27.2 C
Jakarta
Thursday, January 29, 2026

Dua Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan, Smartwatch Kopilot Catat 13.647 Langkah usai Kecelakaan

PROKALTENG.CO-Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus dilakukan secara intensif.

Hingga Senin (19/1), tim SAR gabungan berhasil menemukan dua korban meninggal dunia, salah satunya pramugari pesawat.

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) saat melintas di jalur penerbangan menuju Makassar.

Pesawat diketahui membawa 10 orang, termasuk kru dan penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sehari setelah hilang kontak, Minggu (18/1), tim SAR menemukan serpihan pesawat di ketinggian sekitar 1.300 meter di lereng Gunung Bulusaraung.

Penemuan ini menjadi titik awal operasi evakuasi yang melibatkan puluhan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lokal.

Kepala Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa korban pertama ditemukan pada Minggu siang di tebing berjarak 200 meter dari puncak gunung.

Electronic money exchangers listing

“Korban berjenis kelamin pria ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena medan sangat terjal,” ujarnya.

Pada Senin (19/1), tim SAR kembali menemukan korban kedua yang merupakan pramugari pesawat. “Satu korban perempuan berhasil ditemukan tidak jauh dari serpihan pesawat. Kondisinya meninggal dunia, dan saat ini sudah dalam proses evakuasi menuju posko,” tambah Andi.

Tim SAR mengungkap momen penemuan jenazah pramugari ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Jasad korban kedua itu ditemukan tidak jauh dari serpihan pesawat.

“Jadi ditemukan sekitar jam 2 sebelum posisi titik kepala pesawat. Sekitar 100 meter,” ujar Perwakilan dari Arei Sulsel Saiful Malik kepada wartawan di Posko Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Senin (19/1).

Baca Juga :  Mulus Pegasus

Saiful Malik merupakan orang yang pertama kali menemukan jenazah korban. Ia menceritakan proses awal mula menemukan korban.

“Saya menyisir agak ke kanan, melebar ke kanan terus saya melihat ada bekas-bekas pohon terus batu yang pecah. Saya identifikasi kemungkinan ada di sini, saya agak menyisir ke lereng sebelah, ada di situ saya dapat (jenazah korban). Sekitar jam 2 lewat,” jelasnya.

Saiful mengaku saat itu belum bisa mengidentifikasi korban karena menunggu Tim SAR yang lainnya datang. Dia baru berani mendekati korban setelah tim yang lain datang.

“Kita dekati fiks perempuan. (Korban mengenakan pakaian) non uniform sih, mungkin sepatu cats, celana jeans, cuma baju uniform ATR,” ungkapnya.

Setelah proses mengidentifikasi selesai, korban tidak langsung dipindahkan. Tim SAR terlebih dahulu menunggu kantong mayat untuk proses evakuasi.

“Itu kita sempat nunggu kantong mayat, agak lama. Nda lama datang kita packing, terus kita mobilisasi semaksimal mungkin, jalur utama untuk turun,” terangnya.

Operasi Pencarian

Sebanyak 34 personel SAR gabungan dikerahkan dengan dukungan helikopter Caracal milik TNI AU.
Evakuasi dilakukan melalui jalur udara dengan metode hoist serta jalur darat yang membutuhkan waktu tempuh berjam-jam. Cuaca hujan deras dan kabut tebal menjadi tantangan utama dalam pencarian.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan bahwa pesawat ATR 42-500 dalam kondisi laik terbang sebelum insiden.

“Investigasi KNKT akan memastikan penyebab kecelakaan, termasuk faktor cuaca yang diduga berperan saat pesawat hilang kontak,” katanya di Posko SAR Pangkep.

Hingga kini, identitas korban pria yang ditemukan pertama belum diumumkan secara resmi.
Sementara korban kedua yang merupakan pramugari telah diidentifikasi oleh tim SAR, namun pihak keluarga masih menunggu proses verifikasi lebih lanjut.

Baca Juga :  530 Anak Meninggal Akibat Covid, DPR Minta Mendikbud Kaji Ulang PTM

Smartwatch Kopilot

Smartwatch milik kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan diduga masih aktif dan mencatatkan 13.647 langkah.

Pihak keluarga mengklaim smartwatch milik kopilot Farhan terdeteksi mencatatkan 13.647 langkah setelah pesawat ATR 42-500 yang ia naiki jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel.

Temuan ini membuat keluarga percaya bahwa Farhan masih hidup dan sedang bertahan hidup. Mereka berharap tim SAR memperkuat pencarian terhadap korban.

Pihak keluarga, Pitri Keandedes Hasibuan, mengatakan ponsel kopilot Farhan sudah ditemukan pada hari pesawat tersebut jatuh, Sabtu (17/1).

Menurut dia, ponsel tersebut diserahkan kepada pacar Farhan bernama Dian saat datang ke posko tim SAR di Desa Tompobulu, Pangkep, Minggu (18/1).

“Tanggal 18 adik saya di sana, terus ada yang manggil dari sana, yang di tempat itulah, posko itulah, tempat kejadian. Ini ada ditemukan HP, kayak gitu. Ya udah terus adik saya turun melihat HP-nya, terus diambil sama adik saya kayak gitu,” ujar Pitri.

Menurut Pitri, ponsel tersebut terhubung dengan smartwatch yang dikenakan oleh kopilot Farhan.
Dia juga memperlihatkan tangkapan layar ponsel yang menerima data dari smartwatcht dengan keterangan hingga 13.647 langkah sejak pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita, Minggu (18/1).

“Kalau misalnya jam tangannya masih hidup, bergerak gitu kan, terhubung sama benda dia yang didapat sama tim. Jadi kan kemungkinan dia masih hidup,” tambah Pitri. (net/nur/jpg)

PROKALTENG.CO-Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus dilakukan secara intensif.

Hingga Senin (19/1), tim SAR gabungan berhasil menemukan dua korban meninggal dunia, salah satunya pramugari pesawat.

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) saat melintas di jalur penerbangan menuju Makassar.

Electronic money exchangers listing

Pesawat diketahui membawa 10 orang, termasuk kru dan penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sehari setelah hilang kontak, Minggu (18/1), tim SAR menemukan serpihan pesawat di ketinggian sekitar 1.300 meter di lereng Gunung Bulusaraung.

Penemuan ini menjadi titik awal operasi evakuasi yang melibatkan puluhan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lokal.

Kepala Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa korban pertama ditemukan pada Minggu siang di tebing berjarak 200 meter dari puncak gunung.

“Korban berjenis kelamin pria ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena medan sangat terjal,” ujarnya.

Pada Senin (19/1), tim SAR kembali menemukan korban kedua yang merupakan pramugari pesawat. “Satu korban perempuan berhasil ditemukan tidak jauh dari serpihan pesawat. Kondisinya meninggal dunia, dan saat ini sudah dalam proses evakuasi menuju posko,” tambah Andi.

Tim SAR mengungkap momen penemuan jenazah pramugari ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Jasad korban kedua itu ditemukan tidak jauh dari serpihan pesawat.

“Jadi ditemukan sekitar jam 2 sebelum posisi titik kepala pesawat. Sekitar 100 meter,” ujar Perwakilan dari Arei Sulsel Saiful Malik kepada wartawan di Posko Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Senin (19/1).

Baca Juga :  Mulus Pegasus

Saiful Malik merupakan orang yang pertama kali menemukan jenazah korban. Ia menceritakan proses awal mula menemukan korban.

“Saya menyisir agak ke kanan, melebar ke kanan terus saya melihat ada bekas-bekas pohon terus batu yang pecah. Saya identifikasi kemungkinan ada di sini, saya agak menyisir ke lereng sebelah, ada di situ saya dapat (jenazah korban). Sekitar jam 2 lewat,” jelasnya.

Saiful mengaku saat itu belum bisa mengidentifikasi korban karena menunggu Tim SAR yang lainnya datang. Dia baru berani mendekati korban setelah tim yang lain datang.

“Kita dekati fiks perempuan. (Korban mengenakan pakaian) non uniform sih, mungkin sepatu cats, celana jeans, cuma baju uniform ATR,” ungkapnya.

Setelah proses mengidentifikasi selesai, korban tidak langsung dipindahkan. Tim SAR terlebih dahulu menunggu kantong mayat untuk proses evakuasi.

“Itu kita sempat nunggu kantong mayat, agak lama. Nda lama datang kita packing, terus kita mobilisasi semaksimal mungkin, jalur utama untuk turun,” terangnya.

Operasi Pencarian

Sebanyak 34 personel SAR gabungan dikerahkan dengan dukungan helikopter Caracal milik TNI AU.
Evakuasi dilakukan melalui jalur udara dengan metode hoist serta jalur darat yang membutuhkan waktu tempuh berjam-jam. Cuaca hujan deras dan kabut tebal menjadi tantangan utama dalam pencarian.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan bahwa pesawat ATR 42-500 dalam kondisi laik terbang sebelum insiden.

“Investigasi KNKT akan memastikan penyebab kecelakaan, termasuk faktor cuaca yang diduga berperan saat pesawat hilang kontak,” katanya di Posko SAR Pangkep.

Hingga kini, identitas korban pria yang ditemukan pertama belum diumumkan secara resmi.
Sementara korban kedua yang merupakan pramugari telah diidentifikasi oleh tim SAR, namun pihak keluarga masih menunggu proses verifikasi lebih lanjut.

Baca Juga :  530 Anak Meninggal Akibat Covid, DPR Minta Mendikbud Kaji Ulang PTM

Smartwatch Kopilot

Smartwatch milik kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan diduga masih aktif dan mencatatkan 13.647 langkah.

Pihak keluarga mengklaim smartwatch milik kopilot Farhan terdeteksi mencatatkan 13.647 langkah setelah pesawat ATR 42-500 yang ia naiki jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel.

Temuan ini membuat keluarga percaya bahwa Farhan masih hidup dan sedang bertahan hidup. Mereka berharap tim SAR memperkuat pencarian terhadap korban.

Pihak keluarga, Pitri Keandedes Hasibuan, mengatakan ponsel kopilot Farhan sudah ditemukan pada hari pesawat tersebut jatuh, Sabtu (17/1).

Menurut dia, ponsel tersebut diserahkan kepada pacar Farhan bernama Dian saat datang ke posko tim SAR di Desa Tompobulu, Pangkep, Minggu (18/1).

“Tanggal 18 adik saya di sana, terus ada yang manggil dari sana, yang di tempat itulah, posko itulah, tempat kejadian. Ini ada ditemukan HP, kayak gitu. Ya udah terus adik saya turun melihat HP-nya, terus diambil sama adik saya kayak gitu,” ujar Pitri.

Menurut Pitri, ponsel tersebut terhubung dengan smartwatch yang dikenakan oleh kopilot Farhan.
Dia juga memperlihatkan tangkapan layar ponsel yang menerima data dari smartwatcht dengan keterangan hingga 13.647 langkah sejak pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita, Minggu (18/1).

“Kalau misalnya jam tangannya masih hidup, bergerak gitu kan, terhubung sama benda dia yang didapat sama tim. Jadi kan kemungkinan dia masih hidup,” tambah Pitri. (net/nur/jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru