PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Rencana aksi demonstrasi besar-besaran penambang rakyat ke Mapolda Kalimantan Tengah pada 25 Maret 2026 mulai mereda. Aliansi Penambang Rakyat Kalteng (APR-KT) yang sebelumnya bersiap turun ke jalan kini memilih membuka ruang dialog dengan pihak kepolisian untuk membahas masa depan tambang rakyat di Kalteng.
Langkah dialog itu difasilitasi Ketua Umum Perpedayak Se-Tanah Dayak, Wawan Nopardo AS. Ia mempertemukan Koordinator Lapangan APR-KT, Agus Prabowo Yesto, dengan Karo Rena Polda Kalteng, Kombes Pol Andreas Wayan Wisaksono, dalam pertemuan empat mata guna mencari jalan keluar terkait tata kelola dan keberlangsungan tambang rakyat.
“Pertemuan ini sangat strategis. Tujuannya jelas, kita ingin mencari solusi terbaik atau win-win solution terkait tata kelola dan keberlangsungan tambang rakyat di Kalimantan Tengah,” ujar Wawan saat dikonfirmasi awak media, Jumat (13/3/2026).
Saat memberikan keterangan kepada media, Wawan tampak didampingi Ketua Harian Perpedayak, Fran Nandoe.
Menurut Wawan, mempertemukan kedua pihak bukan akhir dari upaya yang dilakukan. Pertemuan tersebut justru menjadi langkah awal membuka ruang komunikasi agar persoalan tambang rakyat tidak berlarut-larut.
Hal senada disampaikan Sekjen Perpedayak yang juga Korlap APERA, Yongki Agustar. Ia menilai isu tambang rakyat perlu pengawalan serius agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
“Langkah ini bagian dari agenda konsolidasi yang akan terus kami kawal secara ketat,” ujar Yongki.
Ia juga memastikan ruang dialog antara penambang rakyat dan kepolisian tidak berhenti pada pertemuan awal tersebut.
“Ke depan, seluruh koordinasi akan dipusatkan melalui APERA dan Perpedayak. Kami ingin memastikan komunikasi dengan pihak kepolisian tetap berjalan konstruktif dan berujung pada solusi nyata bagi tambang rakyat,” tegasnya. (her)


