26.7 C
Jakarta
Saturday, April 5, 2025

Nilai Gagal Tangani Hamas, Ribuan Warga Israel Tuntut Netanyahu Mundur

PROKALTENG.CO-Ribuan warga Israel menggelar unjuk rasa di depan kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem, Rabu (19/3). Aksi ini menuntut pengunduran dirinya karena dinilai gagal menangani konflik dengan Hamas dan membahayakan demokrasi Israel.

Mengutip AFP, para demonstran datang dari berbagai wilayah dengan membawa spanduk bertuliskan “Kami semua adalah sandera”, serta meneriakkan yel-yel agar perang dihentikan dan sandera segera dikembalikan.

Mereka menilai Netanyahu bertanggung jawab atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu eskalasi konflik besar di Gaza. “Perdana menteri ini harus pulang. Dia telah gagal dan dengan tetap berkuasa, dia merugikan negara dan warganya,” tegas Eyal Ben-Reuven, pensiunan angkatan darat yang ikut aksi.

Baca Juga :  Serangan Israel Membunuh Sejumlah Relawan Asing

Serangan Udara Dikecam, Sandera Masih Ditahan

Unjuk rasa juga menyuarakan kecaman terhadap kelanjutan serangan udara Israel di Gaza, yang dilanjutkan meski gencatan senjata sempat berlangsung hampir dua bulan. Para demonstran khawatir serangan berkelanjutan justru membahayakan nyawa sandera yang masih ditahan Hamas.

Dari total 251 sandera, masih ada 58 orang yang belum dibebaskan, termasuk 34 yang telah dinyatakan tewas oleh militer Israel.

“Kami ingin dia tahu bahwa isu paling penting adalah mengembalikan para sandera,” ujar Nehama Krysler, kerabat salah satu sandera.

Kritik atas Reformasi Peradilan

Selain isu perang, massa juga menolak kebijakan Netanyahu yang berupaya merombak sistem peradilan Israel. Reformasi kontroversial ini dinilai melemahkan kekuasaan yudikatif dan telah ditentang oleh jaksa agung hingga penasihat hukum pemerintah.

Baca Juga :  Tentara Israel Kepung RS Kamal Adwan di Gaza Utara

“Demokrasi kita terancam oleh pemerintahan ini,” kata demonstran Raffi Lipkin.

Mantan Perdana Menteri Yair Lapid turut menyuarakan penolakan. Dalam unggahan media sosialnya, ia menyebut pemerintahan Netanyahu sebagai “tidak sah” dan menyatakan bahwa protes ini adalah perlawanan terhadap upaya merusak demokrasi Israel.(jpg)

PROKALTENG.CO-Ribuan warga Israel menggelar unjuk rasa di depan kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem, Rabu (19/3). Aksi ini menuntut pengunduran dirinya karena dinilai gagal menangani konflik dengan Hamas dan membahayakan demokrasi Israel.

Mengutip AFP, para demonstran datang dari berbagai wilayah dengan membawa spanduk bertuliskan “Kami semua adalah sandera”, serta meneriakkan yel-yel agar perang dihentikan dan sandera segera dikembalikan.

Mereka menilai Netanyahu bertanggung jawab atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu eskalasi konflik besar di Gaza. “Perdana menteri ini harus pulang. Dia telah gagal dan dengan tetap berkuasa, dia merugikan negara dan warganya,” tegas Eyal Ben-Reuven, pensiunan angkatan darat yang ikut aksi.

Baca Juga :  Serangan Israel Membunuh Sejumlah Relawan Asing

Serangan Udara Dikecam, Sandera Masih Ditahan

Unjuk rasa juga menyuarakan kecaman terhadap kelanjutan serangan udara Israel di Gaza, yang dilanjutkan meski gencatan senjata sempat berlangsung hampir dua bulan. Para demonstran khawatir serangan berkelanjutan justru membahayakan nyawa sandera yang masih ditahan Hamas.

Dari total 251 sandera, masih ada 58 orang yang belum dibebaskan, termasuk 34 yang telah dinyatakan tewas oleh militer Israel.

“Kami ingin dia tahu bahwa isu paling penting adalah mengembalikan para sandera,” ujar Nehama Krysler, kerabat salah satu sandera.

Kritik atas Reformasi Peradilan

Selain isu perang, massa juga menolak kebijakan Netanyahu yang berupaya merombak sistem peradilan Israel. Reformasi kontroversial ini dinilai melemahkan kekuasaan yudikatif dan telah ditentang oleh jaksa agung hingga penasihat hukum pemerintah.

Baca Juga :  Tentara Israel Kepung RS Kamal Adwan di Gaza Utara

“Demokrasi kita terancam oleh pemerintahan ini,” kata demonstran Raffi Lipkin.

Mantan Perdana Menteri Yair Lapid turut menyuarakan penolakan. Dalam unggahan media sosialnya, ia menyebut pemerintahan Netanyahu sebagai “tidak sah” dan menyatakan bahwa protes ini adalah perlawanan terhadap upaya merusak demokrasi Israel.(jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru