PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kota Palangka Raya pada Selasa (8/9/2026) belum mampu menurunkan kualitas udara secara signifikan.
Hujan yang turun secara sporadis, ringan, dan berdurasi singkat membuat konsentrasi partikulat PM2.5 di sejumlah wilayah masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra Mukti, mengatakan berdasarkan data alat pemantau PM2.5, kondisi kualitas udara pada Rabu pagi masih berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya.
“Berdasarkan data dari alat PM2.5 yang mengukur partikel di udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer), pada 9 September 2026 antara pukul 06.00 WIB sampai 09.00 WIB dalam kategori tidak sehat sampai bahaya,” ujar Chandra Mukti pada Rabu (9/9).
Menurutnya, hujan yang turun dengan intensitas ringan, durasi singkat, serta tidak merata umumnya belum cukup untuk menurunkan konsentrasi partikulat di udara secara signifikan.
Meski demikian, hujan tetap dapat memberikan pengaruh terhadap konsentrasi PM2.5, meskipun penurunannya hanya bersifat sementara.
“Hujan yang cenderung ringan dengan durasi waktu yang singkat serta tidak merata umumnya belum cukup signifikan menurunkan, akan tetapi dapat menurunkan nilai PM2.5 sesaat,” jelasnya.
Selain hujan, arah dan kecepatan angin juga turut memengaruhi kondisi kualitas udara di Palangka Raya. Chandra menyebut, pada pukul 10.52 WIB, angin terpantau bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 14 kilometer per jam.
Kondisi angin tersebut dapat memengaruhi pergerakan asap, terlebih masih terdapat sejumlah titik kebakaran atau firespot di wilayah sekitar Palangka Raya.
“Karena saat ini banyak terdapat kebakaran/firespot titik api seperti di wilayah Pulpis, Sebangau Kuala, Kalampangan dan sekitarnya,” ungkapnya.
Chandra menambahkan, kondisi kualitas udara saat ini tidak hanya dipengaruhi asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Palangka Raya. Asap kiriman dari wilayah lain yang masih mengalami kebakaran juga turut memengaruhi kondisi udara.
“Ya benar, dari asap karhutla dan kiriman asap dari wilayah lainnya yang saat ini masih terjadi kebakaran/berasap,” pungkasnya.
Dengan kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya di sejumlah wilayah, masyarakat diimbau tetap mewaspadai paparan asap dan partikulat, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. (jef)


