Alasan Seseorang Kerap Merasa Bersalah Melakukan Doomscrolling tanpa Disadari

Kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus menggulir layar untuk membaca berita negatif dan konten yang mengkhawatirkan dapat membuat seseorang mengalami tekanan emosional, kecemasan, hingga rasa bersalah.

Berikut 7 alasan seseorang kerap merasa bersalah setelah melakukan doomscrolling tanpa disadari, seperti dilansir dari laman Elaine Kasket.

  1. Menganggap Diri Kurang Mampu Mengendalikan Diri

Seseorang yang terus menggulir layar meskipun telah berniat berhenti sering kali menganggap dirinya tidak disiplin dan gagal mengendalikan kebiasaan. Padahal, doomscrolling juga dipengaruhi oleh algoritma platform digital, aliran konten tanpa batas, dan respons psikologis terhadap informasi yang mengancam sehingga persoalannya tidak semata-mata terletak pada kemauan pribadi.

  1. Merasa Harus Terus Mengikuti Berita agar Tidak Ketinggalan Informasi

Banyak orang merasa bertanggung jawab untuk terus mengikuti perkembangan perang, krisis ekonomi, bencana, atau persoalan sosial karena khawatir dianggap tidak peduli terhadap keadaan sekitar.

Ketika mereka mencoba berhenti membaca berita, muncul rasa bersalah seolah-olah membatasi konsumsi informasi berarti mengabaikan penderitaan orang lain, meskipun terus terpapar kabar buruk tidak selalu membuat mereka lebih mampu memberikan bantuan.

  1. Takut Dianggap Tidak Peduli Terhadap Persoalan Sosial
Baca Juga :  Penting bagi Anak! Begini Cara Membuat Orang Tuamu Merasa Istimewa, Salah Satunya Memberi Hadiah

Di media sosial, mengikuti berita, membagikan informasi, dan memberikan tanggapan kerap dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap suatu persoalan. Akibatnya, seseorang dapat merasa bersalah ketika memilih diam atau menjauh dari perbincangan daring karena khawatir sikap tersebut dianggap sebagai ketidakpedulian terhadap komunitas maupun isu yang mereka anggap penting.

  1. Terjebak dalam Kecemasan Karena Ingin Memperoleh Kepastian

Ketika menghadapi situasi yang tidak menentu, seseorang cenderung mencari informasi berulang kali dengan harapan memperoleh penjelasan atau kepastian mengenai ancaman yang sedang terjadi.

Electronic money exchangers listing

Namun, informasi yang terus bertambah tanpa solusi yang jelas justru dapat meningkatkan kewaspadaan, memperburuk kecemasan, dan menimbulkan frustrasi karena mereka merasa belum cukup mengetahui keadaan untuk berhenti menggulir layar.

5.Merasa Bersalah karena Mengabaikan Waktu Istirahat dan Aktivitas Penting

Kebiasaan membaca konten negatif hingga larut malam dapat membuat seseorang mengorbankan waktu tidur, pekerjaan, kegiatan belajar, maupun interaksi dengan orang terdekat.

Setelah menyadari waktu yang terbuang, mereka mungkin menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal mengatur prioritas, sedangkan kelelahan akibat kurang tidur dapat semakin menyulitkan mereka untuk mengendalikan kebiasaan tersebut pada hari berikutnya.

Baca Juga :  Olahraga Malam usai Kerja: Waktu Ideal, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai

6.Merasa Tidak Berdaya karena Terus Mengonsumsi Masalah yang Sulit Diubah

Paparan berulang terhadap berita tentang konflik, ketidakadilan, dan penderitaan manusia dapat membuat seseorang merasa terbebani oleh persoalan yang berada di luar kendali langsungnya.

Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi rasa bersalah karena mereka menganggap seharusnya melakukan sesuatu, meskipun membaca kabar buruk selama berjam-jam tidak selalu menghasilkan tindakan nyata dan justru dapat menguras energi emosional yang diperlukan untuk membantu.

  1. Terjebak dalam Pola Pengguliran Layar

Fitur gulir tanpa batas, rekomendasi algoritmik, serta kemunculan konten baru yang tidak terduga membuat pengguna sulit mengenali kapan harus berhenti. Ketika akhirnya menyadari bahwa mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk membaca konten yang memperburuk suasana hati, rasa bersalah dapat muncul, padahal kebiasaan tersebut juga dipertahankan oleh desain platform yang mengutamakan keterlibatan pengguna.(jpc)

Kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus menggulir layar untuk membaca berita negatif dan konten yang mengkhawatirkan dapat membuat seseorang mengalami tekanan emosional, kecemasan, hingga rasa bersalah.

