Oleh Deva Rachman *)
BARU-BARU ini, Ajay Banga, Presiden World Bank Group, menyoroti tantangan yang sedan berpotensi terjadi pada negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Indonesia, memiliki kurang lebih 140 juta generasi muda dengan umur 16 – 30 tahun yang akan mendominasi bangsa kita.
Data BPS pada November 2025 sekitar 42,3% pekerja Indonesia berada pada sektor formal, dan sisanya sekitar 58% bekerja sektor Informal.
Mereka yang bekerja di sektor informal bekerja di pekerja keluarga tidak dibayar, ojek online, penjual makanan keliling, buruh tak tetap dengan gaji harian atau dengan gaji berdasarkan komisi.
Dari total 155,27 juta angkatan kerja yang saat ini aktif, mayoritas tidak mempunyai status kerja yang aktif atau tetap.
Indonesia akan memasuki masa Indonesia Emas pada tahun 2045, sehingga kurang lebih 15 tahun kita memiliki waktu untuk mempersiapkan sosial kapital dan ekonomi bagi angkatan kerja aktif ini.
Demografi yang bisa menjadi senjata rahasia Indonesia, bisa berubah menjadi petaka yang besar jika kita tidak mampu menghadirkan program yang komprehensif dan holistik dalam bidang sosial dan ekonomi.
Laporan ILO (International Labour Organisation) baru-baru ini menunjukkan pekerja yang pendidikan sesuai dengan pekerjaannya kurang lebih hanya 34% dan kebanyakan mereka under educated.
Indonesia sendiri total penduduk yang lulus dari pendidikan tinggi hanya kira-kira 10-11% atau sekitar 28 juta orang, pendidikan tinggi disini adalah setaraf SMA. Sedangkan sisanya lulusan SD dan SMP.
Disimpulkan disini bahwa pertumbuhan ekonomi yang kita nikmati tidak menghasilkan penyediaan pekerjaan yang layak arena sebagian besar tenaga kerja terserap di sektor informal dan berupah rendah atau hidup berdasarkan komisi, minim perlindungan dan rentan.
Di mana Koperasi dapat Membalikan Keadaan?
Dari semua permasalahan yang ada ditambah dengan parahnya kerusakan alam dan tingkat korupsi yang tinggi, di mana Gerakan Koperasi dapat membalikan keadaan ini? Pertumbuhan ekonomi sebesar 5% lebih ternyata hanya mampu dinikmati oleh segelintir piramida populasi kita.
Konsentrasi ekonomi berputar di sekitar sektor-sektor besar, pembangunan infrastruktur tidak dinikmati oleh kebanyakan penduduk Indonesia dan kebanyakan mereka tidak mendapatkan pendapatan dan perlindungan yang memadai.
Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia dan telah mengakar sejak tahun 1905 sejak HOS Tjokroaminoto, pendiri Syarikat Islam dan Bapak ideologis dari Presiden Soekarno dan banyak tokoh bangsa lainnya, telah membuat landasan koperasi bagi bangsa Indonesia.
Gotong royong dan konsep saling menolong di mana tidak terdapat majikan dan pegawai, menjadi daya tarik tersendiri dari gerakan ini terutama anak-anak gen Z yang masih memiliki semangat untuk membentuk dunia nya sendiri selain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan konsep pekerja kantoran pada umumnya.
Koperasi yang saat ini berjumlah kurang lebih 300 ribuan unit dan tersebar lebih banyak di pulau Jawa terutama di Jawa Timur. Baru-baru ini saya mengikuti perjalanan lebih dari 35 pengusaha muda berumur rata-rata 25 – 35 tahun ke kota Shenzhen dan Guangzhou bersama Sands Bossum dan Business Leader Sandiaga Uno.
Dari ke 35 pebisnis muda tersebut, banyak harapan dan kerjasama bisnis serta pembelajaran dari berbagai industri kelas dunia dari Cina seperti Huawei, Mindray, pembuat mobil listrik BYD dan industri kosmetik Tian Wu.
Kegigihan, keberanian dan dukungan dari pemerintah dalam mengembangkan usaha industri dalam negeri dan menjadi tuan di negeri sendiri terasa di dalam presentasi yang mereka berikan.
Di kompleks Huawei, saya melihat bagaimana Huawei menghadirkan mindset bahwa Cina tidak kalah dengan Eropa dengan menghadirkan teknologi kelas dunia dan gedung-gedung serta suasana seperti di negara German, Swiss, Prancis, Inggris dan Eropa.
Pembuatan teknologi smartphone kelas dunia Huawei yang high-tech dan sangat rapi di bangun sejak tahun 1987an. Salah satu yang menarik adalah kunjungan ke Huawei di mana kepemilikan saham dimiliki owner hanya 0.6% dari keseluruhan saham yang ada dan sisa nya dimiliki oleh pegawai — mirip dengan gerakan koperasi.
Saya melihat bahwa hal ini, dapat menjadi pembelajaran besar bagaimana suatu bisnis dibangun dengan asas kebersamaan dan mampu bertahan di tengah tunjangan global dan pasar yang sering menyerang mereka terutama dari pihak Amerika Serikat.
Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia, bisa belajar banyak dari perjalanan ini. Anak-anak muda yang masih “green fields” atau belum tersentuh dengan gerakan koperasi dapat dirangkul dan diberikan fasilitas pembiayaan yang menarik. Salah satu yang menarik adalah pembiayaan dari LPDB Koperasi (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) Koperasi.
Dengan rate yang menarik sebesar 6,5% untuk bisnis konvensional non – shariah dan 3.5% untuk bisnis syariah tanpa biaya provisi dan administrasi tentu amat menarik bagi mereka. Dari ke 35 pengusaha muda tersebut, banyak dari mereka yang berminat untuk bergabung ke Koperasi.
Bayangkan jika mereka bisa bergabung dan sama-sama membangun Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih.
Relevansi Gerakan Koperasi dengan Generasi Muda
Indonesia sudah saatnya membangun angkatan muda Koperasi ke depan. Dengan bonus 15 tahun dan 140 juta angkatan kerja di mana 60% adalah di sektor informal, diperlukan social engineering program yang dapat membalikan suasana dan keadaan dengan pemahaman dan program-program yang menarik bagi anak muda.
Saat ini, rata-rata umur dari anggota koperasi berumur 55 tahun, kebanyakan dari mereka adalah pensiunan dari pekerja tradisional yang ingin menginvestasikan uangnya secara aman dan mendapatkan sisa hasil usaha lebih dari sekedar deposito belaka. Hal ini harus dapat kita ubah segera dengan pendekatan koperasi bagi angkatan muda.
Koperasi Start-Up dan Digital Creative adalah salah satu yang dapat digarap untuk meningkatkan minat anak muda selain memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka selain menyediakan sisa hasil usaha akhir tahun.
Koperasi amat menarik bagi anak muda dengan berbagai keunikannya, yaitu pertama anak muda saat ini lebih tertarik pada bisnis yang fokus ada alternatif etis di luar perusahaan tradisional yang hanya mengejar profit semata.
Gerakan koperasi menawarkan Pemberdayaan dan Kepemilikan di mana anggota secara langsung bisa mengontrol perusahaan secara demokratis atas usaha mereka, ini memungkinkan para generasi muda jadi pemilik bukan hanya sebagai buruh atau objek penderita suatu usaha.
Yang kedua adalah keselarasan nilai, dengan prinsip koperasi yang peduli terhadap komunitas dan keanggotaan sukarela, amat cocok dengan DNA anak muda Gen Z dan prioritas sosial mereka.
Yang ketiga adalah kewirausahaan dan kebebasan dalam berusaha, koperasi yang dipimpin pemuda seperti mobil berbasis layanan anak muda, services industry memberikan pemahaman dan pengalaman langsung dalam manajemen sinis dn liberasi keuangan.
Terakhir adalah peluang ekonomi di mana koperasi dapat menciptakan lapangan kerja di wilayah yang tersulit seperti mencari pekerjaan yang layak , bahkan seringkali dapat meningkatan pendapatan anak-anak muda secara signifikan.
Dalam studi CICOPA (Young Entrepreneurship in Cooperative), lebih dari 60% pesertanya mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan dengan proteksi pekerjaan yang lebih baik daripada sektor perusahaan tradisional.
Apa yang harus Indonesia lakukan?
Indonesia baru-baru ini menggagas 83 ribu koperasi desa dan kelurahan merah putih di mana 30 ribu ditargetkan beroperasi pada bulan Maret ini. Apakah target ini terlalu besar? Tidak ada yang terlalu besar dalam mimpi yang besar.
Dengan kekuatan dan senjata rahasia angkatan pemuda Indonesia sebesar 140 juta orang, Indonesia memiliki segala kekuatan untuk membalikan keadaan asalkan didukung oleh strategi yang mumpuni untuk menggerakkan para pemuda ini.
Saatnya generasi muda berkoperasi dan saat nya Indonesia menjawab tantangan dan mimpi sejak hampir 120 tahun yang lalu, menjadi bangsa yang besar, berkoperasi dan berkeadilan.
*) Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi & Praktisi Public Affairs Global


