32.8 C
Jakarta
Saturday, March 14, 2026

Densus 88 Datang ke Kotim, 2 Anak Diduga Terindikasi Terpapar Paham Radikal Melalui Game Online

SAMPIT, PROKALTENG.CO– Dampak negatif teknologi ditemukan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Wakil Bupati Kotim, Irawati mengungkapkan bahwa game online kini menjadi salah satu pintu masuk penyebaran paham radikalisme kepada anak-anak.

Setidaknya, ada dua anak di Kotim terindikasi mulai terpapar radikalisme setelah direkrut melalui permainan daring.

Irawati menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari Densus 88 yang secara khusus pernah datang ke Kotim untuk melakukan pemantauan dan pengamanan.

Pola perekrutan dilakukan secara bertahap melalui game online yang sekarang digemari anak-anak.

“Awalnya lewat game online,” katanya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, dalam grup tersebut anak-anak tidak hanya dikenalkan pada kekerasan, tetapi juga ditanamkan kebencian terhadap orang lain, termasuk doktrin radikalisme berbasis agama.

Baca Juga :  Warga Temukan Badan Pesawat, Diduga Bangkai Pesawat Air Asia

“Di dalam grup itu diajarkan kekerasan seperti bagaimana membunuh, bagaimana membenci orang lain. Apalagi kalau anaknya punya latar belakang pernah dibully,” ujarnya.

Electronic money exchangers listing

Irawati menyebut, dua anak yang terindikasi tersebut saat ini masih berada dalam pengawasan ketat aparat dan pemerintah daerah.(mif/ram/kpg)

SAMPIT, PROKALTENG.CO– Dampak negatif teknologi ditemukan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Wakil Bupati Kotim, Irawati mengungkapkan bahwa game online kini menjadi salah satu pintu masuk penyebaran paham radikalisme kepada anak-anak.

Setidaknya, ada dua anak di Kotim terindikasi mulai terpapar radikalisme setelah direkrut melalui permainan daring.

Irawati menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari Densus 88 yang secara khusus pernah datang ke Kotim untuk melakukan pemantauan dan pengamanan.

Electronic money exchangers listing

Pola perekrutan dilakukan secara bertahap melalui game online yang sekarang digemari anak-anak.

“Awalnya lewat game online,” katanya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, dalam grup tersebut anak-anak tidak hanya dikenalkan pada kekerasan, tetapi juga ditanamkan kebencian terhadap orang lain, termasuk doktrin radikalisme berbasis agama.

Baca Juga :  Warga Temukan Badan Pesawat, Diduga Bangkai Pesawat Air Asia

“Di dalam grup itu diajarkan kekerasan seperti bagaimana membunuh, bagaimana membenci orang lain. Apalagi kalau anaknya punya latar belakang pernah dibully,” ujarnya.

Irawati menyebut, dua anak yang terindikasi tersebut saat ini masih berada dalam pengawasan ketat aparat dan pemerintah daerah.(mif/ram/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru