PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dua nama dari internal Partai Golkar, yakni Subandi yang saat ini menjabat Ketua DPRD Kota Palangka Raya dan Sudarto selaku Anggota Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, disebut sebagai kandidat kuat dalam bursa pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Kota Palangka Raya. Meski demikian, Sekretaris DPD Partai Golkar Kalimantan Tengah, Fairid Naparin, menegaskan seluruh kader memiliki peluang yang sama untuk maju.
Menurut Fairid, penentuan Ketua DPD Partai Golkar Kota Palangka Raya akan sangat bergantung pada dinamika politik serta penilaian terhadap figur yang dinilai paling tepat memimpin partai di tingkat kota.
“Semua kader berpeluang. Siapa pun itu nanti kita lihat siapa yang terbaik. Ada yang senior, ada yang muda, jadi semua memiliki kesempatan yang sama. Namun dalam politik tentu ada dinamika,” ujar Fairid, Rabu (1/7/2026).
Ia menegaskan, dinamika politik di internal partai dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan yang terjadi.
“Iya, dinamika politik itu berubah-ubah setiap saat,” katanya.
Menanggapi mencuatnya nama Subandi dan Sudarto sebagai kandidat kuat, Fairid memastikan dirinya tidak berpihak kepada figur tertentu. Menurutnya, masih banyak kader lain yang memiliki kapasitas untuk memimpin Partai Golkar Kota Palangka Raya.
“Tidak ada. Sebenarnya calon yang muncul cukup banyak, tidak hanya dua orang saja. Semua dekat dengan saya, semua saya kenal, jadi saya tidak berpihak kepada siapa pun,” ucapnya.
Fairid menambahkan, hal terpenting dalam proses pemilihan nanti adalah memilih sosok yang paling berpeluang dan mampu menjaga nama baik Partai Golkar di Kota Palangka Raya. Ia juga menyinggung capaian partai pada pemilu sebelumnya yang berhasil meraih suara legislatif cukup besar.
“Yang lebih penting adalah siapa yang paling berpeluang dan paling pantas. Yang utama bagaimana menjaga nama baik partai di Kota Palangka Raya. Alhamdulillah kemarin Golkar meraih suara legislatif cukup besar,” jelasnya.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi tolok ukur bagi kepengurusan berikutnya agar perolehan suara maupun kursi legislatif tidak mengalami penurunan.
“Tentu itu menjadi tolak ukur ke depan. Jangan sampai suara atau kursi justru menurun, itu yang tidak kita inginkan,” tambahnya.
Selain itu, Fairid menilai regenerasi kader menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kepemimpinan partai di daerah. Sebagai pengurus di tingkat provinsi, ia mengaku memiliki tanggung jawab memastikan proses estafet kepemimpinan berjalan dengan baik.
“Saya sudah di provinsi, jadi ketika meninggalkan posisi di kota, itu juga menjadi tanggung jawab saya, termasuk regenerasi. Saya tidak ingin estafet kepemimpinan nanti justru menurun. Paling tidak harus bisa mempertahankan. Kalau turun, berarti regenerasi yang dilakukan tidak berjalan dengan baik,” pungkasnya. (adr)