Berikut 7 alasan seseorang kerap merasa bersalah setelah melakukan doomscrolling tanpa disadari, seperti dilansir dari laman Elaine Kasket.

  1. Menganggap Diri Kurang Mampu Mengendalikan Diri

Seseorang yang terus menggulir layar meskipun telah berniat berhenti sering kali menganggap dirinya tidak disiplin dan gagal mengendalikan kebiasaan. Padahal, doomscrolling juga dipengaruhi oleh algoritma platform digital, aliran konten tanpa batas, dan respons psikologis terhadap informasi yang mengancam sehingga persoalannya tidak semata-mata terletak pada kemauan pribadi.

Electronic money exchangers listing
  1. Merasa Harus Terus Mengikuti Berita agar Tidak Ketinggalan Informasi

Banyak orang merasa bertanggung jawab untuk terus mengikuti perkembangan perang, krisis ekonomi, bencana, atau persoalan sosial karena khawatir dianggap tidak peduli terhadap keadaan sekitar.

Ketika mereka mencoba berhenti membaca berita, muncul rasa bersalah seolah-olah membatasi konsumsi informasi berarti mengabaikan penderitaan orang lain, meskipun terus terpapar kabar buruk tidak selalu membuat mereka lebih mampu memberikan bantuan.

  1. Takut Dianggap Tidak Peduli Terhadap Persoalan Sosial
Baca Juga :  Penting bagi Anak! Begini Cara Membuat Orang Tuamu Merasa Istimewa, Salah Satunya Memberi Hadiah

Di media sosial, mengikuti berita, membagikan informasi, dan memberikan tanggapan kerap dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap suatu persoalan. Akibatnya, seseorang dapat merasa bersalah ketika memilih diam atau menjauh dari perbincangan daring karena khawatir sikap tersebut dianggap sebagai ketidakpedulian terhadap komunitas maupun isu yang mereka anggap penting.

  1. Terjebak dalam Kecemasan Karena Ingin Memperoleh Kepastian

Ketika menghadapi situasi yang tidak menentu, seseorang cenderung mencari informasi berulang kali dengan harapan memperoleh penjelasan atau kepastian mengenai ancaman yang sedang terjadi.

Namun, informasi yang terus bertambah tanpa solusi yang jelas justru dapat meningkatkan kewaspadaan, memperburuk kecemasan, dan menimbulkan frustrasi karena mereka merasa belum cukup mengetahui keadaan untuk berhenti menggulir layar.

5.Merasa Bersalah karena Mengabaikan Waktu Istirahat dan Aktivitas Penting

Kebiasaan membaca konten negatif hingga larut malam dapat membuat seseorang mengorbankan waktu tidur, pekerjaan, kegiatan belajar, maupun interaksi dengan orang terdekat.

Setelah menyadari waktu yang terbuang, mereka mungkin menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal mengatur prioritas, sedangkan kelelahan akibat kurang tidur dapat semakin menyulitkan mereka untuk mengendalikan kebiasaan tersebut pada hari berikutnya.

Baca Juga :  Olahraga Malam usai Kerja: Waktu Ideal, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai

6.Merasa Tidak Berdaya karena Terus Mengonsumsi Masalah yang Sulit Diubah

Paparan berulang terhadap berita tentang konflik, ketidakadilan, dan penderitaan manusia dapat membuat seseorang merasa terbebani oleh persoalan yang berada di luar kendali langsungnya.

Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi rasa bersalah karena mereka menganggap seharusnya melakukan sesuatu, meskipun membaca kabar buruk selama berjam-jam tidak selalu menghasilkan tindakan nyata dan justru dapat menguras energi emosional yang diperlukan untuk membantu.

  1. Terjebak dalam Pola Pengguliran Layar

Fitur gulir tanpa batas, rekomendasi algoritmik, serta kemunculan konten baru yang tidak terduga membuat pengguna sulit mengenali kapan harus berhenti. Ketika akhirnya menyadari bahwa mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk membaca konten yang memperburuk suasana hati, rasa bersalah dapat muncul, padahal kebiasaan tersebut juga dipertahankan oleh desain platform yang mengutamakan keterlibatan pengguna.(jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru