26.1 C
Jakarta
Saturday, April 5, 2025

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Mengenang Kisah Hidup Rasulullah

PROKALTENG.CO –  Maulid Nabi Muhammad SAW senantiasa diperingati oleh umat muslim pada tanggal 12 Rabiul Awal yang tahun ini tepatnya jatuh pada hari Kamis (28/9).

Maulid Nabi Muhammad SAW sendiri dapat dimaknai sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, sehingga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat diartikan sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau tepatnya tahun 571 M.

Kelahiran Nabi Muhammad disebut sebagai tahun Gajah karena pada tahun tersebut terjadi sebuah peristiwa besar yakni penyerangan kota Mekkah oleh pasukan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah.

Nabi Muhammad lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Siti Aminah dengan kondisi yatim, dikarenakan ayah Nabi Muhammad yang bernama Abdullah meninggal dunia ketika Nabi Muhammad baru berusia dua bulan di kandungan ibundanya.

Mengutip dari ‘Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah SAW’ yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, setelah Nabi Muhammad dilahirkan oleh ibunya Beliau kemudian dibawa oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib untuk dibawa ke Ka’bah.

Di Ka’bah Abdul Muthalib mengucap syukur dan berdoa kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Kemudian ia menyerahkan kembalikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada ibunya, dan ia mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah.

Disusui Oleh Halimah As-Sa’diyah

Nabi Muhammad SAW kemudian disusui oleh seorang wanita dari Bani Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib atau biasa dikenal dengan nama Halimah As-Sa’diyah.

Saat itu adalah tahun kering dan makanan sulit untuk diperoleh, Halimah bersama suaminya berangkat menunggangi keledai menuju Mekkah dan mencari anak-anak untuk disusui.

Sebelumnya  beberapa wanita yang pernah ditawari untuk menyusui Nabi Muhammad SAW menolak tawaran tersebut setelah mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang anak yatim.

Mereka beranggapan bahwa menyusui anak yatim tidak akan memperoleh imbalan yang banyak.

Baca Juga :  Kapolri Mutasi 6 Kapolda, Salah Satunya Kalimantan Tengah, Ini Daftarnya

Kemudian, dikarenakan semua wanita telah memperoleh anak susuan kecuali Halimah As-Sa’diyah dan Halimah tidak ingin kembali  sebelum memperoleh anak susuan maka Halimah mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai anak susunya.

Sebuah keajaiban datang ketika Halimah menyusui Nabi Muhammad SAW, air susunya yang sebelumnya hanya keluar sedikit mendadak melimpah dan mengenyangkan Nabi Muhammad serta saudara sepersusuan lainnya.

Ketika Halimah menengok unta-unta miliknya, keajaiban juga datang karena unta-unta tua miliknya mampu menghasilkan susu yang mengenyangkannya.

Sejak saat ini Halimah meyakini bahwa ia dikaruniai anak susuan yang penuh berkah.

Wafat Ibunda Tercinta

Setelah empat tahun lamanya Halimah menyusui Nabi Muhammad SAW kemudian, Rasulullah Nabi Muhammad SAW dikembalikan kepada ibundanya, Siti Aminah.

Nabi Muhammad diasuh oleh ibundanya kurang lebih selama dua tahun dengan penuh kasih sayang.

Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad adalah anak laki-laki tunggal yang dimilikinya. Nabi Muhammad juga merupakan anak yang tampan dan memiliki tingkah laku yang baik.

Kendati demikian, Nabi Muhammad SAW tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibundanya dalam jangka waktu yang lama.

Mengutip dari buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad oleh K.H. Moenawar Chalil bahwa, ketika Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun ibundanya wafat dalam perjalanan dari Yatsrib.

Ibunda Nabi Muhammad SAW wafat  di tanah Abwaa’ setelah sebelumnya jatuh sakit dalam perjalanan pulang sehabis mengajak Nabi Muhammad SAW ziarah ke makam ayahnya.

Tumbuh sebagai Seorang Yatim Piatu

Sehabis ditinggal wafat oleh ibundanya Nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya hingga ia berusia 8 tahun.

Ketika Nabi Muhammad SAW berusia 8 tahun ia kembali tinggalkan oleh kakeknya dan diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Meskipun hidup serba kecukupan, Abu Thalib sebagai paman Nabi Muhammad SAW mengasuhnya dengan sangat baik.

Dalam Asuhan Abu Thalib inilah Nabi Muhammad tumbuh dan berkembang.

Mendapatkan Wahyu Pertama

Nabi Muhammad SAW menikah pada usia 25 Tahun, kemudian pada usia 40 tahun Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Baca Juga :  Agustiar : Silaturahmi Ini Ujung Segala Ujungnya Memecahkan Masalah

Menjelang diturunkannya wahyu pertama tersebut, Nabi Muhammad bermimpi ditemui Malaikat Jibril.

Kemudian Nabi Muhammad menyendiri di Gua Hira dan di situlah wahyu pertama turun, yakni QS Al-Alaq ayat 1-4.

Nabi Muhammad kala itu pulang dengan rasa ketakutan hingga meminta istrinya untuk menyelimutinya.

Kerasulan dan Dakwah Nabi Muhammad SAW

Peristiwa turunnya waktu itu secara tidak langsung merupakan awal kerasulan Nabi Muhammad SAW dimulai.

Setelah diangkat menjadi Rasul Allah, Nabi Muhammad memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi.

Khadijah, Abu Bakar As-Shiddiq, Zaid Bin Haritsah, Ummu Aiman, Ali bin Abi Thalib, hingga Bilal bin Rabah merupakan orang-orang pertama masuk islam ketika Nabi Muhammad berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Setelah beberapa tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi Allah kemudian memerintahkan Nabi Muhammad untuk berdakwah secara terang-terangan sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al-Hijr ayat 94 yang artinya sebagai berikut:

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”

Isra Mi’raj Hingga Wafat Nabi Muhammad SAW

Pada tahun ke 11 kenabian, Rasulullah Nabi Muhammad SAW dilanda kesedihan yang mendalam dengan wafatnya istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.

Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk mendampingi Nabi Muhammad SAW  melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, atau yang biasa disebut Isra dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau langit ke-7 yang biasa disebut Mi’raj.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Isra Mi’raj dimana pada peristiwa ini pulalah perintah sholat 5 waktu diberikan dan diwajibkan kepada seluruh umat muslim.

Setelah segala peristiwa dari lahir, kerasulan, hingga Isra Mi’raj dan melewati banyak lika-liku dalam hidupnya. Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 632 H di usia 63 tahun. (pri/jawapos.com)

PROKALTENG.CO –  Maulid Nabi Muhammad SAW senantiasa diperingati oleh umat muslim pada tanggal 12 Rabiul Awal yang tahun ini tepatnya jatuh pada hari Kamis (28/9).

Maulid Nabi Muhammad SAW sendiri dapat dimaknai sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, sehingga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat diartikan sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau tepatnya tahun 571 M.

Kelahiran Nabi Muhammad disebut sebagai tahun Gajah karena pada tahun tersebut terjadi sebuah peristiwa besar yakni penyerangan kota Mekkah oleh pasukan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah.

Nabi Muhammad lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Siti Aminah dengan kondisi yatim, dikarenakan ayah Nabi Muhammad yang bernama Abdullah meninggal dunia ketika Nabi Muhammad baru berusia dua bulan di kandungan ibundanya.

Mengutip dari ‘Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah SAW’ yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, setelah Nabi Muhammad dilahirkan oleh ibunya Beliau kemudian dibawa oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib untuk dibawa ke Ka’bah.

Di Ka’bah Abdul Muthalib mengucap syukur dan berdoa kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Kemudian ia menyerahkan kembalikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada ibunya, dan ia mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah.

Disusui Oleh Halimah As-Sa’diyah

Nabi Muhammad SAW kemudian disusui oleh seorang wanita dari Bani Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib atau biasa dikenal dengan nama Halimah As-Sa’diyah.

Saat itu adalah tahun kering dan makanan sulit untuk diperoleh, Halimah bersama suaminya berangkat menunggangi keledai menuju Mekkah dan mencari anak-anak untuk disusui.

Sebelumnya  beberapa wanita yang pernah ditawari untuk menyusui Nabi Muhammad SAW menolak tawaran tersebut setelah mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang anak yatim.

Mereka beranggapan bahwa menyusui anak yatim tidak akan memperoleh imbalan yang banyak.

Baca Juga :  Kapolri Mutasi 6 Kapolda, Salah Satunya Kalimantan Tengah, Ini Daftarnya

Kemudian, dikarenakan semua wanita telah memperoleh anak susuan kecuali Halimah As-Sa’diyah dan Halimah tidak ingin kembali  sebelum memperoleh anak susuan maka Halimah mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai anak susunya.

Sebuah keajaiban datang ketika Halimah menyusui Nabi Muhammad SAW, air susunya yang sebelumnya hanya keluar sedikit mendadak melimpah dan mengenyangkan Nabi Muhammad serta saudara sepersusuan lainnya.

Ketika Halimah menengok unta-unta miliknya, keajaiban juga datang karena unta-unta tua miliknya mampu menghasilkan susu yang mengenyangkannya.

Sejak saat ini Halimah meyakini bahwa ia dikaruniai anak susuan yang penuh berkah.

Wafat Ibunda Tercinta

Setelah empat tahun lamanya Halimah menyusui Nabi Muhammad SAW kemudian, Rasulullah Nabi Muhammad SAW dikembalikan kepada ibundanya, Siti Aminah.

Nabi Muhammad diasuh oleh ibundanya kurang lebih selama dua tahun dengan penuh kasih sayang.

Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad adalah anak laki-laki tunggal yang dimilikinya. Nabi Muhammad juga merupakan anak yang tampan dan memiliki tingkah laku yang baik.

Kendati demikian, Nabi Muhammad SAW tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibundanya dalam jangka waktu yang lama.

Mengutip dari buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad oleh K.H. Moenawar Chalil bahwa, ketika Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun ibundanya wafat dalam perjalanan dari Yatsrib.

Ibunda Nabi Muhammad SAW wafat  di tanah Abwaa’ setelah sebelumnya jatuh sakit dalam perjalanan pulang sehabis mengajak Nabi Muhammad SAW ziarah ke makam ayahnya.

Tumbuh sebagai Seorang Yatim Piatu

Sehabis ditinggal wafat oleh ibundanya Nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya hingga ia berusia 8 tahun.

Ketika Nabi Muhammad SAW berusia 8 tahun ia kembali tinggalkan oleh kakeknya dan diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Meskipun hidup serba kecukupan, Abu Thalib sebagai paman Nabi Muhammad SAW mengasuhnya dengan sangat baik.

Dalam Asuhan Abu Thalib inilah Nabi Muhammad tumbuh dan berkembang.

Mendapatkan Wahyu Pertama

Nabi Muhammad SAW menikah pada usia 25 Tahun, kemudian pada usia 40 tahun Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Baca Juga :  Agustiar : Silaturahmi Ini Ujung Segala Ujungnya Memecahkan Masalah

Menjelang diturunkannya wahyu pertama tersebut, Nabi Muhammad bermimpi ditemui Malaikat Jibril.

Kemudian Nabi Muhammad menyendiri di Gua Hira dan di situlah wahyu pertama turun, yakni QS Al-Alaq ayat 1-4.

Nabi Muhammad kala itu pulang dengan rasa ketakutan hingga meminta istrinya untuk menyelimutinya.

Kerasulan dan Dakwah Nabi Muhammad SAW

Peristiwa turunnya waktu itu secara tidak langsung merupakan awal kerasulan Nabi Muhammad SAW dimulai.

Setelah diangkat menjadi Rasul Allah, Nabi Muhammad memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi.

Khadijah, Abu Bakar As-Shiddiq, Zaid Bin Haritsah, Ummu Aiman, Ali bin Abi Thalib, hingga Bilal bin Rabah merupakan orang-orang pertama masuk islam ketika Nabi Muhammad berdakwah secara sembunyi-sembunyi.

Setelah beberapa tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi Allah kemudian memerintahkan Nabi Muhammad untuk berdakwah secara terang-terangan sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al-Hijr ayat 94 yang artinya sebagai berikut:

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”

Isra Mi’raj Hingga Wafat Nabi Muhammad SAW

Pada tahun ke 11 kenabian, Rasulullah Nabi Muhammad SAW dilanda kesedihan yang mendalam dengan wafatnya istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.

Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk mendampingi Nabi Muhammad SAW  melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, atau yang biasa disebut Isra dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau langit ke-7 yang biasa disebut Mi’raj.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Isra Mi’raj dimana pada peristiwa ini pulalah perintah sholat 5 waktu diberikan dan diwajibkan kepada seluruh umat muslim.

Setelah segala peristiwa dari lahir, kerasulan, hingga Isra Mi’raj dan melewati banyak lika-liku dalam hidupnya. Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 632 H di usia 63 tahun. (pri/jawapos.com)

Terpopuler

Artikel Terbaru