PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Memasuki pertengahan bulan Ramadan dan kian dekatnya Hari Raya Idulfitri, harga telur di pasaran terpantau mengalami kenaikan.
Fluktuasi harga ini tidak hanya memicu keluhan dari para konsumen, tetapi juga membawa tantangan tersendiri bagi para pedagang eceran terkait ketersediaan pasokan dan risiko kerugian akibat kerusakan barang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga telur sebenarnya sudah mulai terasa sejak sebelum memasuki bulan puasa.
Ahmad Nazimi (20), salah seorang pedagang telur, mengungkapkan bahwa harga telur ayam saat ini cukup bervariasi bergantung pada ukurannya.
“Awalan puasa, bahkan sebelum puasa itu sudah naik. Untuk telur ayam per tabak (ikat) harganya berkisar antara Rp 60.000 hingga Rp 65.000. Kalau eceran per biji, ada yang Rp 2.000 sampai paling tinggi Rp 2.500,” ujar Nazimi kepada awak media, Minggu (8/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa harga telur itik kini menyentuh angka Rp 100.000 per tabak atau sekitar Rp 3.500 per butir.
Kenaikan harga ini sangat dipengaruhi oleh kelancaran pasokan. Hj. Irai (48), pedagang telur lainnya, menyebutkan bahwa stok telur di pasaran saat ini sedang menipis.
Menurutnya, mayoritas pedagang mengandalkan pasokan yang didatangkan dari wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Telur dari Banjar ini kadang kosong karena memang barangnya tidak ada. Kalau mau ambil dari Jawa tidak bisa, perjalanannya jauh dan risikonya besar. Banyak telur yang busuk di jalan,” jelas Hj. Irai.
Lebih lanjut, Hj. Irai mengeluhkan tipisnya margin keuntungan di tengah tingginya harga modal. Dengan harga jual mencapai Rp 31.000 per kilogram, ia mengaku hanya mengambil keuntungan sekitar Rp 3.000 per tabak.
“Modalnya saja sudah lebih dari Rp 2.000 per butir. Kalau ada pembeli yang mencari telur seharga dua ribuan, sudah tidak ada lagi. Risiko jualannya juga besar, kalau ada yang busuk atau pecah, kita yang rugi,” tambahnya.
Meski pembeli kerap mengeluhkan kenaikan harga, daya beli masyarakat rupanya masih cukup stabil. Nazimi mengaku mampu menjual lebih dari 50 ikat telur setiap harinya, terutama karena ia memiliki pelanggan tetap seperti pedagang martabak.
“Tetap ada keluhan, cuma ya dijelasin namanya harga sehari-hari pasti ada yang naik. Kadang malah dinaikin lagi gitu, ada yang 3.000 di warung-warung biasa. Memang ada yang ngambil di sini terus dijual lagi di warung,“ terangnya.
Menariknya, fluktuasi harga ini terkadang memberikan keuntungan tersendiri bagi pedagang jika dikelola dengan baik.
“Bagi pedagang, pas harga naik justru terkadang untungnya lebih banyak. Barang stok lama yang dulu dibeli dengan harga murah, kita naikkan harganya mengikuti harga pasar,” tutup Nazimi.
Meski demikian, para pedagang berharap agar pasokan telur kembali stabil menjelang Lebaran agar tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu ekstrem, yang pada akhirnya dapat memberatkan masyarakat selaku konsumen akhir. (her)


