30.1 C
Jakarta
Saturday, March 7, 2026

Manfaatkan Ramadan untuk Berhenti Merokok, Ini Alasannya

PROKALTENG.CO – Bulan suci Ramadan dinilai menjadi momentum tepat bagi para perokok untuk berhenti merokok. Selama berpuasa, seseorang terbiasa tidak merokok sejak sahur hingga berbuka, sehingga kebiasaan itu bisa dilanjutkan agar benar-benar lepas dari rokok.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama menyarankan masyarakat memanfaatkan ibadah puasa di bulan Ramadan sebagai langkah awal menghentikan kebiasaan merokok demi menjaga kesehatan.

“Para perokok yang berpuasa otomatis berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Momentum bulan suci Ramadan ini sebaiknya dimanfaatkan untuk berhenti merokok sepenuhnya,” kata Prof. Tjandra dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi, Selasa.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menjelaskan asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya.

Baca Juga :  Mau Berhenti Merokok tapi Sudah Kecanduan, Simak Cara Mengatasinya

“Ratusan di antaranya merupakan zat beracun yang berkaitan dengan puluhan penyakit, dari kepala sampai kaki,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa asap rokok tidak hanya berdampak pada perokok, tetapi juga orang lain di sekitarnya. Karena itu, saat menjalankan ibadah puasa, seseorang seharusnya tidak menimbulkan gangguan bagi orang lain.

Menurut dia, selama bulan Ramadan para perokok sudah terbiasa tidak merokok sejak sahur hingga berbuka. Kebiasaan tersebut sebaiknya diteruskan hingga waktu sahur berikutnya agar perlahan benar-benar lepas dari rokok.

Electronic money exchangers listing

Prof. Tjandra menilai penting bagi perokok untuk menanamkan niat kuat berhenti merokok dan menolak godaan untuk kembali menyalakan rokok.

Ia juga menepis anggapan bahwa seseorang tidak bisa beraktivitas tanpa merokok. Pengalaman selama puasa justru membuktikan sebaliknya.

Baca Juga :  Gubernur Kalteng Apresiasi BNN Fun Run 6K, Ajak Warga Lawan Narkoba Lewat Olahraga

“Pendapat bahwa harus merokok dulu baru bisa bekerja tidak benar. Selama puasa, orang tetap bisa beraktivitas dari pagi sampai sore tanpa rokok,” kata Adjunct Professor Griffith University tersebut.

Prof. Tjandra juga mengingatkan agar tidak menjadikan rokok sebagai “menu pertama” saat berbuka puasa. Kebiasaan tersebut dinilai tidak baik bagi tubuh yang sudah relatif lemah setelah seharian tidak makan dan minum.

Ia menyarankan waktu berbuka dimanfaatkan untuk mengonsumsi makanan bergizi, bukan langsung merokok.

Menurutnya, jika kebiasaan tidak merokok selama puasa terus dilanjutkan, peluang untuk benar-benar berhenti merokok akan semakin besar.

“Berhenti merokok di bulan Ramadan akan memberi manfaat bagi kesehatan, kehidupan, dan juga lingkungan,” ujar mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kabalitbangkes Kemenkes itu. (antara)

PROKALTENG.CO – Bulan suci Ramadan dinilai menjadi momentum tepat bagi para perokok untuk berhenti merokok. Selama berpuasa, seseorang terbiasa tidak merokok sejak sahur hingga berbuka, sehingga kebiasaan itu bisa dilanjutkan agar benar-benar lepas dari rokok.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama menyarankan masyarakat memanfaatkan ibadah puasa di bulan Ramadan sebagai langkah awal menghentikan kebiasaan merokok demi menjaga kesehatan.

“Para perokok yang berpuasa otomatis berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Momentum bulan suci Ramadan ini sebaiknya dimanfaatkan untuk berhenti merokok sepenuhnya,” kata Prof. Tjandra dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi, Selasa.

Electronic money exchangers listing

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menjelaskan asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya.

Baca Juga :  Mau Berhenti Merokok tapi Sudah Kecanduan, Simak Cara Mengatasinya

“Ratusan di antaranya merupakan zat beracun yang berkaitan dengan puluhan penyakit, dari kepala sampai kaki,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa asap rokok tidak hanya berdampak pada perokok, tetapi juga orang lain di sekitarnya. Karena itu, saat menjalankan ibadah puasa, seseorang seharusnya tidak menimbulkan gangguan bagi orang lain.

Menurut dia, selama bulan Ramadan para perokok sudah terbiasa tidak merokok sejak sahur hingga berbuka. Kebiasaan tersebut sebaiknya diteruskan hingga waktu sahur berikutnya agar perlahan benar-benar lepas dari rokok.

Prof. Tjandra menilai penting bagi perokok untuk menanamkan niat kuat berhenti merokok dan menolak godaan untuk kembali menyalakan rokok.

Ia juga menepis anggapan bahwa seseorang tidak bisa beraktivitas tanpa merokok. Pengalaman selama puasa justru membuktikan sebaliknya.

Baca Juga :  Gubernur Kalteng Apresiasi BNN Fun Run 6K, Ajak Warga Lawan Narkoba Lewat Olahraga

“Pendapat bahwa harus merokok dulu baru bisa bekerja tidak benar. Selama puasa, orang tetap bisa beraktivitas dari pagi sampai sore tanpa rokok,” kata Adjunct Professor Griffith University tersebut.

Prof. Tjandra juga mengingatkan agar tidak menjadikan rokok sebagai “menu pertama” saat berbuka puasa. Kebiasaan tersebut dinilai tidak baik bagi tubuh yang sudah relatif lemah setelah seharian tidak makan dan minum.

Ia menyarankan waktu berbuka dimanfaatkan untuk mengonsumsi makanan bergizi, bukan langsung merokok.

Menurutnya, jika kebiasaan tidak merokok selama puasa terus dilanjutkan, peluang untuk benar-benar berhenti merokok akan semakin besar.

“Berhenti merokok di bulan Ramadan akan memberi manfaat bagi kesehatan, kehidupan, dan juga lingkungan,” ujar mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kabalitbangkes Kemenkes itu. (antara)

Terpopuler

Artikel Terbaru