PROKALTENG.CO-Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah menyeret kawasan Timur Tengah ke ambang krisis hebat.
Ketegangan yang memuncak sejak Sabtu (28/2/2026) ini tidak hanya mengguncang stabilitas politik, tetapi juga melumpuhkan jalur transportasi udara global.
Sedikitnya tujuh negara memutuskan untuk menutup wilayah udara mereka, memicu pembatalan massal lebih dari 1.800 jadwal penerbangan.
Kepulan asap di langit Teheran yang diikuti hujan rudal ke sejumlah titik strategis di wilayah Teluk menandai babak baru konfrontasi ini.
Laporan lapangan menyebutkan satu orang tewas akibat serangan tersebut, sementara pemandangan jet tempur dan proyektil yang melintas menjadi teror baru bagi warga sipil di sekitar kawasan kaya minyak tersebut.
Blokade Langit di Tujuh Negara
Menanggapi situasi keamanan yang tidak menentu, otoritas penerbangan di tujuh negara mengambil langkah drastis dengan menutup ruang udara mereka, baik secara total maupun parsial.
Iran dan Israel: Kedua negara utama yang berkonflik langsung menutup wilayah udara bagi penerbangan sipil hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Irak, Suriah, Kuwait: Negara-negara tetangga ini turut menghentikan aktivitas di langit mereka demi menghindari risiko salah sasaran atau dampak pertempuran udara.
Qatar, UEA: Meskipun hanya bersifat “sebagian dan sementara”, penutupan ini berdampak sistemik mengingat keduanya adalah hub (penghubung) penerbangan internasional.
Yordania: Meski belum secara resmi menutup wilayah udara, Angkatan Udara Yordania dilaporkan telah bersiaga penuh untuk memproteksi kedaulatan langit mereka.
Kekacauan Jadwal Maskapai Dunia
Dampak dari “penguncian” langit ini sangat masif. Berdasarkan data analisis penerbangan Cirium, pada Sabtu (28/2), sekitar 22,9 persen atau 966 dari 4.218 penerbangan yang menuju Timur Tengah terpaksa dibatalkan. Angka ini membengkak hingga melampaui 1.800 penerbangan jika menyertakan rute keberangkatan.
Kondisi tidak membaik pada Minggu (1/3). Sebanyak 716 jadwal penerbangan lainnya menyusul dibatalkan. Secara global, FlightAware mencatat efek domino konflik ini telah menyebabkan lebih dari 19.000 penerbangan tertunda dan 2.600 lainnya batal total.
Sejumlah maskapai raksasa pun mengambil langkah pengamanan:
Emirates dan Etihad: Membatalkan masing-masing 38 dan 30 persen jadwal operasional mereka.
Qatar Airways: Menghentikan sementara seluruh operasional dari Doha (41 persen rute terdampak).
Lufthansa Group dan Swiss Air: Menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv, Beirut, hingga Dubai setidaknya hingga 7 Maret mendatang.
Air India dan Turkish Airlines: Menangguhkan rute ke hampir seluruh destinasi di Timur Tengah, termasuk Lebanon dan Yordania.
Garuda Indonesia: Maskapai nasional RI ini juga mengonfirmasi penangguhan rute ke Doha mulai Minggu (1/3) hingga pemberitahuan lebih lanjut demi alasan keselamatan.
Konflik yang kian meruncing ini diperkirakan akan terus menekan industri penerbangan global jika solusi diplomasi tidak segera tercapai.
Para calon penumpang diimbau untuk terus memantau pembaruan jadwal dari maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.(jpg)


