PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan kini nyaris menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memicu perhatian publik karena berpotensi berdampak pada harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat.
Berdasarkan data CNBC Indonesia, Rabu (21/1/2026), dolar AS menguat ke level Rp16.963. Angka tersebut naik sekitar 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat ekonomi Universitas Palangka Raya (UPR), Suherman, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal. Ia meminta masyarakat menyikapi kondisi tersebut secara rasional dan tidak bereaksi berlebihan.
“Rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS ini dipengaruhi tekanan global, terutama kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat,” kata Suherman kepada awak media, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, suku bunga tinggi di AS membuat investor global memindahkan dananya ke aset dolar. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Ketika imbal hasil dolar tinggi, arus modal global cenderung kembali ke AS. Dampaknya, rupiah ikut tertekan,” jelasnya.
Meski demikian, Suherman menegaskan pelemahan rupiah tidak mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Ia menilai kondisi ekonomi nasional masih relatif stabil.
“Pertumbuhan ekonomi masih terjaga, inflasi terkendali, dan cadangan devisa cukup kuat. Jadi ini bukan tanda ekonomi kita rapuh,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, pelemahan rupiah tetap menyimpan risiko, terutama terhadap harga barang impor. Komoditas yang bergantung pada pasokan luar negeri berpotensi terdorong naik.
“BBM, gandum, kedelai, obat-obatan, serta bahan baku industri pangan sangat sensitif terhadap pelemahan rupiah,” ungkap Suherman.
Untuk pangan lokal, dampaknya dinilai lebih terbatas selama ketersediaan di dalam negeri aman. “Beras, sayuran, dan ikan lokal relatif lebih terlindungi jika stok terjaga,” tambahnya.
Suherman menilai risiko akan meningkat bila pelemahan rupiah berlangsung lama. Selain memicu inflasi, beban utang luar negeri pemerintah dan swasta juga akan membesar.
“Cicilan utang berbasis dolar otomatis naik. Dunia usaha pun bisa menahan ekspansi karena ketidakpastian nilai tukar,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs melalui intervensi pasar, pengelolaan cadangan devisa, dan kebijakan suku bunga yang tepat.
Di sisi lain, pemerintah diminta mengurangi ketergantungan impor dengan memperkuat produksi dalam negeri serta menjaga stok pangan.
“Stabilitas harus dijaga bersama. Fundamental ekonomi diperkuat agar masyarakat tidak terdampak lonjakan harga kebutuhan pokok,” pungkas Suherman. (her)


