PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Kalimantan Tengah menyoroti besarnya peran orang tua dalam melindungi anak dari paparan konten negatif hingga paham ekstrem di era digital. Pengawasan dan pendampingan dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar melarang anak bermain gim atau menggunakan gawai.
Anggota Satgas PPA Kalteng, Widya Kumala, menegaskan pencegahan harus dimulai sejak dini dari lingkungan keluarga. Menurutnya, memutus akses digital tanpa edukasi hanya menyelesaikan masalah di permukaan dan berpotensi memicu persoalan baru.
“Game itu sendiri tidak salah. Yang jadi masalah, ada oknum yang memanfaatkan celah, termasuk lewat game atau media digital, untuk merekrut anggota. Jadi, kalau gamenya dihapus, apakah masalah selesai? Saya kira tidak,” ujar Widya Kumala, Selasa (13/1/2025).
Perempuan yang akrab disapa Yaya ini menekankan pentingnya pembatasan yang sehat, pengawasan aktif, serta pendampingan orang tua saat anak menggunakan gawai maupun bermain gim. Anak perlu dipahami, bukan sekadar dikontrol.
Menurut Yaya, fondasi utama perlindungan anak ada pada kedekatan emosional dalam keluarga. Anak yang merasa didengar dan diterima di rumah tidak mudah mencari pelarian atau jawaban dari sumber luar yang keliru.
“Biasakan ngobrol ringan setiap hari. Dengarkan cerita anak tanpa menghakimi, dan jadilah tempat paling aman bagi mereka untuk bertanya apa pun,” katanya.
Selain kedekatan emosional, orang tua juga perlu menanamkan nilai dasar sejak dini, seperti menghargai perbedaan, menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, serta menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam hal penggunaan internet, Yaya mengingatkan agar orang tua tidak hanya fokus pada pembatasan waktu, tetapi juga pendampingan. Konten harus disesuaikan usia, fitur parental control diaktifkan, dan penggunaan gawai sebaiknya dilakukan di ruang bersama, bukan di kamar pribadi.
“Daripada melarang keras, lebih baik ajak ngobrol dengan pendekatan sederhana, misalnya bertanya ‘tadi nonton apa?’ supaya anak mau terbuka,” jelasnya.
Ia juga mendorong orang tua melatih anak berpikir kritis sejak dini, dengan membiasakan anak menilai apakah suatu informasi benar, bermanfaat, atau layak diikuti.
Pemahaman agama dan nilai moral, lanjut Yaya, perlu dikenalkan dengan cara yang sejuk dan penuh kasih. Pendekatan ramah dan toleran diyakini mampu mencegah anak tertarik pada narasi ekstrem yang sarat kebencian.
Orang tua juga diminta peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti mendadak tertutup, mudah marah, atau sering melontarkan ujaran kebencian dan kekerasan. Jika tanda-tanda itu muncul, dialog tenang jauh lebih efektif dibanding kemarahan.
Tak kalah penting, lingkungan positif harus diperkuat dengan mengenal teman bermain anak, melibatkan mereka dalam kegiatan bermanfaat, serta membangun komunikasi dengan sekolah dan guru.
“Dan yang paling utama, orang tua harus jadi contoh. Anak lebih banyak meniru apa yang dilihat, bukan sekadar mendengar nasihat,” pungkasnya. (jef)


