26.2 C
Jakarta
Friday, March 6, 2026

Lomba Bagarakan Sahur di Mura, Semarakan Malam Ramadan

PURUK CAHU,PROKALTENG.CO – Lomba Bagarakan Sahur ramaikan malam Ramadan di Murung Raya. Lomba tersebut diselenggarakan oleh Orda ICMI Murung Raya, terlihat semarak di halaman Mesjid Al Istiqlal  Puruk Cahu.

Ketua Orda ICMI Murung Raya, Lukmanul Hakim mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus melestarikan tradisi lama yang mulai jarang terlihat.

“Kami ingin anak-anak muda tetap menjaga budaya membangunkan sahur, tapi dengan sentuhan kreativitas agar lebih menarik,” ujarnya.

Salah satu tim tampil mencuri perhatian dengan kostum seragam bernuansa Islami dan koreografi sederhana yang dilakukan sambil berjalan.

Rasidayanti salah satu warga mengaku senang dengan adanya lomba tersebut.

“Biasanya cuma dengar biasa. Sekarang ada nyanyian dan pantun lucu, jadi terasa lebih hidup,” katanya.

Baca Juga :  Mahasiswa Diharapkan Terapkan Ilmu yang dimilikinya

Penilaian lomba dilakukan berdasarkan kekompakan tim, kreativitas, etika saat berkeliling, serta kemampuan menjaga ketertiban. Panitia juga menekankan agar peserta tidak menggunakan pengeras suara berlebihan demi kenyamanan bersama.

Electronic money exchangers listing

Wakil Bupati Murung Raya Rahmanto Muhidin saat membuka lomba tersebut menyampaikam pesan. Dia mengatakan tradisi membangunkan sahur sejatinya bukan hanya soal membangunkan orang untuk makan sebelum subuh.

Namun lebih dari itu, menurutnya adalah simbol kepedulian sosial—sebuah cara sederhana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Di tengah era digital, ketika alarm ponsel bisa dengan mudah menggantikan peran kentongan, suara tabuhan dini hari itu tetap memiliki makna yang tak tergantikan.

“Di tengah arus modernisasi, suara kentongan dini hari itu seakan mengingatkan bahwa ada nilai gotong royong dan kekeluargaan yang tetap hidup—menyatu dalam irama sahur yang membangunkan, bukan hanya raga, tetapi juga rasa kebersamaan,” tegas Rahmanto.

Baca Juga :  Langkah- Langkah Memulai Tidur Awal Selama Bulan Ramadan

Ia juga mengatakan bahwa lomba ini menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kebersamaan, kreativitas, dan menjaga tradisi yang mengakar di tengah masyarakat.

“Lomba ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat bertahan dan berkembang jika dirawat dengan kreativitas dan kebersamaan. Ramadan pun terasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum mempererat silaturahmi antarwarga,” tegasnya. (pan)

PURUK CAHU,PROKALTENG.CO – Lomba Bagarakan Sahur ramaikan malam Ramadan di Murung Raya. Lomba tersebut diselenggarakan oleh Orda ICMI Murung Raya, terlihat semarak di halaman Mesjid Al Istiqlal  Puruk Cahu.

Ketua Orda ICMI Murung Raya, Lukmanul Hakim mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus melestarikan tradisi lama yang mulai jarang terlihat.

“Kami ingin anak-anak muda tetap menjaga budaya membangunkan sahur, tapi dengan sentuhan kreativitas agar lebih menarik,” ujarnya.

Electronic money exchangers listing

Salah satu tim tampil mencuri perhatian dengan kostum seragam bernuansa Islami dan koreografi sederhana yang dilakukan sambil berjalan.

Rasidayanti salah satu warga mengaku senang dengan adanya lomba tersebut.

“Biasanya cuma dengar biasa. Sekarang ada nyanyian dan pantun lucu, jadi terasa lebih hidup,” katanya.

Baca Juga :  Mahasiswa Diharapkan Terapkan Ilmu yang dimilikinya

Penilaian lomba dilakukan berdasarkan kekompakan tim, kreativitas, etika saat berkeliling, serta kemampuan menjaga ketertiban. Panitia juga menekankan agar peserta tidak menggunakan pengeras suara berlebihan demi kenyamanan bersama.

Wakil Bupati Murung Raya Rahmanto Muhidin saat membuka lomba tersebut menyampaikam pesan. Dia mengatakan tradisi membangunkan sahur sejatinya bukan hanya soal membangunkan orang untuk makan sebelum subuh.

Namun lebih dari itu, menurutnya adalah simbol kepedulian sosial—sebuah cara sederhana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Di tengah era digital, ketika alarm ponsel bisa dengan mudah menggantikan peran kentongan, suara tabuhan dini hari itu tetap memiliki makna yang tak tergantikan.

“Di tengah arus modernisasi, suara kentongan dini hari itu seakan mengingatkan bahwa ada nilai gotong royong dan kekeluargaan yang tetap hidup—menyatu dalam irama sahur yang membangunkan, bukan hanya raga, tetapi juga rasa kebersamaan,” tegas Rahmanto.

Baca Juga :  Langkah- Langkah Memulai Tidur Awal Selama Bulan Ramadan

Ia juga mengatakan bahwa lomba ini menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kebersamaan, kreativitas, dan menjaga tradisi yang mengakar di tengah masyarakat.

“Lomba ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat bertahan dan berkembang jika dirawat dengan kreativitas dan kebersamaan. Ramadan pun terasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum mempererat silaturahmi antarwarga,” tegasnya. (pan)

Terpopuler

Artikel Terbaru