28.3 C
Jakarta
Saturday, April 5, 2025

Karhutla Melanda 3 Lokasi Konservasi, 37 Orang Utan Terjangkit ISPA

Asap dari Kebakaran
Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan mulai menyerang habibat orang
utan. Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) mulai melakukan langkah untuk
mencegah hewan langka ini tidak menjadi korban. Pasalnya, dari total lahan
konservasi orang utan sudah 80 hektare yang terlalap api.

“Sejauh ini, total
sekitar 80 hektar hutan gambut di wilayah kerja kami diterjang api. Dua puluh
hektar di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan, dan 60 hektar di Sei
Mantangai, keduanya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terbakar,” ujar CEO
Yayasan BOS, Jamartin Sihite dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com,
Rabu (18/9).

Jamartin menuturkan,
kebakaran sejauh ini belum berdampak fatal pada orang utan. Api yang berkobar
masih bisa dipadamkan oleh jajarannya dibantu masyarakat. Oleh karena itu, tim
konservasi Mawas kini melakukan patroli dan pengawasan ketat terhadap
kemungkinan munculnya titik api di seluruh wilayah kerjanya.

“Sampai saat ini kami
belum melakukan penyelamatan atau evakuasi orangutan yang terancam kebakaran
hutan dan lahan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yayasan
BOS mencatat Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur
mulai dilanda asap tipis. Diduga berasal dari hasil kebakaran. Untuk mencegah
dampak buruk terhadap orang utan yang tengah menjalani rehabilitasi, tim medis
memberikan susu dan multivitamin bagi semua orangutan berjumlah 130 individu.

Kegiatan luar ruang
para orangutan muda di sekolah hutan juga dibatasi hanya beberapa jam. Bagi
orang utan dewasa yang berada di dalam kompleks kandang, tim teknisi secara
teratur melakukan penyemprotan untuk menjaga suhu kandang tetap sejuk.

Baca Juga :  Anggaran Dialihkan Rp25 Triliun, Proyek Nasional Distop

Kabut asap ini jelas
memengaruhi kondisi kesehatan manusia dan orang utan. Saat kabut asap muncul,
partikel debu, dan karbon sisa pembakaran akan memasuki saluran pernafasan dan
menyebabkan reaksi alergi yang berlebihan. Hal ini bisa memicu infeksi seperti
bronchitis dan pneumonia akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.

“Namun sejauh ini
belum ada orang utan yang terjangkit infeksi pernafasan atau biasa dikenal
dengan ISPA,” terang Jamartin.

Sedangkan di Pusat
Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, api sempat mengancam.
Di pekan pertama Agustus lalu, tim pemadam kebakaran sempat harus berjibaku
melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru
Menteng. Beruntung api bisa dipadamkan setelah 4 jam kemudian. Selanjutnya dilakukan
patroli untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di pusat rehabilitas
ini terdata ada 355 orangutan. Kondisi mereka mulai terancam apabila asap tak
kunjung hilang. “Sebanyak 37 orangutan muda ditengarai telah terjangkit infeksi
saluran pernafasan ringan,” kata Jamartin.

Para orang utan ini
telah diberi pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik,
terutama bagi orangutan yang dianggap mengidap infeksi parah.

Sementara itu, untuk
Program Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah di hutan gambut seluas 309 ribu
hektar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan juga menghadapi potensi kebakaran
hutan dan lahan terbesar. Hal ini diakibatkan luas wilayah dan sulitnya
memadamkan api di lahan gambut. Terlebih, di musim kering seperti saat ini,
kondisi air di kanal sangat surut, membuat persediaan air untuk pemadaman
sangat terbatas.

Baca Juga :  17 Ribu Wartawan Dapat Prioritas Vaksinasi Covid-19, Ini Jadwalnya

Api pertama ditemukan
pada 3 September lalu di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan. Meski
dalam waktu relatif singkat api bisa dipadamkan, namun sifat hutan gambut yang
unik dan mengandung berbagai bahan alami yang mudah terbakar seperti pakis,
berdampak pada pemadaman tidak bisa tuntas.

Sampai hari ini titik
panas masih ditemukan di daerah seluas kurang lebih 20 hektare tersebut. Tim
Program Mawas yang terdiri dari pemadam kebakaran desa sekitar, tim peneliti,
dan teknisi di Stasiun Penelitian Tuanan terus bekerja mengisolasi lokasi
kebakaran dan mengamankan stasiun penelitian. Tidak kurang dari 8 sumur bor
digali dan 5 unit pompa disiagakan untuk pemadaman api.

