Kekalahan telak dari Borneo FC membuka mata banyak pihak tentang masalah serius yang sedang dialami Persebaya Surabaya. Jika ingin benar-benar fokus mengejar gelar juara musim depan, Green Force wajib segera mendatangkan striker tajam.
Krisis lini depan kini menjadi sorotan utama setelah Persebaya Surabaya kalah tragis 5-1 dari Borneo FC di Stadion Segiri Samarinda, Sabtu (9/3). Hasil itu memantik reaksi keras dari Bonek yang menilai sektor penyerangan Green Force sedang dalam kondisi darurat.
Dalam laga tersebut, lima gol Borneo FC dicetak empat pemain berbeda yang sukses merobek pertahanan Persebaya Surabaya. Juan Villa mencetak dua gol pada menit 15 dan 59, disusul Mariano Peralta pada menit 62, Koldo Obieta menit 68, dan Marcos Astina di masa injury time.
Persebaya Surabaya hanya mampu membalas satu gol melalui bek asal Brasil, Leo Lelis pada menit 73. Skor telak itu sekaligus menegaskan betapa timpangnya performa kedua tim sepanjang pertandingan.
Sebagian Bonek memilih menerima kekalahan itu sebagai dinamika sepak bola. Namun kritik keras tetap mengalir, terutama kepada sektor depan yang dinilai gagal memberikan ancaman berarti.
Absennya striker utama Mihailo Perovic karena cedera disebut menjadi salah satu faktor utama tumpulnya serangan Green Force. Tanpa sosok target man, aliran bola di lini depan terlihat kehilangan arah.
Situasi itu semakin terasa karena Persebaya Surabaya tidak memiliki striker murni lain di skuad musim ini. Ketika Perovic absen, pilihan di lini depan menjadi sangat terbatas.
Akibatnya, strategi serangan Green Force kerap hanya bergantung pada pergerakan Bruno Moreira dan Paulo Henrique Riveira. Pola permainan tersebut mudah dibaca lawan yang cukup fokus mematikan dua pemain tersebut.
”Resiko maine cuma ngandelno Bruno & Riveira, wong 2 iku dikunci wes gak iso lapo2. Musuh Persib & Borneo dadi contoh nyata, permainan e saiki cuma ngandelno Bruno & Riveira. Gak duwe target man, bek lawan dadi gak perlu cemas. Fokus mateni pergerakan Bruno, Riveira & Gali,” tulis salah satu Bonek.
Kritik lain juga datang dari sejumlah Bonek yang menilai lini depan Green Force benar-benar kehilangan ketajaman. Mereka bahkan menyebut sektor penyerangan Persebaya Surabaya saat ini dalam kondisi ompong.
”Ompong!!!!” tulis salah satu Bonek.
”Seng ngarep remek, seng mburi katutan remek. Akhir musim tambah digawe yak yakan,” tulis salah satu Bonek.
Ada pula Bonek yang menyinggung nostalgia terhadap striker tajam yang pernah dimiliki Persebaya Surabaya. Nama David da Silva kembali disebut sebagai contoh penyerang yang mampu menjadi pembeda.
”Goleko striker sing nggenah ngono loh.. trakhir striker mu sing enak cm david da silva. Giliran da silva nganggur g dtawarin maneh,” tulis salah satu Bonek.
Di tengah desakan tersebut, satu nama mulai kembali mencuat sebagai solusi potensial bagi Green Force. Sosok yang dimaksud adalah striker Timnas Indonesia, Ramadhan Sananta.
Persebaya Surabaya sebenarnya sempat mencoba mendatangkan Ramadhan Sananta pada bursa transfer paruh musim lalu. Namun upaya tersebut gagal karena sang pemain memilih bertahan bersama klubnya saat ini.
Saat ini Ramadhan Sananta sedang berkarier di klub Liga Super Malaysia, DPMM FC. Keputusan bertahan membuat Green Force harus melanjutkan musim dengan opsi lini depan yang ada.
Kabar kegagalan transfer itu sempat diungkap oleh akun fans base Persebaya Surabaya, @mbahboyo.cuk. Informasi tersebut menjelaskan alasan sang pemain menolak pindah pada saat itu.
”Sang pemain lebih memilih fokus dengan timnya yang sekarang. Di tengah krisis striker yang di alami Persebaya Surabaya usai laga melawan BUFC pekan kemarin, Green Force gagal menambah slot di lini depan setelah salah satu pemain incarannya memilih tetap mendampingi klub yang saat ini dibelanya,” tulis akun tersebut.
Meski demikian, peluang Persebaya Surabaya mendatangkan Ramadhan Sananta sebenarnya belum sepenuhnya tertutup. Bahkan kesempatan itu bisa semakin terbuka pada akhir musim nanti.
Akun Instagram seputar transfer sepak bola Indonesia @transfernews__ft, pernah membocorkan rumor ketertarikan Green Force terhadap striker berusia 23 tahun tersebut. Informasi itu juga menyebutkan beberapa skenario kepindahan yang mungkin terjadi.
”RUMOR Persebaya Surabaya, kabarnya tertarik untuk mendatangkan striker lokal Indonesia, Ramadhan Sananta (23) foot. Ramadhan Sananta saat ini bermain untuk DPMM FC Malaysia (1tier), dan telah mencatatkan 2 Gol 1 Assist dalam 15 Pertandingan,” tulis akun tersebut.
Informasi yang sama juga menyebutkan kemungkinan waktu transfer sang pemain. Salah satunya pada awal musim Super League Indonesia 2026/2027 mendatang.
”Namun tetapi, Ada 2 kemungkinan Sananta bergabung dengan Persebaya, Ntah pada paruh musim Super League Indonesia 2025/26, atau Musim Baru Super League Indonesia 2026/27. Dengan demikian kontrak Sananta bersama DPMM FC akan berakhir pada 30 Juni 2026. MENARIK UNTUK DITUNGGU.!” tulis @transfernews__ft.
Jika melihat situasi kontrak tersebut, peluang Persebaya Surabaya merekrut Ramadhan Sananta pada awal musim depan terbilang cukup terbuka. Kontrak sang pemain bersama DPMM FC hanya tersisa hingga 30 Juni 2026.
Artinya, Green Force berpotensi mendatangkan sang striker secara gratis jika menunggu hingga kontraknya habis. Skenario ini tentu menjadi peluang menarik bagi manajemen Persebaya Surabaya.
Selain faktor kontrak, ada juga aspek historis yang bisa mempermudah proses transfer. Ramadhan Sananta dikenal berkembang pesat saat dilatih Bernardo Tavares di PSM Makassar.
Koneksi tersebut bisa menjadi nilai tambah jika Persebaya Surabaya benar-benar serius membangun lini depan yang lebih tajam. Terlebih, kebutuhan striker kini bukan lagi sekadar opsi, tetapi sudah menjadi urgensi.
Jika ingin kembali bersaing di papan atas dan memburu gelar juara musim depan, Green Force tidak bisa lagi menunda pembenahan sektor penyerangan. Datangnya striker baru seperti Ramadhan Sananta bisa menjadi awal perubahan besar bagi masa depan Persebaya Surabaya.(jpc)


