31 C
Jakarta
Tuesday, February 3, 2026

Gambut 36 Meter, Pulang Pisau Disebut Paling Rawan Karhutla di Kalteng

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabupaten Pulang Pisau disebut sebagai wilayah paling rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Penyebab utamanya adalah keberadaan gambut yang sangat dalam, membuat api sulit dipadamkan jika sudah menjalar hingga ke lapisan bawah tanah.

Kondisi tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB-PK Kalimantan Tengah, Indra Wiratama. Dia menyebut Pulang Pisau memiliki kubah gambut dengan kedalaman ekstrem, bahkan mencapai 36 meter, yang menjadi tantangan besar dalam penanganan karhutla.

“Kalau api sudah masuk ke lapisan bawah gambut, pemadamannya sangat sulit. Di Pulang Pisau, kedalaman gambutnya bisa sampai 36 meter,” kata Indra, Sabtu (25/1/2026).

Indra menjelaskan, karakter kebakaran di lahan gambut sangat berbeda dengan lahan mineral. Api di gambut bisa bertahan lama di bawah permukaan tanah dan terus menjalar, meski di bagian atas terlihat sudah padam.

Baca Juga :  Restocking Perairan Diharap Tingkatkan Ekonomi Warga

“Kalau tanah mineral seperti di Barito Utara, kebakaran biasanya cepat selesai. Tapi di gambut, apinya bisa bertahan lama dan sulit dikendalikan,” ujarnya.

Selain Pulang Pisau, wilayah selatan Kalimantan Tengah juga masuk kategori rawan karhutla karena memiliki ketebalan gambut yang hampir serupa. Sementara itu, sepanjang awal 2026, karhutla tercatat terjadi di Kotawaringin Timur, Sukamara, Kotawaringin Barat, dan Kota Palangka Raya.

“Awal 2026 ini, kejadian karhutla ada di Kotim, Sukamara, Kotawaringin Barat, dan Palangka Raya. Pulang Pisau justru alhamdulillah belum terjadi,” lanjutnya.

Electronic money exchangers listing

Menurut Indra, jika karhutla terjadi di Pulang Pisau, dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokal. Asap berpotensi menyebar ke wilayah lain, termasuk Kota Palangka Raya, tergantung arah angin yang umumnya bertiup dari tenggara.

Baca Juga :  Parah! di Palangka Raya, Gas Subsidi Lampaui HET

“Kalau Pulang Pisau terbakar, asapnya bisa mengarah ke Palangka Raya dan berdampak pada penerbangan serta aktivitas ekonomi,” tutupnya. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kabupaten Pulang Pisau disebut sebagai wilayah paling rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Penyebab utamanya adalah keberadaan gambut yang sangat dalam, membuat api sulit dipadamkan jika sudah menjalar hingga ke lapisan bawah tanah.

Kondisi tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB-PK Kalimantan Tengah, Indra Wiratama. Dia menyebut Pulang Pisau memiliki kubah gambut dengan kedalaman ekstrem, bahkan mencapai 36 meter, yang menjadi tantangan besar dalam penanganan karhutla.

“Kalau api sudah masuk ke lapisan bawah gambut, pemadamannya sangat sulit. Di Pulang Pisau, kedalaman gambutnya bisa sampai 36 meter,” kata Indra, Sabtu (25/1/2026).

Electronic money exchangers listing

Indra menjelaskan, karakter kebakaran di lahan gambut sangat berbeda dengan lahan mineral. Api di gambut bisa bertahan lama di bawah permukaan tanah dan terus menjalar, meski di bagian atas terlihat sudah padam.

Baca Juga :  Restocking Perairan Diharap Tingkatkan Ekonomi Warga

“Kalau tanah mineral seperti di Barito Utara, kebakaran biasanya cepat selesai. Tapi di gambut, apinya bisa bertahan lama dan sulit dikendalikan,” ujarnya.

Selain Pulang Pisau, wilayah selatan Kalimantan Tengah juga masuk kategori rawan karhutla karena memiliki ketebalan gambut yang hampir serupa. Sementara itu, sepanjang awal 2026, karhutla tercatat terjadi di Kotawaringin Timur, Sukamara, Kotawaringin Barat, dan Kota Palangka Raya.

“Awal 2026 ini, kejadian karhutla ada di Kotim, Sukamara, Kotawaringin Barat, dan Palangka Raya. Pulang Pisau justru alhamdulillah belum terjadi,” lanjutnya.

Menurut Indra, jika karhutla terjadi di Pulang Pisau, dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokal. Asap berpotensi menyebar ke wilayah lain, termasuk Kota Palangka Raya, tergantung arah angin yang umumnya bertiup dari tenggara.

Baca Juga :  Parah! di Palangka Raya, Gas Subsidi Lampaui HET

“Kalau Pulang Pisau terbakar, asapnya bisa mengarah ke Palangka Raya dan berdampak pada penerbangan serta aktivitas ekonomi,” tutupnya. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru