BUNTOK, PROKALTENG.CO – Kenaikan harga sejumlah komoditas bahan pokok, khususnya gula, menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, lonjakan harga gula terjadi sejak menjelang Ramadan, dengan kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Barito Selatan–Barito Timur, Fariz Jaya, menyatakan kesiapan Bulog dalam menyerap gabah, beras, dan jagung hasil panen petani sepanjang tahun 2026.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan pangan pemerintah.
Menurut Fariz, Bulog memastikan seluruh komoditas yang diserap tidak dibeli di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Untuk tahun 2026, Perum Bulog, khususnya di wilayah Barito Selatan dan Barito Timur.
” Bulog siap melakukan penyerapan gabah, beras, dan jagung dari petani. Harapan kami, harga komoditas tersebut tidak berada di bawah HPP,” ujar Fariz, Rabu (21/1).
Fariz menambahkan bahwa pada awal tahun 2026 Bulog juga masih melaksanakan penugasan lanjutan dari tahun 2025, yaitu penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di seluruh saluran distribusi.
Program ini merupakan upaya pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga beras bagi masyarakat.
Meski demikian, kondisi distribusi bahan pokok secara umum masih terpantau aman. Untuk komoditas beras, stok dipastikan mencukupi dan relatif stabil.
Saat ini, ketersediaan beras di Gudang Bulog tercatat sekitar 700 ton dari cadangan pemerintah, dengan tambahan pasokan yang akan meningkatkan total stok menjadi sekitar 786 ton yang baru saja datang Jatim.
“Kami memastikan distribusi beras masih aman dan stok mencukupi untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Barsel, dan sekarang baru saja tiba sekitar 700 ton beras ke Gudang Bulog, ” jelas Fariz.
Sementara itu, menurutnya pengaruh kenaikan bahan bakar minyak (BBM), khususnya non-subsidi, dinilai tidak terlalu signifikan terhadap distribusi bahan pokok di daerah. Hal ini karena sebagian besar distribusi masih memanfaatkan BBM bersubsidi.
“Meski situasi secara umum masih terkendali, kekhawatiran terkait potensi manipulasi harga di pasar tetap menjadi perhatian. Oleh karena itu, pemantauan secara berkala terhadap fluktuasi harga dan distribusi komoditas dinilai penting untuk menjaga stabilitas serta melindungi daya beli masyarakat,” tuturnya. (ena/kpg)


