PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anggota Komisi DPRD Kalteng Daerah Pemilihan (Dapil) IV Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara dan Murung Raya Purdiono menyoroti minimnya layanan dasar di sejumlah wilayah di Kabupaten Barito Selatan.
Dalam agenda reses terbarunya, ia menemukan masih banyak desa yang belum menikmati layanan listrik 24 jam serta akses sinyal telekomunikasi yang tidak stabil.
Purdiono mengungkapkan, desa Ranggailung, Mengkatip, dan Baru Selatan hingga kini hanya merasakan aliran listrik pada malam hari.
“Belum bisa menikmati listrik 24 jam. Itu ironis jika dibandingkan dengan besarnya perputaran sumber daya alam di sana,” ujarnya, dilansir dari Kalteng Pos, Senin (17/11).
Politisi Partai Golkar ini menegaskan, ketimpangan layanan tersebut tidak sebanding dengan tingginya aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam di wilayah Barsel. Kondisi itu disebut menghambat komunikasi masyarakat, pelayanan publik, kegiatan pendidikan, hingga penanganan keadaan darurat.
Menurutnya, sinyal sering hilang karena perangkat BTS di desa-desa tersebut sangat bergantung pada pasokan listrik. Ketika listrik padam, seluruh akses komunikasi ikut lumpuh.
“Kalau listriknya mati, dari mana jaringan telekomunikasi bisa berjalan? Semuanya bergantung pada listrik,” tegasnya. (*afa/kpg)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Anggota Komisi DPRD Kalteng Daerah Pemilihan (Dapil) IV Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara dan Murung Raya Purdiono menyoroti minimnya layanan dasar di sejumlah wilayah di Kabupaten Barito Selatan.
Dalam agenda reses terbarunya, ia menemukan masih banyak desa yang belum menikmati layanan listrik 24 jam serta akses sinyal telekomunikasi yang tidak stabil.
Purdiono mengungkapkan, desa Ranggailung, Mengkatip, dan Baru Selatan hingga kini hanya merasakan aliran listrik pada malam hari.
“Belum bisa menikmati listrik 24 jam. Itu ironis jika dibandingkan dengan besarnya perputaran sumber daya alam di sana,” ujarnya, dilansir dari Kalteng Pos, Senin (17/11).
Politisi Partai Golkar ini menegaskan, ketimpangan layanan tersebut tidak sebanding dengan tingginya aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam di wilayah Barsel. Kondisi itu disebut menghambat komunikasi masyarakat, pelayanan publik, kegiatan pendidikan, hingga penanganan keadaan darurat.
Menurutnya, sinyal sering hilang karena perangkat BTS di desa-desa tersebut sangat bergantung pada pasokan listrik. Ketika listrik padam, seluruh akses komunikasi ikut lumpuh.
“Kalau listriknya mati, dari mana jaringan telekomunikasi bisa berjalan? Semuanya bergantung pada listrik,” tegasnya. (*afa/kpg)