PROKALTENG.CO – Kenapa awal Ramadan Arab Saudi lebih dulu dari Indonesia? Pertanyaan ini hampir selalu muncul setiap tahun ketika pemerintah Saudi mengumumkan 1 Ramadan lebih cepat. Padahal, kedua negara sama-sama menyatakan memakai metode rukyatul hilal untuk menentukan awal puasa.
Tahun ini, Arab Saudi menetapkan 1 Ramadan setelah menerima laporan terlihatnya hilal dari sejumlah titik pemantauan. Kesaksian itu langsung disahkan otoritas setempat, sehingga puasa dimulai Rabu (18/2). Sementara Indonesia belum tentu mengikuti tanggal yang sama karena menggunakan kriteria berbeda dalam menilai laporan rukyat.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN sekaligus Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag), Thomas Djamaluddin, menegaskan perbedaannya bukan pada metode rukyat, melainkan pada standar penerimaan kesaksian hilal.
“Di Saudi tidak digunakan kriteria imkan rukyat. Walaupun posisi bulan sangat rendah, jika ada yang mengaku melihat hilal, kesaksiannya bisa langsung diterima otoritas setempat,” kata Thomas kepada JawaPos.com.
Ia menjelaskan, praktik rukyat di Arab Saudi juga kerap dipengaruhi Kalender Ummul Qura. Padahal kalender tersebut sejatinya merupakan kalender sipil, bukan khusus untuk kepentingan ibadah.
Kalender Ummul Qura menggunakan kriteria wujudul hilal. Artinya, selama secara geometris posisi bulan sudah berada di atas ufuk, itu dianggap cukup, tanpa harus memastikan apakah hilal benar-benar mungkin terlihat secara empiris.
Berbeda dengan Indonesia. Bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), pemerintah menggunakan kriteria imkan rukyat atau visibilitas hilal yang disusun dari data rukyat jangka panjang.
Dalam kesepakatan MABIMS, hilal dinyatakan berpeluang terlihat jika saat magrib memenuhi syarat: tinggi bulan minimal 2 derajat dan elongasi minimal 3 derajat atau umur bulan minimal 8 jam. Dalam praktik sidang isbat, tinggi minimal 2 derajat kerap menjadi batas paling menentukan.
Artinya, jika posisi bulan belum memenuhi batas visibilitas tersebut, maka meski ada klaim terlihatnya hilal, laporan itu tidak otomatis diterima di Indonesia. Pemerintah tetap mengacu pada data hisab dan parameter ilmiah yang telah disepakati.
Perbedaan kriteria inilah yang membuat awal Ramadan, Idul Fitri, maupun Iduladha antara Indonesia dan Arab Saudi bisa terpaut satu hari. Metodenya sama-sama rukyat, tetapi standar astronomi dan kebijakan penerimaannya tidak identik.
Dengan memahami perbedaan ini, selisih awal puasa seharusnya tak lagi dipandang sebagai perbedaan prinsip. Lebih tepat dilihat sebagai konsekuensi dari pendekatan ilmiah dan kebijakan keagamaan yang memang berbeda di tiap negara. (jpg)


