27.3 C
Jakarta
Saturday, February 14, 2026

Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Waspadai Hidden Hunger Sejak Dini

PROKALTENG.CO-Anak yang terlihat gemuk, aktif, dan lahap makan kerap dianggap sebagai gambaran anak sehat. Selama berat badannya normal dan tidak tampak sakit, banyak orang tua merasa kebutuhan gizi anak sudah tercukupi. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Di balik kondisi fisik yang tampak sehat, anak bisa saja mengalami hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Kondisi ini terjadi ketika anak kekurangan mikronutrien penting, meski asupan makanan terlihat cukup bahkan berlebih.

Dokter Spesialis Anak dr. Mesty Ariotedjo menjelaskan, hidden hunger kerap luput dari perhatian karena masih kuatnya persepsi bahwa anak gemuk identik dengan anak sehat. Prinsip “yang penting anak mau makan” sering diterapkan tanpa mempertimbangkan kualitas makanan yang dikonsumsi.

“Anak bisa makan banyak, tetapi makanannya rendah vitamin dan mineral. Akhirnya berat badannya normal atau berlebih, tapi kebutuhan mikronutriennya tidak terpenuhi,” ujarnya.

Baca Juga :  Sosok Ayah Dinilai Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

Dalam kondisi hidden hunger, anak kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral yang berperan penting dalam tumbuh kembang. Akibatnya, risiko gangguan perkembangan tetap ada meski secara kasat mata anak tampak sehat.

Dua mikronutrien yang paling sering kurang pada anak adalah vitamin D dan zat besi. Vitamin D berperan dalam menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan tulang. Sementara zat besi penting untuk pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak.

Mesty menambahkan, tidak sedikit anak dengan berat badan berlebih justru mengalami defisiensi zat besi setelah dilakukan pemeriksaan medis.
“Banyak pasien saya yang terlihat gemuk dan sehat, tetapi setelah dicek, kadar zat besinya rendah,” ungkapnya.

Electronic money exchangers listing

Selain itu, kekurangan mikronutrien lain seperti zinc juga berkaitan erat dengan pembentukan jaringan saraf otak. Zat-zat tersebut berperan dalam kemampuan belajar, konsentrasi, dan daya pikir anak.

Baca Juga :  Kenali 4 Jenis Mata Panda dan Cara Mengatasinya

Berbeda dengan kekurangan energi yang biasanya ditandai penurunan berat badan, defisiensi mikronutrien sering kali tidak menunjukkan tanda fisik yang jelas.
“Kalau anak kurang makan, berat badannya bisa turun. Kalau kurang mikronutrien, tidak kelihatan dari fisiknya, tapi berdampak pada kecerdasannya,” imbuh Mesty.

Karena itu, hidden hunger perlu diwaspadai sejak dini. Kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak, terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Pada fase emas ini, asupan nutrisi dan stimulasi memiliki peran besar dalam menentukan kecerdasan anak, bahkan melampaui faktor genetik.

Pemenuhan gizi seimbang sejak dini menjadi investasi jangka panjang. Anak dengan asupan gizi optimal memiliki peluang lebih besar tumbuh sehat, cerdas, dan mampu berpikir kritis di masa depan. (shf/fir/jpg)

 

PROKALTENG.CO-Anak yang terlihat gemuk, aktif, dan lahap makan kerap dianggap sebagai gambaran anak sehat. Selama berat badannya normal dan tidak tampak sakit, banyak orang tua merasa kebutuhan gizi anak sudah tercukupi. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Di balik kondisi fisik yang tampak sehat, anak bisa saja mengalami hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Kondisi ini terjadi ketika anak kekurangan mikronutrien penting, meski asupan makanan terlihat cukup bahkan berlebih.

Dokter Spesialis Anak dr. Mesty Ariotedjo menjelaskan, hidden hunger kerap luput dari perhatian karena masih kuatnya persepsi bahwa anak gemuk identik dengan anak sehat. Prinsip “yang penting anak mau makan” sering diterapkan tanpa mempertimbangkan kualitas makanan yang dikonsumsi.

Electronic money exchangers listing

“Anak bisa makan banyak, tetapi makanannya rendah vitamin dan mineral. Akhirnya berat badannya normal atau berlebih, tapi kebutuhan mikronutriennya tidak terpenuhi,” ujarnya.

Baca Juga :  Sosok Ayah Dinilai Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

Dalam kondisi hidden hunger, anak kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral yang berperan penting dalam tumbuh kembang. Akibatnya, risiko gangguan perkembangan tetap ada meski secara kasat mata anak tampak sehat.

Dua mikronutrien yang paling sering kurang pada anak adalah vitamin D dan zat besi. Vitamin D berperan dalam menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan tulang. Sementara zat besi penting untuk pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak.

Mesty menambahkan, tidak sedikit anak dengan berat badan berlebih justru mengalami defisiensi zat besi setelah dilakukan pemeriksaan medis.
“Banyak pasien saya yang terlihat gemuk dan sehat, tetapi setelah dicek, kadar zat besinya rendah,” ungkapnya.

Selain itu, kekurangan mikronutrien lain seperti zinc juga berkaitan erat dengan pembentukan jaringan saraf otak. Zat-zat tersebut berperan dalam kemampuan belajar, konsentrasi, dan daya pikir anak.

Baca Juga :  Kenali 4 Jenis Mata Panda dan Cara Mengatasinya

Berbeda dengan kekurangan energi yang biasanya ditandai penurunan berat badan, defisiensi mikronutrien sering kali tidak menunjukkan tanda fisik yang jelas.
“Kalau anak kurang makan, berat badannya bisa turun. Kalau kurang mikronutrien, tidak kelihatan dari fisiknya, tapi berdampak pada kecerdasannya,” imbuh Mesty.

Karena itu, hidden hunger perlu diwaspadai sejak dini. Kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak, terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Pada fase emas ini, asupan nutrisi dan stimulasi memiliki peran besar dalam menentukan kecerdasan anak, bahkan melampaui faktor genetik.

Pemenuhan gizi seimbang sejak dini menjadi investasi jangka panjang. Anak dengan asupan gizi optimal memiliki peluang lebih besar tumbuh sehat, cerdas, dan mampu berpikir kritis di masa depan. (shf/fir/jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru