Pernah merasa mudah kesal oleh hal-hal kecil yang tampaknya tidak mengganggu orang lain?
Misalnya, antrean yang berjalan lambat, penjelasan bertele-tele, atau orang yang sulit menangkap maksud pembicaraan Anda.
Jika iya, Anda tidak sendirian—dan kabar baiknya, hal ini bukan selalu pertanda Anda pemarah atau tidak sabaran.
Berbagai penelitian dalam psikologi kognitif menunjukkan bahwa individu dengan kecepatan pemrosesan otak yang tinggi cenderung lebih cepat menangkap pola, menyimpulkan informasi, dan memprediksi hasil.
Sayangnya, keunggulan ini sering datang dengan “efek samping”: mudah frustrasi terhadap lingkungan yang bergerak lebih lambat.
Dilansir dari Geediting pada Senin (26/1), terdapat delapan perilaku sehari-hari yang sering membuat Anda kesal—dan mengapa hal itu bisa menjadi tanda bahwa otak Anda bekerja lebih cepat daripada kebanyakan orang.
- Percakapan yang Berputar-putar Tanpa Inti
Anda mungkin sering merasa ingin berkata, “Langsung ke poinnya saja.” Ketika seseorang membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan sesuatu yang menurut Anda sederhana, rasa kesal pun muncul.
Ini terjadi karena otak Anda sudah menyimpulkan inti pembicaraan bahkan sebelum lawan bicara selesai berbicara. Ketika informasi tambahan tidak lagi relevan, otak Anda menganggapnya sebagai “noise” yang melelahkan.
- Orang yang Lambat Menangkap Instruksi
Saat Anda memberi arahan yang menurut Anda jelas, tetapi orang lain tetap bingung atau harus dijelaskan ulang, rasa frustrasi muncul begitu saja.
Orang dengan pemrosesan cepat sering melewati beberapa langkah berpikir secara otomatis, sementara orang lain membutuhkan penjelasan bertahap. Perbedaan ritme inilah yang memicu ketidaksabaran.
- Multitasking yang Tidak Efisien
Anda mungkin kesal melihat seseorang membuka banyak tugas sekaligus tetapi tidak benar-benar menyelesaikan apa pun dengan efektif.
Otak yang cepat cenderung mendeteksi ketidakefisienan dengan cepat, sehingga Anda langsung sadar ketika energi dan waktu terbuang sia-sia—bahkan sebelum orang lain menyadarinya.
- Antrean yang Bergerak Terlalu Lambat
Menunggu adalah salah satu pemicu klasik. Namun bagi Anda, menunggu terasa jauh lebih lama daripada kenyataannya.
Hal ini karena otak Anda terus aktif: menghitung waktu, memprediksi skenario, dan membandingkan kemungkinan solusi yang lebih cepat. Ketika dunia nyata tidak mengikuti perhitungan mental itu, muncul rasa jengkel.
- Keputusan yang Terlalu Lama Diambil
Ketika seseorang membutuhkan waktu lama untuk memutuskan hal sederhana—misalnya memilih menu atau menentukan jadwal—Anda mungkin langsung merasa gelisah.
Anda sudah menimbang pro dan kontra dengan cepat, sementara orang lain masih berada di tahap awal analisis. Perbedaan kecepatan ini menciptakan ketegangan emosional kecil namun konsisten.
- Gangguan Kecil yang Menghambat Fokus
Suara berisik, notifikasi berulang, atau interupsi kecil bisa terasa sangat mengganggu bagi Anda.
Otak yang memproses cepat biasanya masuk ke kondisi fokus mendalam (deep focus) lebih sering. Gangguan kecil terasa seperti rem mendadak yang memaksa otak mengulang proses dari awal.
- Pengulangan Informasi yang Sama
Jika seseorang mengulang cerita, instruksi, atau penjelasan yang sudah Anda pahami, Anda mungkin merasa lelah secara mental.
Otak Anda sudah “menyimpan” informasi tersebut dan siap melangkah ke tahap berikutnya. Pengulangan membuat otak Anda terjebak di level yang sama, yang terasa membosankan dan menguras energi.
- Sistem atau Aturan yang Tidak Logis
Anda mungkin cepat kesal dengan prosedur yang berbelit, aturan yang tidak efisien, atau sistem yang menurut Anda “jelas-jelas bisa dibuat lebih sederhana”.
Ini karena otak Anda secara alami mengoptimalkan proses. Ketika realitas tidak sejalan dengan logika internal tersebut, muncul ketegangan antara “bagaimana seharusnya” dan “bagaimana kenyataannya”.
Bukan Masalah Sikap, Tapi Perbedaan Kecepatan Mental
Penting untuk dipahami: merasa kesal terhadap hal-hal di atas bukan berarti Anda sombong, tidak empatik, atau merasa lebih pintar. Ini lebih kepada perbedaan cara dan kecepatan otak memproses dunia.
Namun, tantangannya adalah belajar mengelola ekspektasi dan emosi, karena dunia tidak selalu bisa bergerak secepat pikiran Anda. (jpc)


