24.3 C
Jakarta
Friday, January 16, 2026

Waspada! Sebanyak 27 Grup di Berbagai Medsos Membuat 70 Anak-Anak Terpapar Konten Kekerasan

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bersama Densus 88 Antiteror mengungkap fakta baru. Pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta yang masih duduk di bangku sekolah tergabung dalam komunitas bernama True Crime Community (TCC).

Dalam komunitas yang tersebar di puluhan grup itu juga terdeteksi keberadaan puluhan anak lainnya. Mereka terpapar konten kekerasan. Berdasar data, sebanyak 70 anak usia 11-18 tahun terpapar konten kekerasan tersebar di beberapa daerah.

Rinciannya sebanyak 15 anak di Jakarta, 12 anak di Jabar, 11 anak di Jatim, 9 anak di Jateng, 3 anak di Kalsel, 2 di Bali, 2 di Sumsel, 2 di Banten, 2 di Kalbar, 2 di Kalteng, dan 2 di Sultra. Sisanya masing-masing 1 anak di Lampung, Jogjakarta, NTT, Aceh, Sumut, Kepri, Riau, dan Sulteng.

“Perkembangan propaganda melalui media sosial, baik dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik yang dikemas secara menarik dapat membangkitkan semangat untuk menjadikan ideologi paham ekstremisme sebagai inspirasi,” kata  Juru Bicara (Jubir) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana, Kamis (8/1).

Baca Juga :  Anies-Muhaimin 1, Prabowo-Gibran 2, Ganjar-Mahfud 3

Sebanyak 27 grup di berbagai media sosial terdeteksi menyebarkan paham ekstremisme. Puluhan grup itu membuat 70 anak-anak terpapar konten kekerasan. Bahkan ada yang terinspirasi seperti pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu. Untuk itu, para orang tua diminta lebih waspada.

Puluhan grup itu ditemukan berdasar pendalaman Polri pada 2025-2026. Demikian pula 70 anak yang terpapar konten kekerasan dari puluhan grup tersebut. Semua terdeteksi dari langkah-langkah kepolisian yang dilakukan sejak tahun lalu.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, polisi mengungkap daftar 27 komunitas yang termasuk dalam TCC sebagai berikut.

Electronic money exchangers listing
  1. TCC Community
  2. True Crime Community
  3. TCCland Under Akmal
  4. Fuck TCC
  5. TCC
  6. WAG TCC Reborn
  7. WAG TCC Universe
  8. WAG Area TCC
  9. Tanah Suci TCC
  10. TCC Universe V2
  11. TCC Community
  12. TCC City Nueva Revolucion
  13. [tccland]
  14. FTCI Film True Crime Indonesia
  15. Indonesia Headhunter
  16. Meinchat
  17. Group Kasih Sayang
  18. Nuapf
  19. Medenist Brigade
  20. Legion Devision
  21. FSP-NB (80 member)
  22. AZW Ragebait
  23. Saranjana
  24. Medenism Under Boris
  25. Anarko Libertarian Maoist
  26. Army of Legion
  27. Have Sex With Your Gun
Baca Juga :  Jadi Provokator Rusuh Papua, Perempuan Ini Jadi Buruan Polri dan Inter

Faktor Pendorong

Menurut Myandra, ada beberapa faktor yang menyebabkan puluhan anak itu masuk ke dalam komunitas dan grup tersebut. Salah satunya adalah masalah dari dalam diri sendiri dan lingkungan sosial.

Misalnya korban perundungan di lingkungan masyarakat dan sekolah, anak yang terdampak perceraian orang tua atau broken home, keluarga yang tidak harmonis, kurang perhatian, dan tindak kekerasan yang terjadi di sekitar anak.

“Jadi, mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan (masalahnya) masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut,” jelas dia.

Myandra mengingatkan bahwa puluhan grup tersebut hingga saat ini masih aktif.

“Sebagai sarana kontrol bagi orang tua apabila menemukan grup-grup itu di gawai anaknya, segera untuk diberikan bimbingan. Bahwa grup-grup itu teridentifikasi berbahaya karena mengajak anak kepada kekerasan,” kata Myandra.(jpc)

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bersama Densus 88 Antiteror mengungkap fakta baru. Pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta yang masih duduk di bangku sekolah tergabung dalam komunitas bernama True Crime Community (TCC).

Dalam komunitas yang tersebar di puluhan grup itu juga terdeteksi keberadaan puluhan anak lainnya. Mereka terpapar konten kekerasan. Berdasar data, sebanyak 70 anak usia 11-18 tahun terpapar konten kekerasan tersebar di beberapa daerah.

Rinciannya sebanyak 15 anak di Jakarta, 12 anak di Jabar, 11 anak di Jatim, 9 anak di Jateng, 3 anak di Kalsel, 2 di Bali, 2 di Sumsel, 2 di Banten, 2 di Kalbar, 2 di Kalteng, dan 2 di Sultra. Sisanya masing-masing 1 anak di Lampung, Jogjakarta, NTT, Aceh, Sumut, Kepri, Riau, dan Sulteng.

Electronic money exchangers listing

“Perkembangan propaganda melalui media sosial, baik dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik yang dikemas secara menarik dapat membangkitkan semangat untuk menjadikan ideologi paham ekstremisme sebagai inspirasi,” kata  Juru Bicara (Jubir) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana, Kamis (8/1).

Baca Juga :  Anies-Muhaimin 1, Prabowo-Gibran 2, Ganjar-Mahfud 3

Sebanyak 27 grup di berbagai media sosial terdeteksi menyebarkan paham ekstremisme. Puluhan grup itu membuat 70 anak-anak terpapar konten kekerasan. Bahkan ada yang terinspirasi seperti pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu. Untuk itu, para orang tua diminta lebih waspada.

Puluhan grup itu ditemukan berdasar pendalaman Polri pada 2025-2026. Demikian pula 70 anak yang terpapar konten kekerasan dari puluhan grup tersebut. Semua terdeteksi dari langkah-langkah kepolisian yang dilakukan sejak tahun lalu.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, polisi mengungkap daftar 27 komunitas yang termasuk dalam TCC sebagai berikut.

  1. TCC Community
  2. True Crime Community
  3. TCCland Under Akmal
  4. Fuck TCC
  5. TCC
  6. WAG TCC Reborn
  7. WAG TCC Universe
  8. WAG Area TCC
  9. Tanah Suci TCC
  10. TCC Universe V2
  11. TCC Community
  12. TCC City Nueva Revolucion
  13. [tccland]
  14. FTCI Film True Crime Indonesia
  15. Indonesia Headhunter
  16. Meinchat
  17. Group Kasih Sayang
  18. Nuapf
  19. Medenist Brigade
  20. Legion Devision
  21. FSP-NB (80 member)
  22. AZW Ragebait
  23. Saranjana
  24. Medenism Under Boris
  25. Anarko Libertarian Maoist
  26. Army of Legion
  27. Have Sex With Your Gun
Baca Juga :  Jadi Provokator Rusuh Papua, Perempuan Ini Jadi Buruan Polri dan Inter

Faktor Pendorong

Menurut Myandra, ada beberapa faktor yang menyebabkan puluhan anak itu masuk ke dalam komunitas dan grup tersebut. Salah satunya adalah masalah dari dalam diri sendiri dan lingkungan sosial.

Misalnya korban perundungan di lingkungan masyarakat dan sekolah, anak yang terdampak perceraian orang tua atau broken home, keluarga yang tidak harmonis, kurang perhatian, dan tindak kekerasan yang terjadi di sekitar anak.

“Jadi, mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan (masalahnya) masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut,” jelas dia.

Myandra mengingatkan bahwa puluhan grup tersebut hingga saat ini masih aktif.

“Sebagai sarana kontrol bagi orang tua apabila menemukan grup-grup itu di gawai anaknya, segera untuk diberikan bimbingan. Bahwa grup-grup itu teridentifikasi berbahaya karena mengajak anak kepada kekerasan,” kata Myandra.(jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru