28 C
Jakarta
Wednesday, January 28, 2026

Pemprov Kalteng Intensifkan Pemantauan Banjir di Daerah Rawan

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO  – Banjir masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga awal Januari 2026.

Data terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (PusdalopsPB) Provinsi Kalteng pada 8 Januari 2026 mencatat, dampak banjir belum sepenuhnya surut, dengan Kabupaten Barito Selatan menjadi daerah terdampak paling parah.

Banjir yang telah berlangsung sejak 27 Desember 2025 itu menggenangi permukiman warga, fasilitas umum, serta lahan pertanian, dengan ketinggian air di beberapa lokasi berkisar 30 sentimeter hingga 102 sentimeter.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPB-PK Provinsi Kalteng, Alpius Patanan, Jumat (9/1), mengatakan bahwa hingga 8 Januari 2026, jumlah warga terdampak di Barito Selatan mencapai 18.714 kepala keluarga atau 57.287 jiwa.

“Sebaran banjir mencakup enam kecamatan dan 60 desa atau kelurahan. Kondisi di lapangan masih dinamis karena banjir belum sepenuhnya surut,” ujar Alpius.

Wilayah terdampak antara lain Desa Majundre di Kecamatan Dusun Utara, serta Desa Mahajandau dan Desa Mangkatir di Kecamatan Dusun Hilir.

Selain permukiman, banjir juga merendam 5.478 unit bangunan dan 4.624 fasilitas umum, termasuk gedung perkantoran, sarana kesehatan, lahan pertanian, dan akses jembatan.

Electronic money exchangers listing

Pemerintah Provinsi Kalteng melalui BPB-PK terus melakukan langkah penanganan darurat.

“Data rekapitulasi terus kami perbarui,” tegas Alpius.

Sementara itu, wilayah lain seperti Murung Raya, Barito Utara, dan Kota Palangka Raya masih berada dalam status pemantauan.

Hingga laporan terakhir, dampak banjir di wilayah tersebut belum signifikan.

Baca Juga :  Orientasi Tuntas, PPPK Angkatan III Kalteng Didorong Tingkatkan Pelayanan Publik

Di tempat berbeda, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBPK Provinsi Kalteng, Indra Wiratama, mengatakan kondisi geografis Barito Selatan turut memperparah situasi banjir yang terjadi.

“Curah hujan yang masih relatif tinggi di Kalimantan Tengah menjadi penyebab utama banjir belum surut. Selain itu, untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kabupaten Barito Selatan merupakan wilayah dataran rendah dan menjadi area akhir aliran Sungai Barito sebelum mengarah ke Provinsi Kalimantan Selatan, serta sebagian kecil ke Kabupaten Kapuas,” ujar Indra, Kamis (8/1).

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, menyusul potensi hujan yang masih terjadi di Kalteng dalam beberapa hari ke depan.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Ika, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG, prediksi potensi banjir di Kalteng pada Dasarian II Januari 2026 berada pada kategori rendah.

Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya banjir lokal, terutama di wilayah yang saat ini masih tergenang atau memiliki sistem drainase terbatas.

“Meski secara klimatologis masuk kategori rendah, hujan yang terjadi secara terus-menerus dengan durasi cukup lama tetap berpotensi memicu genangan dan banjir di wilayah rawan,” jelas Ika.

BMKG mencatat sejumlah kecamatan di beberapa kabupaten/kota masih masuk dalam peta potensi banjir kategori rendah.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Barito Selatan di Kecamatan Dusun Hilir, Dusun Selatan, Dusun Utara, Gunung Bintang Awai, dan Karau Kuala; Barito Timur di Kecamatan Pematang Karau; serta Barito Utara di Kecamatan Gunung Timang, Lahei, Lahei Barat, Montallat, Teweh Baru, Teweh Selatan, dan Teweh Tengah.

Baca Juga :  Sekda Kalteng: Ada ASN Tak Netral, Silakan Laporkan ke Bawaslu

Selain itu, potensi serupa juga terpetakan di Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Katingan, Murung Raya, Pulang Pisau, serta Kota Palangka Raya, khususnya Kecamatan Rakumpit.

Untuk kategori potensi menengah dan tinggi, BMKG menyatakan tidak ada wilayah di Kalimantan Tengah yang teridentifikasi. Namun demikian, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca level Waspada.

Pada Jumat (10/1), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di seluruh wilayah Kalteng. Sementara pada Minggu (11/1), hujan diprediksi melanda wilayah Katingan, Murung Raya, Kapuas, Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, serta kawasan pesisir selatan Kalteng.

BMKG juga mengingatkan potensi hujan lokal berdurasi singkat yang dapat disertai petir atau kilat, angin kencang, hingga angin puting beliung, terutama pada siang hingga malam hari.

“Masyarakat diimbau waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti genangan air, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gangguan transportasi, khususnya di wilayah bantaran sungai dan daerah dataran rendah,” ujar Ika.

