26.1 C
Jakarta
Wednesday, March 11, 2026

Jejak Panjang Rahmanto Muhidin: Kesetiaan Kader hingga Puncak PKB Kalteng

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO -Momentum dan doa orang terdekat mengantarkan Rahmanto Muhidin ke kursi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalteng.

Begitulah cerita Rahmanto, yang memulai karirnya diusia muda sudah bergabung dengan partai yang sering disebut Partai Anak Kandung NU.

Rahmanto menuturkan dirinya bergabung di PKB sejak 2001.

Kala itu, ia memasuki masa berkuliah. Perjalananya sudah 26 tahun atau hampir tiga dekade di PKB.

Rahmanto Muhidin membuktikan kesetiaannya di PKB.

“Jadi bisa dikatakan saya di PKB ini betul-betul dimulai dari bawah, dari tukang pasang bendera PKB, antar surat, kemudian juga pen yanyi Mars dan Hymne PKB,” cerita Rahmanto dilansir dari Kalteng Pos, Kamis (12/2).

Ia bercerita saat berbincang di Podcast Ruang Redaksi dan juga ditayangkan di kanal YouTube Kalteng Pos.

Electronic money exchangers listing

Selama berPKB, Rahmanto selalu menjelaskan bagaimana ia menjalankan politik Rahmatan Lil Alamin, politik yang memberikan kebaikan, memberikan kasih sayang, politik yang merangkul tanpa membedakan, yang telah menjadi ideologi PKB dan selalu menjadi doktrin terhadap kader itu sendiri.

Dalam implementasinya politik rahmatan lil alamin itu ada 4, salah satunya imple mentasi politik keseharian, kemudian politik pelayanan.

“Politik pelayanan ini harus diwujudkan dalam bentuk sebuah kebijakan, yang baik dilegislatif mau pun dieksekutif dalam ben tuk peraturan daerah, tentu yang berpihak kepada masyarakat. Mengedepankan kepentingan masyarakat secara luas, kepentingan petani, kepentingan buruh, kemu dian kepentingan laki-laki miskin, kepentingan orang orang yang tidak berdaya, nah ini diwujudkan dalam politik pelayanan,” terang Rahmanto.

Dalam ini, ia menerang kan kader PKB harus hadir. Hadir bukan hanya sekedar hadir pribadi namun turun kelapangan.

Selain itu kebijakan harus berpihak kepada masyarakat kecil, masyarakat yang membutuhkan. Ini yang dimaksud dengan politik hadiran.

Kemudian yang ketiga adalah politik keteladanan.

Baca Juga :  Rahmanto Muhidin Siap Maju di Pilkada Mura

Menurutnya sebagai public figure, yang bertugas dilegislatif dan eksekutif, semua kader PKB harus menjadi teladan.

Menjadi teladan ke pada lingkungan dan ruang lingkungan. Dan terakhir politik pelopor atau penggagas.

Kader PKB dituntut menjadi orang yang terdepan dalam menggagas soal kebijakan-kebijakan, dalam soal hal-hal yang memberi kan dampak positif terhadap warga masyarakat.

“Empat konsep ini wajib di wujudkan nyata dalam praktik pelaksanaannya dalam sebuah kebijakan. Baik kebijakan dalam APJD, perhubung, mau pun kebijakan-kebijakan di luar dari pandang itu. Nah ini konsep ideologi PKB,” tegas Wakil Bupati Murung Raya ini.

Seperti diketahui, Rahmanto lahir di Muara Maruwei II, Kecamatan Laung Tuhup, pada 14 Juni 1982. Hidup sederhana, mandiri, dan terbiasa bekerja keras menjadi nilai yang terus melekat, bahkan ketika ia berada di lingkar kekuasaan legislatif maupun eksekutif.

Selepas menamatkan pendidikan menengah, Rahmanto tidak langsung melanjutkan kuliah.

Ia memilih bekerja sebagai buruh harian di sejumlah proyek konstruksi pada 2001-2002.

Dari curriculum vitae (CV) yang dikirim ke redaksi, Rahmanto tercatat memiliki riwayat pekerjaan sebagai buruh harian pada PT Brantas pada 2001.

Ketika itu mengerjakan proyek pembuatan gorong-gorong jalan tambang batu bara rangka baja Desa Muara Maruwei. Lanjut pada tahun 2002, Rahmanto juga pernah menja di buruh harian pada PT. RPC (Rian Pratama Contesindo).

Ketika itu mengerjakan proyek pembangunan jembatan batu bara rangka baja Desa Muara Maruwei. Berkat kerja kerasnya, pada 2007-2009 Rahmanto menjadi Direktur di CV. Saudara Jaya Bersama.

Sejumlah proyek digarap ketika itu mulai dari Penataan Penggusuran Halaman MTs’N Laung Tuhup hingga pembangunan badan jalan lakutan – Jalan PT MGM/ BUMA.

Pengalaman bekerja di lapangan memberinya pelajaran yang tak ia dapatkan di ruang kelas.

Ia menyaksikan langsung kerasnya kehidupan pekerja kasar, rapuhnya jaminan ekonomi, dan ketergantungan masyarakat kecil pada proyek-proyek infrastruktur.

Baca Juga :  Profil Rahmanto Muhidin, Wakil Bupati Murung Raya yang Kini Pimpin PKB Kalteng

Kesadaran itulah yang mendorongnya kembali ke bangku pendidikan.

Ia menempuh studi di Jurusan Syariah di STAIN Palangka Raya seka rang UIN palangka Raya. Di kampus, Rahmanto dikenal sebagai aktivis yang vokal dan konsisten.

Ia menjabat Wakil Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, Sekretaris Jenderal BEM, hingga Presiden Mahasiswa STAIN Palangka Raya.

Di luar kampus, pergerakannya berlanjut di organ isasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dari tingkat komisariat hingga cabang kota.

Aktivisme terse but mengasah kepemimpinan, kemampuan manaje men konflik, dan keberanian menyuarakan aspirasi publik.

Pendidikan formal Rahmanto berlanjut hingga jenjang magister.

Pada 2013, ia meraih gelar Magister Ilmu Hukum dari Universitas Brawijaya Malang, memperkuat fondasi keilmuannya dalam bidang legislasi dan kebijakan publik.

Kepercayaan publik mulai terbangun ketika Rahmanto terpilih sebagai Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya pada 2009.

Sejak itu, ia terus dipercaya masyarakat hingga empat periode berturut-turut: 2009–2014, 2014–2019, 2019–2024, dan 2024–2029.

Pada periode 2019–2024, ia dipercaya menjabat Wakil Ketua II DPRD Murung Raya.

Posisi strategis itu menempatkannya dalam peran penting pengawasan, penganggaran, dan pembentukan peraturan daerah.

Rekam jejak panjangnya membuat Rahmanto dikenal sebagai salah satu legislator dengan pengalaman paling matang di daerah tersebut.

Kemudian pada pilkada serentak ia mundur dari kursi legislatif untuk mendampingi Heriyus sebagai wakil bupati Murung Raya.

Karirnya kian melejit hingga diamanahi sebagai Ketua DPW PKB Kalteng periode 2026-2031.

Di luar gedung parlemen, Rahmanto tetap aktif di berb agai organisasi sosial, keagamaan, kepemudaan, dan ekonomi.

Ia terlibat di GP Ansor, LASQI, LP Ma’arif NU, HIPMI, ASBUMDES, hingga Masyarakat Ekonomi Syariah.

Keterlibatan lintas sektor itu mencerminkan pandangan nya bahwa pembangunan daerah tidak bisa bertumpu pada politik semata. (irj/ala/kpg)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO -Momentum dan doa orang terdekat mengantarkan Rahmanto Muhidin ke kursi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalteng.

Begitulah cerita Rahmanto, yang memulai karirnya diusia muda sudah bergabung dengan partai yang sering disebut Partai Anak Kandung NU.

Rahmanto menuturkan dirinya bergabung di PKB sejak 2001.

Electronic money exchangers listing

Kala itu, ia memasuki masa berkuliah. Perjalananya sudah 26 tahun atau hampir tiga dekade di PKB.

Rahmanto Muhidin membuktikan kesetiaannya di PKB.

“Jadi bisa dikatakan saya di PKB ini betul-betul dimulai dari bawah, dari tukang pasang bendera PKB, antar surat, kemudian juga pen yanyi Mars dan Hymne PKB,” cerita Rahmanto dilansir dari Kalteng Pos, Kamis (12/2).

Ia bercerita saat berbincang di Podcast Ruang Redaksi dan juga ditayangkan di kanal YouTube Kalteng Pos.

Selama berPKB, Rahmanto selalu menjelaskan bagaimana ia menjalankan politik Rahmatan Lil Alamin, politik yang memberikan kebaikan, memberikan kasih sayang, politik yang merangkul tanpa membedakan, yang telah menjadi ideologi PKB dan selalu menjadi doktrin terhadap kader itu sendiri.

Dalam implementasinya politik rahmatan lil alamin itu ada 4, salah satunya imple mentasi politik keseharian, kemudian politik pelayanan.

“Politik pelayanan ini harus diwujudkan dalam bentuk sebuah kebijakan, yang baik dilegislatif mau pun dieksekutif dalam ben tuk peraturan daerah, tentu yang berpihak kepada masyarakat. Mengedepankan kepentingan masyarakat secara luas, kepentingan petani, kepentingan buruh, kemu dian kepentingan laki-laki miskin, kepentingan orang orang yang tidak berdaya, nah ini diwujudkan dalam politik pelayanan,” terang Rahmanto.

Dalam ini, ia menerang kan kader PKB harus hadir. Hadir bukan hanya sekedar hadir pribadi namun turun kelapangan.

Selain itu kebijakan harus berpihak kepada masyarakat kecil, masyarakat yang membutuhkan. Ini yang dimaksud dengan politik hadiran.

Kemudian yang ketiga adalah politik keteladanan.

