28.6 C
Jakarta
Monday, March 16, 2026

Ukuran Celana Tiba-tiba Naik? Dokter Kemenkes Bilang Itu Bisa Jadi Tanda Obesitas Sentral

PROKALTENG.CO – Jangan anggap sepele jika ukuran celana tiba-tiba bertambah. Kementerian Kesehatan menyebut perubahan ukuran celana bisa menjadi tanda awal obesitas sentral, kondisi penumpukan lemak di perut yang berisiko memicu berbagai penyakit serius.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. mengatakan obesitas sentral tidak selalu terlihat dari angka timbangan. Justru, tanda paling mudah dikenali adalah lingkar perut yang makin besar.

“Kalau kita bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” kata Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas.

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi obesitas sentral di Tanah Air terus meningkat. Angkanya naik dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen pada 2023.

Baca Juga :  Dampak Buruk Orang Tua Perokok bagi Tumbuh Kembang Anak

Indikator obesitas sentral diukur dari lingkar perut, yakni lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Sementara itu, data program Cek Kesehatan Gratis 2025 mencatat sekitar 23,85 persen peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar perut.

Dalam kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Obesitas Sedunia tersebut, Nadia menegaskan obesitas sentral meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hingga stroke.

Electronic money exchangers listing

Menurut dia, banyak orang merasa sehat karena berat badan terlihat normal, padahal lemak yang menumpuk di area perut tetap berbahaya.

“Kadang orang merasa tidak gemuk, tetapi lingkar perutnya sudah melewati batas. Ini yang sering tidak disadari,” ujarnya.

Baca Juga :  Mau Sulam Alis? Ketahui Dulu Hal-hal Ini

Untuk mencegah obesitas sentral, Nadia menyarankan masyarakat rutin memantau lingkar perut dan indeks massa tubuh setidaknya sekali dalam setahun.

Selain itu, pola makan dan aktivitas fisik juga perlu dijaga.

“Perubahan kecil seperti mengurangi gula, garam, dan lemak serta rutin bergerak bisa membantu menurunkan risiko,” katanya.

Ia mengingatkan obesitas tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya terjadi akibat pola makan dan gaya hidup yang berlangsung lama, sehingga deteksi dini dan perubahan perilaku sangat penting dilakukan. (antara)

PROKALTENG.CO – Jangan anggap sepele jika ukuran celana tiba-tiba bertambah. Kementerian Kesehatan menyebut perubahan ukuran celana bisa menjadi tanda awal obesitas sentral, kondisi penumpukan lemak di perut yang berisiko memicu berbagai penyakit serius.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. mengatakan obesitas sentral tidak selalu terlihat dari angka timbangan. Justru, tanda paling mudah dikenali adalah lingkar perut yang makin besar.

“Kalau kita bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” kata Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas.

Electronic money exchangers listing

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi obesitas sentral di Tanah Air terus meningkat. Angkanya naik dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen pada 2023.

Baca Juga :  Dampak Buruk Orang Tua Perokok bagi Tumbuh Kembang Anak

Indikator obesitas sentral diukur dari lingkar perut, yakni lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Sementara itu, data program Cek Kesehatan Gratis 2025 mencatat sekitar 23,85 persen peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar perut.

Dalam kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Obesitas Sedunia tersebut, Nadia menegaskan obesitas sentral meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hingga stroke.

Menurut dia, banyak orang merasa sehat karena berat badan terlihat normal, padahal lemak yang menumpuk di area perut tetap berbahaya.

“Kadang orang merasa tidak gemuk, tetapi lingkar perutnya sudah melewati batas. Ini yang sering tidak disadari,” ujarnya.

Baca Juga :  Mau Sulam Alis? Ketahui Dulu Hal-hal Ini

Untuk mencegah obesitas sentral, Nadia menyarankan masyarakat rutin memantau lingkar perut dan indeks massa tubuh setidaknya sekali dalam setahun.

Selain itu, pola makan dan aktivitas fisik juga perlu dijaga.

“Perubahan kecil seperti mengurangi gula, garam, dan lemak serta rutin bergerak bisa membantu menurunkan risiko,” katanya.

Ia mengingatkan obesitas tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya terjadi akibat pola makan dan gaya hidup yang berlangsung lama, sehingga deteksi dini dan perubahan perilaku sangat penting dilakukan. (antara)

Terpopuler

Artikel Terbaru