PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan pada Desember 2025 sebesar 134,59 atau turun 0,36 persen dibandingkan November 2025 .
“Penurunan NTP ini terjadi karena kenaikan indeks harga yang dibayar petani lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang diterima petani,” kata Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah Agnes Widiastuti, Senin (5/1/2025).
Dia menjelaskan, pada Desember 2025 indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik 1,25 persen, sementara indeks harga yang diterima petani (It) hanya meningkat 0,89 persen.
“Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap daya beli petani karena peningkatan biaya konsumsi dan produksi lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima,” ujarnya .
Penurunan NTP terutama dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun 1,17 persen serta subsektor Perikanan yang turun 0,44 persen .
“Pada subsektor perkebunan rakyat, kenaikan harga hasil produksi belum mampu mengimbangi kenaikan biaya yang harus dikeluarkan petani,” jelasnya.
Sementara itu, beberapa subsektor justru mencatatkan peningkatan NTP, seperti Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan selama Desember 2025 .
“Subsektor hortikultura mengalami kenaikan paling signifikan sebesar 4,59 persen, terutama dipicu oleh lonjakan harga sayur-sayuran seperti cabai dan tomat,” katanya.
Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Tengah pada Desember 2025 mengalami kenaikan 0,32 persen menjadi 139,92.
“Kenaikan NTUP menunjukkan bahwa dari sisi usaha, rumah tangga pertanian masih memiliki ketahanan yang cukup baik meskipun menghadapi tekanan kenaikan biaya,” tutupnya. (adr)


