24 C
Jakarta
Saturday, January 31, 2026

Berpura-pura Mengirim Pesan Teks di Tempat Umum untuk Menghindari Obrolan Ringan

Di era digital saat ini, ponsel bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga “tameng sosial”.

Di halte bus, kafe, ruang tunggu, lift, hingga acara keluarga, kita sering melihat orang yang tiba-tiba menunduk menatap layar ponsel, jari bergerak cepat seolah sedang membalas pesan penting.

Padahal, tidak jarang mereka sebenarnya hanya berpura-pura mengetik.

Fenomena ini dalam psikologi sosial dikenal sebagai strategi penghindaran sosial pasif (passive social avoidance).

Tujuannya bukan untuk bersikap kasar, tetapi untuk melindungi diri dari interaksi yang dianggap tidak nyaman, melelahkan, atau tidak diinginkan, seperti obrolan ringan (small talk) dengan orang asing atau kenalan yang tidak terlalu dekat.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (29/1), menurut psikologi, orang yang sering berpura-pura mengirim pesan teks di tempat umum untuk menghindari obrolan ringan biasanya menunjukkan beberapa pola perilaku khas. Berikut adalah 9 perilaku yang paling umum:

  1. Sensitivitas Tinggi terhadap Stimulus Sosial

Mereka cenderung cepat merasa lelah secara mental saat harus berinteraksi sosial, terutama dengan orang yang tidak dikenal dekat. Suara, keramaian, dan kehadiran banyak orang bisa terasa “menguras energi”.

Electronic money exchangers listing

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan introversi atau sensory overload. Bukan berarti antisosial, tetapi otak mereka memproses stimulus sosial lebih intens sehingga membutuhkan “ruang aman”.

  1. Kebutuhan Akan Kontrol atas Interaksi

Orang tipe ini ingin memilih kapan, dengan siapa, dan dalam konteks apa mereka berinteraksi. Small talk dianggap interaksi yang tidak terkontrol dan tidak produktif.

Baca Juga :  Apakah Dosa Menyebarkan Hoax Membatalkan Puasa? Simak Penjelasan Hukumnya Berikut Ini

Dengan berpura-pura mengetik, mereka menciptakan batas psikologis: “Saya sedang sibuk,” tanpa harus mengucapkannya secara langsung.

  1. Kecenderungan Menghindari Konflik Sosial

Alih-alih mengatakan “maaf, saya tidak ingin mengobrol”, mereka memilih cara yang lebih pasif. Ini menunjukkan gaya kepribadian avoidant coping, yaitu menghindari potensi ketegangan sosial dengan cara tidak konfrontatif.

Mereka tidak ingin menyakiti perasaan orang lain, tetapi juga tidak ingin terjebak dalam interaksi.

  1. Kecanggungan Sosial Ringan (Social Awkwardness)

Bukan gangguan serius, tetapi ada rasa tidak nyaman dalam interaksi spontan.

Small talk sering terasa:

canggung

tidak bermakna

sulit dipertahankan

menguras energi

Berpura-pura bermain ponsel menjadi mekanisme perlindungan diri (defense mechanism) agar tidak harus menghadapi kecanggungan tersebut.

  1. Kebutuhan Privasi Psikologis yang Tinggi

Mereka memiliki batas internal yang kuat antara ruang pribadi dan ruang publik.

Tempat umum tetap dianggap sebagai ruang pribadi secara mental. Jadi, obrolan dengan orang asing dianggap sebagai “pelanggaran batas”.

Ini sering muncul pada orang dengan kepribadian:

reflektif

introspektif

mandiri secara emosional

  1. Pola Attachment yang Cenderung Avoidant

Dalam psikologi kelekatan (attachment theory), sebagian orang memiliki avoidant attachment style.

