JAKARTA – Mantan Sekretaris MA (Mahkamah Agung) Nurhadi sempat
melakukan perlawanan saat hendak ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), Senin (1/6) malam. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Nurul
Ghufron.
“Iya (melakukan perlawanan).
Pintu tidak dibuka, KPK koordinasi dengan RT setempat untuk buka paksa agar
disaksikan, baru kemudian dibuka paksa,†kata Ghufron saat dikonfirmasi, Selasa
(2/6).
Ghufron menjelaskan, pihaknya
juga melakukan penggeledahan setelah membekuk Nurhadi, menantunya bernama Rezky
Herbiyono, dan juga istri Nurhadi, Tin Zuraida.
“Kami membawa barang-barang yang
ada kaitannya dengan perkara kami. Sampai saat ini masih diperiksa,†jelas dia.
Mengenai lokasi penangkapan buron
kasus dugaan gratifikasi dan suap itu, Ghufron mengaku tidak tahu persis. “Kami
tidak tahu lagi di rumah pribadi atau tidak, Karena yang terdata di kita ada
banyak rumah beliau. KPK sudah mendatangi dan menggeledah lebih dari 13
kediaman yang semuanya diklaim sebagai rumah yang bersangkutan,†jelas dia.
Sementara Wakil Ketua Nawawi
Pomolango mengatakan, bahwa satu buronan lainnya yakni Direktur PT. Multicon
Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto (HS) belum juga ditemukan. KPK
mengharapkan Heindra segera menyerahkan diri.
“Kami berharap HS segera
menyerahkan diri, karena terus bersembunyi akan semakin menyulitkan yang
bersangkutan dan kami KPK akan terus memburunya,†tegas Nawawi.
Sebelumnya pada pertengahan
Desember 2020, KPK menetapkan Nurhadi dan Rezky sebagai tersangka penerima suap
sebesar Rp46 miliar dari Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra
Soenjoto. Kasus suap itu terkait dengan penanganan perkara di MA selama periode
2011-2016 atau ketika Nurhadi masih aktif bertugas di lembaga yudikatif
tersebut.
Namun, Nurhadi dan Rezky
berkali-kali mangkir dari panggilan KPK. Selanjutnya lembaga antirasuah itu
memasukkan Nurhadi dan Rezky ke daftar pencarian orang (DPO).
Sementara itu, mantan pimpinan KPK
Bambang Widjojanto (BW) mengaresiasi langkah penyidik senior KPK, Novel
Baswedan, yang memimpin operasi penangkapan terhadap mantan Sekretaris Mahkamah
Agung (MA) Nurhadi. Tersangka pengurusan perkara di MA itu diringkus bersama
menantunya Rezky Herbiyono di wilayah Jakarta Selatan pada Senin (1/6) malam.
“Bravo Novel Baswedan pimpin
sendiri operasi dan berhasil membekuk buronan KPK, Nurhadi, mantan Sekjen MA di
Simpruk, yang sudah lebih dari 100 hari DPO,†kata BW dalam keterangannya,
Selasa (2/6).
BW menyebut meski mata Novel yang
saat ini mengalami sakit parah pasca penyiraman air keras, tidak menyurutkan
kinerjanya sebagai penyidik KPK. “Kendati matanya dirampok penjahat yang
dilindungi, tapi mata batin, integritas dan keteguhannya tetap memukau,†ujar
BW.
Menurut BW, penyidik KPK yang
menerima laporan dari masyarakat ditemani dengan pimpinan wilayah setempat
berhasil meringkus mafia MA. Dia pun mengapresiasi kinerja penyidik KPK di
bawah komando Ketua Satgas Novel Baswedan.
“Penyidik KPK atas info dari rakyat
ditemani RT sukses menggeledah rumah DPO KPK di Simpruk yang gelap gulita itu,
ditemukan dua DPO, juga satu orang lain yang selalu mangkir jika dipanggil
KPK,†ucap BW.
BW pun mempertanyakan pihak yang
melindungi Nurhadi hingga beberapa bulan lamanya berhasil menjadi buronan.
Padahal, dia hanya bersembunyi di wilayah Jakarta Selatan.
“DPO KPK tinggal di daerah elite
Simpruk bersama seluruh keluarga sampai anak dan cucunya. Sudah lebih dari 100
hari sejak dinyatakan buron. Untung rakyat kasih info, tanya pimpinan KPK,
siapa yang lindungi mereka,†cetus BW.