PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Harga cabai rawit di Kalimantan Tengah melonjak hingga Rp140 ribu per kg, berdasarkan survei di Pasar Kahayan. Mengantisipasi lonjakan harga menjelang Ramadan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng menyiapkan strategi pengendalian inflasi dan stabilisasi pasokan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi Kalteng, Fanny Kartika Octavianti, menegaskan pentingnya langkah antisipatif guna mengendalikan harga komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan cabai merah.
“Kami terus memantau dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar harga tetap terkendali,” ujarnya dalam Konferensi Pers Berita Resmi Statistik BPS Kalteng di Ruang Rapat Vicon, Senin (3/3).
Menurutnya, lonjakan harga cabai rawit dan cabai merah kerap terjadi akibat faktor cuaca dan distribusi. Oleh karena itu, pemantauan pasar serta intervensi dari pemerintah diperlukan guna menjaga stabilitas harga, terutama menjelang Ramadan yang identik dengan peningkatan permintaan.
Fanny juga mengungkapkan bahwa meskipun Kalteng mengalami deflasi pada Februari 2025, Pemprov tetap mewaspadai kenaikan harga komoditas lain, termasuk daging ayam ras.
“Kami sudah melakukan sidak ke pasar dan memastikan harga bahan pokok masih relatif stabil, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa Kalteng mengalami deflasi 0,46 persen secara month-to-month (m-to-m), sedangkan secara year-on-year (y-on-y) tercatat inflasi 0,28 persen.
“Komoditas yang berkontribusi terhadap deflasi antara lain tarif listrik, daging ayam ras, bawang merah, serta cabai rawit dan tomat,” jelasnya.
Meski demikian, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, seperti emas perhiasan, kangkung, sigaret kretek mesin (SKM), beras, dan bensin. Secara spasial, seluruh empat kabupaten/kota IHK di Kalteng mengalami deflasi, dengan Sampit mencatat angka tertinggi, yakni 0,63 persen. (hfz)


