FBIM Tahun 2026

Lestarikan Budaya Dayak, Manjawet Uwei Perlu Ketelitian untuk Membentuk Pola yang Rapi dan Kuat

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Suasana GOR Indoor Serbaguna Kota Palangka Raya tampak dipenuhi kesibukan para ibu-ibu peserta lomba keterampilan tradisional manjawet uwei dalam rangkaian Festival Budaya Isen Mulang 2026, Selasa pagi (19/5/2026).

19_Lomba MenganyamOk

Dengan telaten, para peserta duduk berjajar sambil memainkan jemari mereka menganyam helaian uwei yang telah disiapkan. Sesekali mereka menarik, melipat, dan merapikan anyaman dengan penuh ketelitian agar membentuk pola yang rapi dan kuat.

Suasana ruangan dipenuhi konsentrasi, namun tetap hangat dengan obrolan ringan antarpeserta. Peserta diberikan waktu paling lama delapan jam untuk menyelesaikannya.

Beberapa peserta terlihat mengenakan pakaian khas Dayak, menambah nuansa budaya yang kental dalam perlombaan tersebut. Hasil anyaman yang dibuat pun beragam memiliki motif beragam, menggambarkan kreativitas para peserta

Baca Juga :  Festival Lampion di Lamandau Digelar Pertengahan Februari 2025, Catat Jadwal dan Agendanya

Koordinator lomba, Maria Doya Aden mengatakan kegiatan tersebut menjadi upaya melestarikan budaya Dayak yang sejak dahulu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Tradisi ini harus terus dilestarikan karena merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Dayak dari dulu hingga sekarang. Kami juga ingin memperkenalkan kepada generasi muda agar tumbuh minat untuk menjaga budaya ini,” ujarnya.

Electronic money exchangers listing

Ia menjelaskan, uwei merupakan hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat Dayak sebagai bagian dari kearifan lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti membawa barang ke pertanian, berburu, hingga berbagai aktivitas lainnya.

Menurut Maria, hasil anyaman uwei kini berkembang menjadi berbagai produk fashion dan kerajinan. Seperti tas, sepatu, taplak meja, dan produk kreatif lainnya yang memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga :  Tugas Anak Belajar dan Orang Tua Menghidupi Keluarganya

Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut juga dinilai mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya para pengrajin uwei dan pelaku UMKM.

Tahun ini, lomba diikuti peserta dari delapan kabupaten dan satu kota di Kalimantan Tengah yang menampilkan keterampilan terbaik mereka dalam mengolah anyaman tradisional khas Dayak. (jef)

 

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Suasana GOR Indoor Serbaguna Kota Palangka Raya tampak dipenuhi kesibukan para ibu-ibu peserta lomba keterampilan tradisional manjawet uwei dalam rangkaian Festival Budaya Isen Mulang 2026, Selasa pagi (19/5/2026).

19_Lomba MenganyamOk

Dengan telaten, para peserta duduk berjajar sambil memainkan jemari mereka menganyam helaian uwei yang telah disiapkan. Sesekali mereka menarik, melipat, dan merapikan anyaman dengan penuh ketelitian agar membentuk pola yang rapi dan kuat.

Electronic money exchangers listing

Suasana ruangan dipenuhi konsentrasi, namun tetap hangat dengan obrolan ringan antarpeserta. Peserta diberikan waktu paling lama delapan jam untuk menyelesaikannya.

Beberapa peserta terlihat mengenakan pakaian khas Dayak, menambah nuansa budaya yang kental dalam perlombaan tersebut. Hasil anyaman yang dibuat pun beragam memiliki motif beragam, menggambarkan kreativitas para peserta

Baca Juga :  Festival Lampion di Lamandau Digelar Pertengahan Februari 2025, Catat Jadwal dan Agendanya

Koordinator lomba, Maria Doya Aden mengatakan kegiatan tersebut menjadi upaya melestarikan budaya Dayak yang sejak dahulu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Tradisi ini harus terus dilestarikan karena merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Dayak dari dulu hingga sekarang. Kami juga ingin memperkenalkan kepada generasi muda agar tumbuh minat untuk menjaga budaya ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, uwei merupakan hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat Dayak sebagai bagian dari kearifan lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti membawa barang ke pertanian, berburu, hingga berbagai aktivitas lainnya.

Menurut Maria, hasil anyaman uwei kini berkembang menjadi berbagai produk fashion dan kerajinan. Seperti tas, sepatu, taplak meja, dan produk kreatif lainnya yang memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga :  Tugas Anak Belajar dan Orang Tua Menghidupi Keluarganya

Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut juga dinilai mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya para pengrajin uwei dan pelaku UMKM.

Tahun ini, lomba diikuti peserta dari delapan kabupaten dan satu kota di Kalimantan Tengah yang menampilkan keterampilan terbaik mereka dalam mengolah anyaman tradisional khas Dayak. (jef)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru