PROKALTENG.CO – Pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia nonaktif, Hendra Basir, akhirnya angkat bicara soal dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap delapan atlet. Dia membantah keras seluruh tudingan yang menjadi dasar penonaktifannya oleh Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI).
“Silakan tanya langsung ke delapan atlet itu, bagian mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik,” kata Hendra saat dikonfirmasi dari Jakarta, Selasa malam, terkait laporan yang dilayangkan ke Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid pada 28 Januari 2026.
Hendra mengaku terkejut. Sebab hingga Surat Keputusan (SK) penonaktifannya terbit, dia merasa tak pernah diminta memberikan klarifikasi oleh federasi. “Sampai sekarang belum ada undangan resmi untuk saya menjelaskan duduk persoalannya,” ujarnya.
Pelatih yang membawa Indonesia meraih medali di Olimpiade Paris 2024 itu tak menampik dikenal keras di lapangan. Sejak mulai melatih pada 2012, dia memang menerapkan disiplin tinggi kepada atlet.
“Saya memang galak. Tapi itu bagian dari pembinaan mental dan fisik supaya mereka siap di level tertinggi. Bukan untuk menyiksa atau menganiaya,” tegasnya.
Soal dugaan pelecehan seksual terhadap atlet putri, Hendra membantah pernah melakukan tindakan tak senonoh, seperti meraba bagian vital atau memaksa hubungan seksual. Dia mengakui pernah memeluk dan mencium kening atau ubun-ubun atlet yang sedang tertekan saat pertandingan maupun latihan.
“Itu konteksnya memberi semangat saat mereka menangis atau mentalnya drop. Saya peluk, lalu cium keningnya, seperti ke anak sendiri sebelum berangkat sekolah atau habis salat,” ucapnya.
Hendra menyadari, jika tindakan tersebut dinilai sebagai pelecehan, dia siap menerima konsekuensi. Namun dia menilai publik perlu memahami konteksnya. “Kalau dianggap salah, ya saya terima. Tapi lihat juga situasinya,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dia terima, ada lima atlet putra dan tiga atlet putri yang melaporkannya ke Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid. Bahkan, salah satu atlet putri disebut telah meminta maaf kepadanya pada pertengahan Januari lalu, disaksikan sejumlah atlet lain, karena merasa persoalan itu seharusnya tidak menjadi polemik.
Hendra juga menyinggung peran psikolog tim yang menilai tindakannya sebagai bentuk pelecehan. Padahal, selama 12 tahun bekerja bersama, menurutnya tidak pernah ada peringatan terkait perilaku tersebut.
“Menurut saya ini seperti sudah terkonsep untuk memojokkan. Tapi tidak apa-apa, saya terima penonaktifan itu,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum PP FPTI Wahyu Pristiawan Buntoro menyatakan federasi telah membentuk tim pencari fakta (TPF) untuk menelusuri laporan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik tersebut.
“Sesuai SK organisasi, Hendra Basir diberhentikan sementara sampai ada keputusan dari TPF,” kata Wahyu saat dihubungi dari Jakarta.
Penonaktifan Hendra menjadi langkah awal federasi menindaklanjuti laporan delapan atlet yang masuk pada 28 Januari 2026. Keputusan final menunggu hasil kerja tim pencari fakta. (antara)