Ciri utamanya:

nyaman dengan jarak emosional

tidak terlalu membutuhkan koneksi sosial spontan

lebih nyaman dengan hubungan yang terstruktur dan jelas

Baca Juga :  Yuk Simak! Jenis-Jenis Hitungan Weton yang Kurang Cocok untuk Menikah Menurut Primbon Jawa

Small talk terasa “tidak aman secara emosional” karena tidak jelas tujuannya dan arahnya.

  1. Overthinking Sosial

Mereka sering berpikir:

“Nanti ngomong apa ya?”

“Kalau obrolannya mati gimana?”

“Kalau awkward gimana?”

Untuk menghindari beban kognitif ini, mereka memilih jalan pintas: pura-pura sibuk dengan ponsel.

  1. Preferensi Interaksi Bermakna daripada Dangkal

Secara psikologis, mereka bukan tidak suka bersosialisasi, tetapi tidak menyukai interaksi yang dangkal.

Small talk dianggap:

tidak bermakna

tidak memberi koneksi emosional

hanya basa-basi sosial

Mereka lebih nyaman dengan:

percakapan mendalam

diskusi bermakna

Temukan lebih banyak

Berita Kuliner

Panduan Parenting

Artikel Islami

hubungan yang punya ikatan emosional

  1. Mekanisme Regulasi Emosi

Ponsel menjadi alat untuk menenangkan diri secara emosional.

Gerakan mengetik, scrolling, dan fokus ke layar membantu otak mengalihkan perhatian dari kecemasan sosial. Ini adalah bentuk self-soothing behavior (perilaku menenangkan diri).

Menurut psikologi, berpura-pura mengirim pesan teks di tempat umum bukan tanda sombong, dingin, atau tidak sopan. Dalam banyak kasus, ini adalah:

strategi perlindungan diri

cara mengatur energi sosial

mekanisme menghindari stres

bentuk batasan pribadi yang tidak verbal

Mereka bukan membenci manusia, mereka hanya selektif terhadap interaksi.

Di dunia yang penuh stimulasi sosial dan tuntutan komunikasi, ponsel telah berubah fungsi: bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga perisai psikologis.(jpc)

Di era digital saat ini, ponsel bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga “tameng sosial”.

Di halte bus, kafe, ruang tunggu, lift, hingga acara keluarga, kita sering melihat orang yang tiba-tiba menunduk menatap layar ponsel, jari bergerak cepat seolah sedang membalas pesan penting.

Padahal, tidak jarang mereka sebenarnya hanya berpura-pura mengetik.

Electronic money exchangers listing

Fenomena ini dalam psikologi sosial dikenal sebagai strategi penghindaran sosial pasif (passive social avoidance).

Tujuannya bukan untuk bersikap kasar, tetapi untuk melindungi diri dari interaksi yang dianggap tidak nyaman, melelahkan, atau tidak diinginkan, seperti obrolan ringan (small talk) dengan orang asing atau kenalan yang tidak terlalu dekat.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (29/1), menurut psikologi, orang yang sering berpura-pura mengirim pesan teks di tempat umum untuk menghindari obrolan ringan biasanya menunjukkan beberapa pola perilaku khas. Berikut adalah 9 perilaku yang paling umum:

  1. Sensitivitas Tinggi terhadap Stimulus Sosial

Mereka cenderung cepat merasa lelah secara mental saat harus berinteraksi sosial, terutama dengan orang yang tidak dikenal dekat. Suara, keramaian, dan kehadiran banyak orang bisa terasa “menguras energi”.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan introversi atau sensory overload. Bukan berarti antisosial, tetapi otak mereka memproses stimulus sosial lebih intens sehingga membutuhkan “ruang aman”.

  1. Kebutuhan Akan Kontrol atas Interaksi

Orang tipe ini ingin memilih kapan, dengan siapa, dan dalam konteks apa mereka berinteraksi. Small talk dianggap interaksi yang tidak terkontrol dan tidak produktif.

Baca Juga :  Apakah Dosa Menyebarkan Hoax Membatalkan Puasa? Simak Penjelasan Hukumnya Berikut Ini

Dengan berpura-pura mengetik, mereka menciptakan batas psikologis: “Saya sedang sibuk,” tanpa harus mengucapkannya secara langsung.

  1. Kecenderungan Menghindari Konflik Sosial

Alih-alih mengatakan “maaf, saya tidak ingin mengobrol”, mereka memilih cara yang lebih pasif. Ini menunjukkan gaya kepribadian avoidant coping, yaitu menghindari potensi ketegangan sosial dengan cara tidak konfrontatif.

Mereka tidak ingin menyakiti perasaan orang lain, tetapi juga tidak ingin terjebak dalam interaksi.

  1. Kecanggungan Sosial Ringan (Social Awkwardness)

Bukan gangguan serius, tetapi ada rasa tidak nyaman dalam interaksi spontan.

Small talk sering terasa:

canggung

tidak bermakna

sulit dipertahankan

menguras energi

Berpura-pura bermain ponsel menjadi mekanisme perlindungan diri (defense mechanism) agar tidak harus menghadapi kecanggungan tersebut.

  1. Kebutuhan Privasi Psikologis yang Tinggi

Mereka memiliki batas internal yang kuat antara ruang pribadi dan ruang publik.

Tempat umum tetap dianggap sebagai ruang pribadi secara mental. Jadi, obrolan dengan orang asing dianggap sebagai “pelanggaran batas”.

Ini sering muncul pada orang dengan kepribadian:

reflektif

introspektif

mandiri secara emosional

  1. Pola Attachment yang Cenderung Avoidant

Dalam psikologi kelekatan (attachment theory), sebagian orang memiliki avoidant attachment style.

Ciri utamanya:

nyaman dengan jarak emosional

tidak terlalu membutuhkan koneksi sosial spontan

lebih nyaman dengan hubungan yang terstruktur dan jelas

Baca Juga :  Yuk Simak! Jenis-Jenis Hitungan Weton yang Kurang Cocok untuk Menikah Menurut Primbon Jawa

Small talk terasa “tidak aman secara emosional” karena tidak jelas tujuannya dan arahnya.

  1. Overthinking Sosial

Mereka sering berpikir:

“Nanti ngomong apa ya?”

“Kalau obrolannya mati gimana?”

“Kalau awkward gimana?”

Untuk menghindari beban kognitif ini, mereka memilih jalan pintas: pura-pura sibuk dengan ponsel.

  1. Preferensi Interaksi Bermakna daripada Dangkal

Secara psikologis, mereka bukan tidak suka bersosialisasi, tetapi tidak menyukai interaksi yang dangkal.

Small talk dianggap:

tidak bermakna

tidak memberi koneksi emosional

hanya basa-basi sosial

Mereka lebih nyaman dengan:

percakapan mendalam

diskusi bermakna

Temukan lebih banyak

Berita Kuliner

Panduan Parenting

Artikel Islami

hubungan yang punya ikatan emosional

  1. Mekanisme Regulasi Emosi

Ponsel menjadi alat untuk menenangkan diri secara emosional.

Gerakan mengetik, scrolling, dan fokus ke layar membantu otak mengalihkan perhatian dari kecemasan sosial. Ini adalah bentuk self-soothing behavior (perilaku menenangkan diri).

Menurut psikologi, berpura-pura mengirim pesan teks di tempat umum bukan tanda sombong, dingin, atau tidak sopan. Dalam banyak kasus, ini adalah:

strategi perlindungan diri

cara mengatur energi sosial

mekanisme menghindari stres

bentuk batasan pribadi yang tidak verbal

Mereka bukan membenci manusia, mereka hanya selektif terhadap interaksi.

Di dunia yang penuh stimulasi sosial dan tuntutan komunikasi, ponsel telah berubah fungsi: bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga perisai psikologis.(jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/