Sementara itu di
daerah Sei Mantangai, api masih terus menjalar di wilayah yang terpisah-pisah
seluas 60 hektare. Untuk memadamkannya, tim telah menggali 26 sumur bor untuk
menyediakan air yang dibutuhkan untuk pemadaman. Kendala utama yang dihadapi
adalah minimnya sumber air dan akses yang sangat sulit menuju lokasi kebakaran.(jpg)

 

Asap dari Kebakaran
Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan mulai menyerang habibat orang
utan. Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) mulai melakukan langkah untuk
mencegah hewan langka ini tidak menjadi korban. Pasalnya, dari total lahan
konservasi orang utan sudah 80 hektare yang terlalap api.

“Sejauh ini, total
sekitar 80 hektar hutan gambut di wilayah kerja kami diterjang api. Dua puluh
hektar di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan, dan 60 hektar di Sei
Mantangai, keduanya di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terbakar,” ujar CEO
Yayasan BOS, Jamartin Sihite dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com,
Rabu (18/9).

Jamartin menuturkan,
kebakaran sejauh ini belum berdampak fatal pada orang utan. Api yang berkobar
masih bisa dipadamkan oleh jajarannya dibantu masyarakat. Oleh karena itu, tim
konservasi Mawas kini melakukan patroli dan pengawasan ketat terhadap
kemungkinan munculnya titik api di seluruh wilayah kerjanya.

“Sampai saat ini kami
belum melakukan penyelamatan atau evakuasi orangutan yang terancam kebakaran
hutan dan lahan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yayasan
BOS mencatat Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur
mulai dilanda asap tipis. Diduga berasal dari hasil kebakaran. Untuk mencegah
dampak buruk terhadap orang utan yang tengah menjalani rehabilitasi, tim medis
memberikan susu dan multivitamin bagi semua orangutan berjumlah 130 individu.

Kegiatan luar ruang
para orangutan muda di sekolah hutan juga dibatasi hanya beberapa jam. Bagi
orang utan dewasa yang berada di dalam kompleks kandang, tim teknisi secara
teratur melakukan penyemprotan untuk menjaga suhu kandang tetap sejuk.

Baca Juga :  Anggaran Dialihkan Rp25 Triliun, Proyek Nasional Distop

Kabut asap ini jelas
memengaruhi kondisi kesehatan manusia dan orang utan. Saat kabut asap muncul,
partikel debu, dan karbon sisa pembakaran akan memasuki saluran pernafasan dan
menyebabkan reaksi alergi yang berlebihan. Hal ini bisa memicu infeksi seperti
bronchitis dan pneumonia akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.

“Namun sejauh ini
belum ada orang utan yang terjangkit infeksi pernafasan atau biasa dikenal
dengan ISPA,” terang Jamartin.

Sedangkan di Pusat
Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, api sempat mengancam.
Di pekan pertama Agustus lalu, tim pemadam kebakaran sempat harus berjibaku
melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru
Menteng. Beruntung api bisa dipadamkan setelah 4 jam kemudian. Selanjutnya dilakukan
patroli untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di pusat rehabilitas
ini terdata ada 355 orangutan. Kondisi mereka mulai terancam apabila asap tak
kunjung hilang. “Sebanyak 37 orangutan muda ditengarai telah terjangkit infeksi
saluran pernafasan ringan,” kata Jamartin.

Para orang utan ini
telah diberi pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik,
terutama bagi orangutan yang dianggap mengidap infeksi parah.

Sementara itu, untuk
Program Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah di hutan gambut seluas 309 ribu
hektar di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan juga menghadapi potensi kebakaran
hutan dan lahan terbesar. Hal ini diakibatkan luas wilayah dan sulitnya
memadamkan api di lahan gambut. Terlebih, di musim kering seperti saat ini,
kondisi air di kanal sangat surut, membuat persediaan air untuk pemadaman
sangat terbatas.

Baca Juga :  17 Ribu Wartawan Dapat Prioritas Vaksinasi Covid-19, Ini Jadwalnya

Api pertama ditemukan
pada 3 September lalu di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan. Meski
dalam waktu relatif singkat api bisa dipadamkan, namun sifat hutan gambut yang
unik dan mengandung berbagai bahan alami yang mudah terbakar seperti pakis,
berdampak pada pemadaman tidak bisa tuntas.

Sampai hari ini titik
panas masih ditemukan di daerah seluas kurang lebih 20 hektare tersebut. Tim
Program Mawas yang terdiri dari pemadam kebakaran desa sekitar, tim peneliti,
dan teknisi di Stasiun Penelitian Tuanan terus bekerja mengisolasi lokasi
kebakaran dan mengamankan stasiun penelitian. Tidak kurang dari 8 sumur bor
digali dan 5 unit pompa disiagakan untuk pemadaman api.

Sementara itu di
daerah Sei Mantangai, api masih terus menjalar di wilayah yang terpisah-pisah
seluas 60 hektare. Untuk memadamkannya, tim telah menggali 26 sumur bor untuk
menyediakan air yang dibutuhkan untuk pemadaman. Kendala utama yang dihadapi
adalah minimnya sumber air dan akses yang sangat sulit menuju lokasi kebakaran.(jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru