30.2 C
Jakarta
Friday, April 4, 2025

Pilot TNI AU Super Tucano Sempat Alami Kondisi “Blind” Sebelum Jatuh

PROKALTENG.CO-TNI Angkatan Udara mengungkapkan fakta baru terkait jatuhnya pesawat Super Tucano di Pasuruan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI R. Agung Sasongkojati mengungkap penerbang yang terlibat latihan formasi di pesawat itu sempat mengalami situasi “blind”, sebelum dua pesawat hilang kontak dan ditemukan jatuh.

Dalam situasi “blind” atau buta, penerbang tidak dapat melihat situasi di sekitarnya, bahkan dalam jarak yang sangat dekat.

“Mereka terbang formasi, take off satu per satu, setelah naik ke atas, mereka bergabung menjadi satu kesatuan formasi. Formasi itu dekat sekali, pada saat mereka climbing (terbang ke atas, red.) mereka masuk ke awan, in-out, in-out, artinya awan itu tipis-tipis saja. Namun awan tiba-tiba menebal dengan pekat bahkan pesawat yang dekat saja, yang jaraknya mungkin sekitar 30 meter itu tidak kelihatan, karena sangat tebal. Para penerbang mengatakan blindblind, atau kalau bahasa Indonesia-nya buta, tidak melihat,” kata R. Agung saat jumpa pers di Base Ops Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (17/11) seperti dikutip dari Antara.

Prosedur standar penerbang dalam situasi “blind” harus menjauhkan pesawatnya dari pesawat lain. Mereka sudah mengikuti prosedur, yaitu menjauh dari pesawat lainnya.

“Dua pesawat selamat karena melaksanakan prosedur melepaskan diri dari formasi setelah memasuki awan yang tebal itu. Dan ini terekam semua di dalam FDR (flight data recorder),” imbuh Agung.

Baca Juga :  Gegara Tulisan di Celana, DJ Soda Dikeluarkan dari Pesawat America Airlines

awat hilang kontak juga dia dapatkan dari dua penerbang lain yang selamat.

Diberitakan sebelumnya, dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU jatuh di lereng Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru, di Kabupaten Pasuruan, Kamis (16/11) saat menjalani latihan formasi bersama dua pesawat tempur Super Tucano lainnya.

Empat pesawat itu lepas landas dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh pada pukul 10.51 WIB dalam keadaan baik.

“Pesawat ini dalam kondisi baik, penerbangnya baik, flight (penerbangan) dari empat pesawat dengan delapan kru di dalamnya. Mereka semua menjalankan prosedur dengan baik, pre take off, pre start engine baik,” kata Kadispenau.

Namun pada 11.18 WIB dua pesawat yang nomor registrasi masing-masing TT-3111 dan TT-3103 hilang kontak.

Agung mengungkapkan sempat terdengar bunyi ELT (emergency locator transmitter) dari satu pesawat, kemudian bunyi yang sama terdengar dari pesawat yang lain saat situasi “blind”.

Walaupun demikian, pihak TNI AU masih menunggu penyelidikan dari Pusat Kelaikan dan Keselamatan Terbang Kerja TNI AU (Puslaiklambangjaau).

Dua pesawat yang jatuh tersebut mengangkut empat kru, yang seluruhnya gugur dalam tugas dan jasadnya ditemukan pada Kamis (16/11).

Pesawat dengan nomor registrasi TT-3111 diterbangkan oleh Letkol Pnb Sandhra “Chevron” Gunawan (Komandan Skadron Udara 21), dan di kursi penumpang ada Kolonel Adm Widiono Hadiwijaya (Kepala Dinas Personel Lanud Abdulrachman Saleh).

Baca Juga :  Saat New Normal, BLT Kemensos Bakal Dikurangi Rp300 Ribu

Sedangkan pesawat dengan nomor registrasi TT-3103 diterbangkan oleh Mayor Pnb Yuda A. Seta (Kepala Ruang Operasi Lanud Abdulrachman Saleh) dan di kursi penumpang ada Kolonel Pnb Subhan (Danwing Udara 2 Lanud Abdulrachman Saleh).

Prosesi pemakaman terhadap para prajurit AU itu berlangsung pada hari Jumat (17/11). Para prajurit itu menerima kenaikan pangkat satu tingkat (anumerta), dan dimakamkan di Malang serta Madiun.

Tiga prajurit yang dimakamkan di TMP Suropati, Malang, ialah Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Subhan, Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya dan Kolonel Penerbang (Anumerta) Sandhra Gunawan.

Sementara Letkol Pnb (Anumerta) Yuda A. Seta dimakamkan di TMP Madiun, Jumat.

TNI Angkatan Udara sendiri membentuk tim investigasi untuk menyelidiki jatuhnya dua pesawat tempur Super Tucano. Tim itu dibentuk Pusat Kelaikudaraan dan Keselamatan Terbang dan Kerja (Puslaiklambangja) TNI AU.

“Puslaiklambangja TNI AU akan melakukan investigasi dengan melihat faktor-faktor yang dikenal dengan istilah 5 M, yaitu man (awak), machine (mesin), medium, mission (misi), dan management (manajemen) secara menyeluruh terhadap penyebab jatuhnya kedua pesawat,” lanjut Agung.

Dia melanjutkan tim ini juga memeriksa langsung kondisi pesawat di lokasi kejadian dan area sekitarnya. Setelah itu mengecek kembali kondisi cuaca saat insiden, dan memeriksa seluruh personel yang terlibat dalam penerbangan tersebut.

(jpc/antara/hnd)

PROKALTENG.CO-TNI Angkatan Udara mengungkapkan fakta baru terkait jatuhnya pesawat Super Tucano di Pasuruan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI R. Agung Sasongkojati mengungkap penerbang yang terlibat latihan formasi di pesawat itu sempat mengalami situasi “blind”, sebelum dua pesawat hilang kontak dan ditemukan jatuh.

Dalam situasi “blind” atau buta, penerbang tidak dapat melihat situasi di sekitarnya, bahkan dalam jarak yang sangat dekat.

“Mereka terbang formasi, take off satu per satu, setelah naik ke atas, mereka bergabung menjadi satu kesatuan formasi. Formasi itu dekat sekali, pada saat mereka climbing (terbang ke atas, red.) mereka masuk ke awan, in-out, in-out, artinya awan itu tipis-tipis saja. Namun awan tiba-tiba menebal dengan pekat bahkan pesawat yang dekat saja, yang jaraknya mungkin sekitar 30 meter itu tidak kelihatan, karena sangat tebal. Para penerbang mengatakan blindblind, atau kalau bahasa Indonesia-nya buta, tidak melihat,” kata R. Agung saat jumpa pers di Base Ops Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (17/11) seperti dikutip dari Antara.

Prosedur standar penerbang dalam situasi “blind” harus menjauhkan pesawatnya dari pesawat lain. Mereka sudah mengikuti prosedur, yaitu menjauh dari pesawat lainnya.

“Dua pesawat selamat karena melaksanakan prosedur melepaskan diri dari formasi setelah memasuki awan yang tebal itu. Dan ini terekam semua di dalam FDR (flight data recorder),” imbuh Agung.

Baca Juga :  Gegara Tulisan di Celana, DJ Soda Dikeluarkan dari Pesawat America Airlines

awat hilang kontak juga dia dapatkan dari dua penerbang lain yang selamat.

Diberitakan sebelumnya, dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU jatuh di lereng Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru, di Kabupaten Pasuruan, Kamis (16/11) saat menjalani latihan formasi bersama dua pesawat tempur Super Tucano lainnya.

Empat pesawat itu lepas landas dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh pada pukul 10.51 WIB dalam keadaan baik.

“Pesawat ini dalam kondisi baik, penerbangnya baik, flight (penerbangan) dari empat pesawat dengan delapan kru di dalamnya. Mereka semua menjalankan prosedur dengan baik, pre take off, pre start engine baik,” kata Kadispenau.

Namun pada 11.18 WIB dua pesawat yang nomor registrasi masing-masing TT-3111 dan TT-3103 hilang kontak.

Agung mengungkapkan sempat terdengar bunyi ELT (emergency locator transmitter) dari satu pesawat, kemudian bunyi yang sama terdengar dari pesawat yang lain saat situasi “blind”.

Walaupun demikian, pihak TNI AU masih menunggu penyelidikan dari Pusat Kelaikan dan Keselamatan Terbang Kerja TNI AU (Puslaiklambangjaau).

Dua pesawat yang jatuh tersebut mengangkut empat kru, yang seluruhnya gugur dalam tugas dan jasadnya ditemukan pada Kamis (16/11).

Pesawat dengan nomor registrasi TT-3111 diterbangkan oleh Letkol Pnb Sandhra “Chevron” Gunawan (Komandan Skadron Udara 21), dan di kursi penumpang ada Kolonel Adm Widiono Hadiwijaya (Kepala Dinas Personel Lanud Abdulrachman Saleh).

Baca Juga :  Saat New Normal, BLT Kemensos Bakal Dikurangi Rp300 Ribu

Sedangkan pesawat dengan nomor registrasi TT-3103 diterbangkan oleh Mayor Pnb Yuda A. Seta (Kepala Ruang Operasi Lanud Abdulrachman Saleh) dan di kursi penumpang ada Kolonel Pnb Subhan (Danwing Udara 2 Lanud Abdulrachman Saleh).

Prosesi pemakaman terhadap para prajurit AU itu berlangsung pada hari Jumat (17/11). Para prajurit itu menerima kenaikan pangkat satu tingkat (anumerta), dan dimakamkan di Malang serta Madiun.

Tiga prajurit yang dimakamkan di TMP Suropati, Malang, ialah Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Subhan, Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya dan Kolonel Penerbang (Anumerta) Sandhra Gunawan.

Sementara Letkol Pnb (Anumerta) Yuda A. Seta dimakamkan di TMP Madiun, Jumat.

TNI Angkatan Udara sendiri membentuk tim investigasi untuk menyelidiki jatuhnya dua pesawat tempur Super Tucano. Tim itu dibentuk Pusat Kelaikudaraan dan Keselamatan Terbang dan Kerja (Puslaiklambangja) TNI AU.

“Puslaiklambangja TNI AU akan melakukan investigasi dengan melihat faktor-faktor yang dikenal dengan istilah 5 M, yaitu man (awak), machine (mesin), medium, mission (misi), dan management (manajemen) secara menyeluruh terhadap penyebab jatuhnya kedua pesawat,” lanjut Agung.

Dia melanjutkan tim ini juga memeriksa langsung kondisi pesawat di lokasi kejadian dan area sekitarnya. Setelah itu mengecek kembali kondisi cuaca saat insiden, dan memeriksa seluruh personel yang terlibat dalam penerbangan tersebut.

(jpc/antara/hnd)

Terpopuler

Artikel Terbaru