PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Lonjakan harga emas yang terjadi belakangan ini dinilai bukan sekadar fenomena pasar biasa.
Kenaikan ini mencerminkan dua sinyal besar, yakni meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta naiknya kesadaran masyarakat untuk mengamankan aset mereka.
Rabu (28/1/26), harga emas mengalami kenaikan pada kategori emas batangan (Logam Mulia) menyentuh Rp3.003.000 per gram, emas UBS & Pegadadain Rp3.024.000 sampai Rp3.089.000, dan emas kadar 999 (24K) saat ini rata-rata berada di angka Rp2.800.000 – Rp2.950.000 per gram.
Pengamat Ekonomi sekaligus Akademisi Ekonomi Pembangunan Universitas Palangka Raya (UPR) Suherman menanggapi tren kenaikan harga emas yang menyentuh rekor tertinggi.
“Kondisi harga emas yang saat ini melonjak cepat mencerminkan dua hal. Pertama, pertanda meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kedua, ini pertanda naiknya kesadaran masyarakat mencari instrumen investasi yang dianggap aman,” ujarnya saat diwawancara awak media Rabu (28/1/2026)
Ia menjelaskan, emas sejak dulu dikenal sebagai safe haven asset.
Aset ini menjadi buruan ketika inflasi tinggi, nilai tukar bergejolak, atau kondisi geopolitik tidak stabil, yang kemudian mendorong harganya naik signifikan.
Kendati menguntungkan, masyarakat diingatkan untuk tidak salah langkah.
Suherman menekankan lima prinsip penting bagi masyarakat yang baru memulai investasi emas. Poin utamanya adalah memahami tujuan keuangan.
“Emas itu tidak cocok untuk investasi jangka pendek. Emas cocok untuk menjaga nilai kekayaan jangka menengah ke panjang. Jika tujuannya jangka pendek seperti biaya pendidikan atau dana darurat, instrumen likuid berisiko rendah lebih tepat,” tegasnya.
Prinsip kedua, masyarakat diminta tidak membeli emas hanya karena takut ketinggalan tren (FOMO).
Membeli saat harga melonjak tajam justru berisiko tinggi karena membeli di harga puncak. Strategi yang disarankan adalah membeli secara bertahap dan rutin.
Ketiga, pastikan dana darurat aman sebelum berinvestasi. Ia menyarankan agar investasi dilakukan menggunakan dana “lebih”, bukan uang kebutuhan sehari-hari.
“Banyak orang tergoda investasi, tapi akhirnya terpaksa menjual saat ada kebutuhan mendesak. Strategi ini justru merugikan,” tambahnya.
Keempat, pentingnya diversifikasi. Masyarakat disarankan tidak menaruh seluruh tabungan hanya pada emas, melainkan dikombinasikan dengan tabungan bank, deposito, atau reksa dana agar keuangan lebih tahan guncangan.
Terakhir, ia menyoroti maraknya modus penipuan di tengah tren investasi yang tinggi.
Masyarakat wajib memilih lembaga berizin dan menghindari tawaran imbal hasil yang tidak wajar.
“Banyak banget sekarang modus penipuan berkedok investasi yang bisa membuat masyarakat buntung, bukan untung,” ingatnya.
Menutup penjelasannya, suherman mengapresiasi tren masyarakat yang gemar menabung.
Namun, ia menekankan bahwa investasi yang baik bukanlah yang cepat untung, melainkan yang dilakukan dengan disiplin, sabar, dan konsisten. (Her)


