PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MB-AHK) Pusat Palangka Raya, Walter S. Penyang, menjelaskan ritual pakanan sahur lewu dan mapas lewu merupakan rangkaian ibadah agama Hindu Kaharingan yang dilaksanakan melalui prosesi balian dan doa kepada para leluhur.
Menurut Walter ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada leluhur, agar senantiasa menjaga masyarakat dan wilayah Kota Palangka Raya dari berbagai mara bahaya.
“Dalam ritual pakanan sahur lewu dan mapas lewu ini, kita melaksanakan balian dan setiap tahun berdoa. Meminta kepada para leluhur kita untuk menjaga kita, menjaga kota ini, dan menjaga seluruh masyarakat yang ada di dalamnya,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Dia menambahkan, doa-doa yang dipanjatkan juga bertujuan agar masyarakat diberikan kesehatan serta dijauhkan dari hal-hal yang dapat membahayakan kehidupan.
“Kita berdoa agar pada tahun ini kita diberikan kesehatan, dihindarkan dari segala mara bahaya, karena itu yang kita yakini dan percayai,” katanya.
Selain keselamatan, ritual tersebut juga dimaknai sebagai permohonan kesejahteraan hidup. Baik secara lahir maupun batin.
“Kita juga berdoa agar diberikan kesejahteraan hidup. Baik lahir maupun mati, termasuk dalam menjalankan aktivitas dan kegiatan ekonomi agar bisa meningkat dan masyarakat menjadi sejahtera,” tuturnya.
Dikatakannya lagi, bahwa ritual pakanan sahur dan mapas lewu secara konsisten dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari perjalanan spiritual umat Hindu Kaharingan.
“Itu selalu kita lakukan setiap tahun, karena ini adalah bagian dari perjalanan ritual agama Hindu Kaharingan,” jelasnya.
Pada pelaksanaan tahun ini, Walter mengatakan pihaknya juga memanjatkan doa agar ritual serupa dapat kembali dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.
“Tahun ini kami juga berdoa agar tahun depan kita bisa melaksanakan lagi, dengan harapan diberikan umur panjang dan kita bisa bertemu kembali pada tahun berikutnya,” pungkasnya. (*adr)


