampang puas atau ngebatasin diri buat berkembang,” ujarnya.

Ketertarikannya untuk terus mencoba kemudian mulai ia wujudkan sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Asel tidak ingin pengetahuan yang diperoleh hanya berhenti di ruang kelas.

Ia mulai mengikuti berbagai ajang, organisasi dan proyek sosial. Dari sana, ia tidak hanya mendapatkan pengalaman baru, tetapi juga belajar membangun keberanian, melatih mental serta memperluas jejaring.

Selama menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMPR angkatan 2023, Asel juga melihat kampus sebagai ruang untuk mempraktikkan apa yang dipelajari.

Baca Juga :  Sri Wahyuni, Polwan Polda Kalteng yang Otodidak Jago MC

Interaksi dengan berbagai orang dan keterlibatannya dalam aktivitas akademik maupun sosial turut membentuk cara berpikirnya.

Kesibukannya kemudian semakin beragam. Selain kuliah, ia menjalani aktivitas sebagai jurnalis lepas dan content creator. Ia juga terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata dan kebudayaan daerah.

Di tengah berbagai kesibukan tersebut, manajemen waktu menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan. Asel terbiasa menentukan prioritas dan berusaha menyelesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke pekerjaan lainnya.

Tugas kuliah, deadline liputan hingga persiapan kegiatan harus diatur agar dapat berjalan beriringan.

“Namanya capek pasti ada, tapi kalau dijalanin dengan niat baik dan ikhlas, semuanya puji Tuhan bisa ke-handle dengan baik,” katanya.

Di balik sosoknya yang aktif, ada pengalaman hidup yang turut membentuk cara Asel menjalani berbagai peran tersebut. Kehilangan sang ibunda menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya.

Ditambah pengalaman beradaptasi dengan dunia kerja dan kehidupan publik, pengalaman tersebut mengajarkannya untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri.

Dari sana, ia belajar untuk tidak mudah bergantung pada keadaan dan berusaha berdiri di atas kaki sendiri dalam berbagai situasi.

Perjalanan panjang itu kemudian membawanya pada salah satu pencapaian terbarunya, yakni menjadi Jagau Bawi Nyai Kalimantan Tengah 2026.

Baca Juga :  Sup Filet Ikan Patin

Untuk sampai pada tahap tersebut, Asel harus melalui berbagai proses, mulai dari latihan, mempersiapkan mental hingga memperdalam pengetahuan mengenai budaya daerah.

Ia membawa nama Gunung Mas dalam ajang tersebut. Baginya, gelar yang diraih bukan sekadar mahkota, melainkan sebuah tanggung jawab.

“Pencapaian ini bukan cuma soal pakai mahkota, tapi bentuk tanggung jawab besar buat jadi inspirasi dan penggerak bagi anak muda supaya makin cinta sama budaya sendiri,” tuturnya.

Kini, setelah melewati berbagai pengalaman selama menjadi mahasiswa, Asel masih memiliki perjalanan panjang yang ingin ditempuh. Ia ingin terus berkembang hingga ke tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu impiannya adalah melanjutkan studi melalui program pertukaran pelajar ke luar negeri setelah memiliki fondasi karier dan pengalaman yang lebih matang.

Bagi Asel, kesempatan untuk berkembang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Terkadang, keberanian untuk mencoba menjadi langkah pertama yang menentukan perjalanan berikutnya.

“Jangan pernah takut buat ngambil kesempatan pertama yang datang di depan mata. Gagal itu wajar, tapi diam di tempat cuma karena ragu bakal bikin kita rugi sendiri,” pesannya.

Ia percaya, proses tidak harus selalu berjalan sempurna. Yang terpenting adalah tetap menikmati perjalanan, konsisten dengan tujuan, dan membiarkan karya serta kerja keras berbicara melalui hasilnya. (Mg4)

Terpopuler

Artikel Terbaru