Pihaknya meminta masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas kebencanaan di lapangan. (ovi/rif)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO  – Banjir masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga awal Januari 2026.

Data terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (PusdalopsPB) Provinsi Kalteng pada 8 Januari 2026 mencatat, dampak banjir belum sepenuhnya surut, dengan Kabupaten Barito Selatan menjadi daerah terdampak paling parah.

Banjir yang telah berlangsung sejak 27 Desember 2025 itu menggenangi permukiman warga, fasilitas umum, serta lahan pertanian, dengan ketinggian air di beberapa lokasi berkisar 30 sentimeter hingga 102 sentimeter.

Electronic money exchangers listing

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPB-PK Provinsi Kalteng, Alpius Patanan, Jumat (9/1), mengatakan bahwa hingga 8 Januari 2026, jumlah warga terdampak di Barito Selatan mencapai 18.714 kepala keluarga atau 57.287 jiwa.

“Sebaran banjir mencakup enam kecamatan dan 60 desa atau kelurahan. Kondisi di lapangan masih dinamis karena banjir belum sepenuhnya surut,” ujar Alpius.

Wilayah terdampak antara lain Desa Majundre di Kecamatan Dusun Utara, serta Desa Mahajandau dan Desa Mangkatir di Kecamatan Dusun Hilir.

Selain permukiman, banjir juga merendam 5.478 unit bangunan dan 4.624 fasilitas umum, termasuk gedung perkantoran, sarana kesehatan, lahan pertanian, dan akses jembatan.

Pemerintah Provinsi Kalteng melalui BPB-PK terus melakukan langkah penanganan darurat.

“Data rekapitulasi terus kami perbarui,” tegas Alpius.

Sementara itu, wilayah lain seperti Murung Raya, Barito Utara, dan Kota Palangka Raya masih berada dalam status pemantauan.

Hingga laporan terakhir, dampak banjir di wilayah tersebut belum signifikan.

Baca Juga :  Orientasi Tuntas, PPPK Angkatan III Kalteng Didorong Tingkatkan Pelayanan Publik

Di tempat berbeda, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBPK Provinsi Kalteng, Indra Wiratama, mengatakan kondisi geografis Barito Selatan turut memperparah situasi banjir yang terjadi.

“Curah hujan yang masih relatif tinggi di Kalimantan Tengah menjadi penyebab utama banjir belum surut. Selain itu, untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kabupaten Barito Selatan merupakan wilayah dataran rendah dan menjadi area akhir aliran Sungai Barito sebelum mengarah ke Provinsi Kalimantan Selatan, serta sebagian kecil ke Kabupaten Kapuas,” ujar Indra, Kamis (8/1).

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, menyusul potensi hujan yang masih terjadi di Kalteng dalam beberapa hari ke depan.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Ika, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG, prediksi potensi banjir di Kalteng pada Dasarian II Januari 2026 berada pada kategori rendah.

Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya banjir lokal, terutama di wilayah yang saat ini masih tergenang atau memiliki sistem drainase terbatas.

“Meski secara klimatologis masuk kategori rendah, hujan yang terjadi secara terus-menerus dengan durasi cukup lama tetap berpotensi memicu genangan dan banjir di wilayah rawan,” jelas Ika.

BMKG mencatat sejumlah kecamatan di beberapa kabupaten/kota masih masuk dalam peta potensi banjir kategori rendah.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Barito Selatan di Kecamatan Dusun Hilir, Dusun Selatan, Dusun Utara, Gunung Bintang Awai, dan Karau Kuala; Barito Timur di Kecamatan Pematang Karau; serta Barito Utara di Kecamatan Gunung Timang, Lahei, Lahei Barat, Montallat, Teweh Baru, Teweh Selatan, dan Teweh Tengah.

Baca Juga :  Sekda Kalteng: Ada ASN Tak Netral, Silakan Laporkan ke Bawaslu

Selain itu, potensi serupa juga terpetakan di Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Katingan, Murung Raya, Pulang Pisau, serta Kota Palangka Raya, khususnya Kecamatan Rakumpit.

Untuk kategori potensi menengah dan tinggi, BMKG menyatakan tidak ada wilayah di Kalimantan Tengah yang teridentifikasi. Namun demikian, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca level Waspada.

Pada Jumat (10/1), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di seluruh wilayah Kalteng. Sementara pada Minggu (11/1), hujan diprediksi melanda wilayah Katingan, Murung Raya, Kapuas, Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, serta kawasan pesisir selatan Kalteng.

BMKG juga mengingatkan potensi hujan lokal berdurasi singkat yang dapat disertai petir atau kilat, angin kencang, hingga angin puting beliung, terutama pada siang hingga malam hari.

“Masyarakat diimbau waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti genangan air, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gangguan transportasi, khususnya di wilayah bantaran sungai dan daerah dataran rendah,” ujar Ika.

Pihaknya meminta masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas kebencanaan di lapangan. (ovi/rif)

Terpopuler

Artikel Terbaru