PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Edy Pratowo menyoroti tingginya angka migrasi penduduk sebagai salah satu penyebab meningkatnya kemiskinan di wilayah ini.
Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kenaikan persentase penduduk miskin.
Edy menjelaskan bahwa banyak pendatang datang ke Kalteng untuk mencari pekerjaan, terutama di daerah yang kaya akan sumber daya alam. Fenomena ini, menurutnya, berkontribusi pada peningkatan jumlah penduduk miskin.
“Pendatang yang mencari pekerjaan di wilayah dengan kekayaan sumber daya alam menjadi salah satu penyebab naiknya angka kemiskinan,” ujar Edy, Kamis (16/1).
Ia mencontohkan Barito Timur (Bartim) sebagai salah satu wilayah yang mengalami lonjakan jumlah penduduk secara signifikan.
Kondisi ini, katanya, turut memengaruhi kenaikan harga kebutuhan pokok akibat meningkatnya permintaan barang dan jasa.
“Angka kedatangan yang tinggi membuat kebutuhan barang meningkat sehingga harga menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah lain,” imbuhnya.
Meski demikian, Edy juga melihat sisi positif dari perpindahan penduduk.
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa Kalteng menjadi tujuan dengan peluang kerja yang besar, terutama karena adanya sejumlah program strategis nasional.
“Perpindahan penduduk ini menunjukkan bahwa Kalteng memiliki peluang kerja yang besar, terutama dengan kehadiran program strategis nasional,” jelasnya.
Edy menambahkan, program nasional di sektor pangan yang dijalankan di Kalteng diharapkan mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
“Dengan program-program nasional ini, kami optimistis kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti memaparkan bahwa pada September 2024, persentase penduduk miskin di Kalteng mencapai 5,26%, naik 0,09% dibandingkan Maret 2024. Jumlah penduduk miskin bertambah sekitar 3.610 orang, menjadi 149.240 jiwa.
“Di perkotaan, angka kemiskinan naik menjadi 5,22%, sedangkan di perdesaan turun sedikit ke 5,29%,” ujar Agnes.
Agnes juga mencatat garis kemiskinan di Kalteng pada September 2024 mencapai Rp641.524 per kapita per bulan, naik 2,82% dibandingkan periode sebelumnya. Sebagian besar pengeluaran penduduk digunakan untuk kebutuhan makanan.
Namun, ada perkembangan positif dari sisi ketimpangan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan penurunan, menandakan adanya perbaikan distribusi pendapatan.
“Meski ada perbaikan dalam ketimpangan pendapatan, Gini Ratio meningkat sedikit menjadi 0,304, dengan ketimpangan yang lebih tinggi di perkotaan dibandingkan perdesaan,” tutup Agnes. (hfz)