Real Madrid membuat keputusan besar yang cukup mengejutkan. Klub ibu kota Spanyol itu secara resmi mengonfirmasi bahwa Xabi Alonso akan mundur sebagai manajer, sehari setelah kekalahan dramatis 3-2 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol.
Sebenarnya, posisi Xabi Alonso sudah berada di ujung tanduk sejak beberapa waktu lalu. Meski begitu, lima kemenangan beruntun sebelum final (termasuk kemenangan penting atas Atletico Madrid) sempat memberi kesan bahwa pelatih Real Madrid asal Basque itu mendapat penangguhan sementara. Namun, hasil El Clasico di Arab Saudi tampaknya menjadi titik balik.
Pada akhirnya, Real Madrid dan Xabi Alonso sama-sama sepakat bahwa perpisahan adalah jalan terbaik. Klub pun bergerak cepat dengan menunjuk Alvaro Arbeloa, yang sebelumnya menangani Castilla, sebagai pelatih kepala tim utama.
Penunjukan tersebut sudah dikonfirmasi secara resmi melalui pengumuman bahwa Arbeloa dipromosikan menjadi pelatih kepala tim utama. Melansir Madrid Universal berdasar penilaian dari jurnalis Jose Luis Sanchez dari El Chiringuito TV, ada tiga alasan utama yang membuat Real Madrid akhirnya melepas Alonso dari kursi pelatih.
- Persiapan fisik jadi masalah serius
Salah satu sorotan terbesar sepanjang musim ini adalah kondisi fisik skuad Real Madrid. Cedera datang silih berganti. Dalam banyak pertandingan Los Blancos terlihat kalah secara fisik dibanding lawan-lawannya.
Situasi ini bahkan memunculkan wacana internal untuk mengintegrasikan kembali Antonio Pintus ke staf pelatih tim utama, beberapa pekan sebelum Alonso resmi pergi.
Dengan Arbeloa kini memegang kendali, bukan tidak mungkin Florentino Perez akan benar-benar membawa Pintus kembali untuk membenahi aspek kebugaran tim.
- Hubungan yang tidak harmonis dengan pemain
Alasan kedua ini sudah lama menjadi isu di balik layar. Alonso dikabarkan memiliki hubungan yang kurang baik dengan sejumlah pemain kunci di ruang ganti.
Relasinya dengan Vinicius Jr. disebut-sebut tegang dalam periode tertentu. Selain itu, Federico Valverde juga tidak selalu merasa nyaman dengan peran yang diberikan kepadanya di dalam tim.
Beberapa pemain lain pun dikabarkan kurang cocok dengan metode kepelatihan yang diterapkan Alonso, sehingga perlahan muncul keresahan internal yang ikut memengaruhi keputusan klub.
- Citra buruk usai kekalahan El Clasico di Piala Super
Faktor terakhir, dan mungkin yang paling menentukan, adalah penampilan Real Madrid di final Piala Super Spanyol. Meski sebelumnya sempat mengalahkan Barcelona di awal musim, Los Blancos gagal mengulang hasil positif tersebut di laga final.
Kekalahan 3-2 memang terlihat ketat di atas kertas, tetapi performa tim dinilai tidak cukup meyakinkan. Kesan negatif inilah yang akhirnya tertinggal di benak manajemen klub dan menjadi pemicu terakhir yang mengakhiri era singkat Xabi Alonso di Santiago Bernabeu.
Singkatnya, kepergian Alonso bukan hanya soal satu pertandingan. Kombinasi masalah fisik, konflik internal, dan hasil El Clasico yang mengecewakan membuat Real Madrid memilih untuk menutup bab ini lebih cepat dari yang dibayangkan banyak pihak.(jpc)