Baca Juga :  Rahmanto Muhidin Siap Maju di Pilkada Mura

Menurutnya sebagai public figure, yang bertugas dilegislatif dan eksekutif, semua kader PKB harus menjadi teladan.

Menjadi teladan ke pada lingkungan dan ruang lingkungan. Dan terakhir politik pelopor atau penggagas.

Kader PKB dituntut menjadi orang yang terdepan dalam menggagas soal kebijakan-kebijakan, dalam soal hal-hal yang memberi kan dampak positif terhadap warga masyarakat.

“Empat konsep ini wajib di wujudkan nyata dalam praktik pelaksanaannya dalam sebuah kebijakan. Baik kebijakan dalam APJD, perhubung, mau pun kebijakan-kebijakan di luar dari pandang itu. Nah ini konsep ideologi PKB,” tegas Wakil Bupati Murung Raya ini.

Seperti diketahui, Rahmanto lahir di Muara Maruwei II, Kecamatan Laung Tuhup, pada 14 Juni 1982. Hidup sederhana, mandiri, dan terbiasa bekerja keras menjadi nilai yang terus melekat, bahkan ketika ia berada di lingkar kekuasaan legislatif maupun eksekutif.

Selepas menamatkan pendidikan menengah, Rahmanto tidak langsung melanjutkan kuliah.

Ia memilih bekerja sebagai buruh harian di sejumlah proyek konstruksi pada 2001-2002.

Dari curriculum vitae (CV) yang dikirim ke redaksi, Rahmanto tercatat memiliki riwayat pekerjaan sebagai buruh harian pada PT Brantas pada 2001.

Ketika itu mengerjakan proyek pembuatan gorong-gorong jalan tambang batu bara rangka baja Desa Muara Maruwei. Lanjut pada tahun 2002, Rahmanto juga pernah menja di buruh harian pada PT. RPC (Rian Pratama Contesindo).

Ketika itu mengerjakan proyek pembangunan jembatan batu bara rangka baja Desa Muara Maruwei. Berkat kerja kerasnya, pada 2007-2009 Rahmanto menjadi Direktur di CV. Saudara Jaya Bersama.

Sejumlah proyek digarap ketika itu mulai dari Penataan Penggusuran Halaman MTs’N Laung Tuhup hingga pembangunan badan jalan lakutan – Jalan PT MGM/ BUMA.

Pengalaman bekerja di lapangan memberinya pelajaran yang tak ia dapatkan di ruang kelas.

Ia menyaksikan langsung kerasnya kehidupan pekerja kasar, rapuhnya jaminan ekonomi, dan ketergantungan masyarakat kecil pada proyek-proyek infrastruktur.

Baca Juga :  Profil Rahmanto Muhidin, Wakil Bupati Murung Raya yang Kini Pimpin PKB Kalteng

Kesadaran itulah yang mendorongnya kembali ke bangku pendidikan.

Ia menempuh studi di Jurusan Syariah di STAIN Palangka Raya seka rang UIN palangka Raya. Di kampus, Rahmanto dikenal sebagai aktivis yang vokal dan konsisten.

Ia menjabat Wakil Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, Sekretaris Jenderal BEM, hingga Presiden Mahasiswa STAIN Palangka Raya.

Di luar kampus, pergerakannya berlanjut di organ isasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dari tingkat komisariat hingga cabang kota.

Aktivisme terse but mengasah kepemimpinan, kemampuan manaje men konflik, dan keberanian menyuarakan aspirasi publik.

Pendidikan formal Rahmanto berlanjut hingga jenjang magister.

Pada 2013, ia meraih gelar Magister Ilmu Hukum dari Universitas Brawijaya Malang, memperkuat fondasi keilmuannya dalam bidang legislasi dan kebijakan publik.

Kepercayaan publik mulai terbangun ketika Rahmanto terpilih sebagai Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya pada 2009.

Sejak itu, ia terus dipercaya masyarakat hingga empat periode berturut-turut: 2009–2014, 2014–2019, 2019–2024, dan 2024–2029.

Pada periode 2019–2024, ia dipercaya menjabat Wakil Ketua II DPRD Murung Raya.

Posisi strategis itu menempatkannya dalam peran penting pengawasan, penganggaran, dan pembentukan peraturan daerah.

Rekam jejak panjangnya membuat Rahmanto dikenal sebagai salah satu legislator dengan pengalaman paling matang di daerah tersebut.

Kemudian pada pilkada serentak ia mundur dari kursi legislatif untuk mendampingi Heriyus sebagai wakil bupati Murung Raya.

Karirnya kian melejit hingga diamanahi sebagai Ketua DPW PKB Kalteng periode 2026-2031.

Di luar gedung parlemen, Rahmanto tetap aktif di berb agai organisasi sosial, keagamaan, kepemudaan, dan ekonomi.

Ia terlibat di GP Ansor, LASQI, LP Ma’arif NU, HIPMI, ASBUMDES, hingga Masyarakat Ekonomi Syariah.

Keterlibatan lintas sektor itu mencerminkan pandangan nya bahwa pembangunan daerah tidak bisa bertumpu pada politik semata. (irj/ala/kpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru