PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Peringatan Hari Bumi pada 22 April menjadi momentum kelam bagi kelestarian lingkungan di Kalimantan Tengah (Kalteng) .
Hasil monitoring terbaru yang dilakukan oleh Save Our Borneo (SOB) mengungkap terjadinya deforestasi masif di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas yang didorong oleh aktivitas pembukaan lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI).
Praktik ini bahkan merangsek masuk ke area konservasi dan mengancam habitat satwa endemik langka di wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan selama hampir satu tahun terakhir, Kalteng kini menempati posisi pertama sebagai provinsi dengan tingkat deforestasi tertinggi di Indonesia pada tahun 2025.
Direktur SOB, Ahmad Habibi, mengungkapkan, mengacu pada data Global Forest Watch periode 2020-2024, provinsi ini telah kehilangan tutupan hutan nyaris mencapai setengah juta hectare. Tepatnya 479.889,17 hektare.
“Tren pembukaan lahan masif kini beralih. Jika puluhan tahun sebelumnya didominasi oleh perkebunan kelapa sawit, dalam 5 hingga 10 tahun belakangan pembukaan lahan sangat masif dilakukan untuk hutan tanaman seperti komoditas akasia dan sengon,” ujarnya dalam Konferensi Pers yang diadakan SOB, Rabu (22/4/26).
Studi ini mengambil sampel pada dua perusahaan pemegang konsesi HTI di lanskap DAS Kapuas yang dinilai sangat gencar melakukan Pembukaan Lahan. Ironisnya, mayoritas area konsesi yang digusur tersebut sebenarnya masuk dalam kategori Rencana Operasi (RO) 11, yakni kawasan perlindungan area konservasi berdasarkan dokumen rencana mitigasi iklim FOLU Net Sink 2030 yang ditetapkan pemerintah.
“Deforestasi justru terjadi secara besar-besaran di dalam area RO 11. Area konservasi justru digusur dan dijadikan hutan tanaman. Ini menunjukkan ketidaksesuaian antara kebijakan pemerintah terkait mitigasi perubahan iklim dengan praktik di lapangan,” Pungkasnya.
Kajian ini secara khusus menyoroti kerusakan parah di DAS Kapuas, sebuah kawasan yang secara regulasi seharusnya dipertahankan dan dipulihkan. Kerusakan daya dukung lingkungan di wilayah ini dinilai menjadi pemicu banjir parah yang kerap melanda Kabupaten Kapuas, hingga merendam permukiman ribuan warga pada akhir tahun lalu. (her)


