Generasi Z hidup dalam lanskap keuangan yang sangat berbeda dibandingkan generasi orang tua mereka.
Menurut laporan dari YourTango.com, artikel yang terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 ini menyoroti bagaimana biaya hidup yang terus meningkat, utang pendidikan, serta ketidakpastian pasar perumahan membuat proses menabung tidak lagi sesederhana dulu.
Generasi Z tumbuh di era digital dengan akses luas terhadap aplikasi investasi, alat pengelolaan keuangan, dan peluang pendapatan fleksibel.
Namun, kemudahan ini ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menabung secara konvensional. Justru, ada dua kebiasaan utama yang secara tidak langsung membuat tabungan tradisional terasa semakin sulit untuk dibangun.
- Generasi Z Lebih Memilih Menginvestasikan Uang daripada Menyimpannya dalam Tabungan Tradisional
Salah satu perbedaan paling mencolok antara Generasi Z dan generasi sebelumnya terletak pada cara mereka memandang uang.
Alih-alih memprioritaskan rekening tabungan atau dana pensiun sejak dini, Generasi Z cenderung langsung mengarahkan uang mereka ke berbagai instrumen investasi yang menjanjikan imbal hasil lebih cepat.
Jika Generasi X dan Milenial awal melihat kepemilikan rumah sebagai bentuk investasi utama, Generasi Z justru mengeksplorasi cara lain untuk membangun kekayaan.
Investasi properti sewa, real estat fraksional, hingga reksa dana investasi real estat menjadi alternatif yang terasa lebih fleksibel dan terjangkau.
Selain itu, banyak dari mereka menempatkan dana pada ETF, reksa dana, mata uang kripto, hingga NFT.
Pendekatan ini membuat uang mereka “bekerja” sejak awal, tetapi juga menggeser fokus dari menabung konvensional.
Tabungan tidak lagi dilihat sebagai tujuan utama, melainkan sebagai langkah sementara sebelum uang dialihkan ke peluang investasi yang dianggap lebih menjanjikan di masa depan.
- Generasi Z Lebih Mengandalkan Pendapatan Fleksibel daripada Gaji Tetap
Kebiasaan kedua yang memengaruhi kemampuan menabung Generasi Z adalah pola pendapatan mereka yang jauh lebih fleksibel.
Berbeda dengan generasi Baby Boomer yang membangun karier jangka panjang dalam satu perusahaan, Generasi Z tumbuh dengan kesadaran bahwa loyalitas korporat tidak selalu menjamin stabilitas finansial.
Banyak dari mereka memilih jalur karier di bidang kesehatan, pendidikan, seni, atau pekerjaan berbasis proyek.
Pekerjaan lepas, kontrak jangka pendek, hingga penghasilan dari media sosial dan platform digital menjadi sumber pendapatan yang umum.
Pola ini memberi kebebasan, tetapi juga menghadirkan tantangan karena pemasukan yang tidak selalu konsisten.
Ketika pendapatan datang dari berbagai arah dan tidak tetap, menabung secara rutin menjadi lebih sulit.
Meski begitu, Generasi Z melihat fleksibilitas ini sebagai investasi jangka panjang—baik dalam bentuk pengalaman, pendidikan, maupun peluang usaha—yang diyakini akan membuahkan hasil di masa mendatang.
Sulit Menabung, Namun Kaya dengan Cara yang Berbeda
Generasi Z memang menghadapi tantangan besar dalam menabung jika dibandingkan dengan generasi orang tua mereka.
Namun, dua kebiasaan ini menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar ceroboh secara finansial, melainkan sedang membangun definisi kekayaan yang berbeda.
Bagi mereka, kekayaan bukan hanya soal saldo tabungan, tetapi tentang aset, peluang, dan potensi pertumbuhan di masa mendatang.
Di tengah perubahan ekonomi yang terus bergerak, mungkin sudah saatnya generasi lain tidak hanya mengkritik, tetapi juga belajar dari cara Generasi Z menghasilkan dan mengelola uang.
Siapa tahu, pendekatan yang terlihat berisiko hari ini justru menjadi kunci keberhasilan finansial di kemudian hari.(jpc)


