26 C
Jakarta
Thursday, March 12, 2026

Penutupan Selat Hormuz, Pakar Ragukan Bakal Berlangsung Lama

PROKALTENG.CO-Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan dari Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu menimbulkan dampak besar bagi distribusi minyak dunia, khususnya bagi negara-negara yang sangat bergantung pada jalur pelayaran ini. Namun, para pakar meragukan penutupan ini akan berlangsung lama karena risiko besar yang harus ditanggung Iran sendiri.

Dampak Global dari Penutupan Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20% minyak mentah dunia yang dikonsumsi, dengan lebih dari 80% pengiriman minyak tersebut menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang. Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute utama pengiriman bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG), di mana sekitar 30% bahan bakar penerbangan Eropa dan 20% LNG global melewati selat ini.

Penutupan jalur distribusi utama ini menyebabkan gangguan signifikan pada pasokan energi global. Negara-negara seperti Amerika Serikat, anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada yang terdampak memiliki cadangan strategis yang cukup untuk menghadapi gangguan pasokan sementara selama beberapa minggu, namun ketergantungan jangka panjang tetap menjadi ancaman serius.

Baca Juga :  Jika Evakuasi WNI Dilakukan, TNI Siagakan Seluruh Rumah Sakitnya

Kerentanan Iran dan Peran China

Sara Vakhshouri, pakar energi dari SVB Energy International, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang tidak rasional bagi Iran karena negara tersebut masih bergantung pada impor barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor Iran diarahkan ke China dan India sehingga tindakan pemblokiran ini justru akan merugikan Iran sendiri.

“Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju Cina dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri,” katanya kepada Bloomberg TV yang dikutip dari Deutsche Welle.

Electronic money exchangers listing

Lebih lanjut, Nikolay Kozhanov dari Qatar University menambahkan bahwa China merupakan sumber kehidupan tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi.

Baca Juga :  Helikopter Bertabrakan di Udara, Menewaskan 10 Orang Awaknya

“Saat ini, China merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi,” jelasnya.

Konstelasi Sanksi dan Dampak Ekonomi

Iran telah dikenai sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terkait program nuklir yang diberlakukan oleh PBB antara 2006 hingga 2015. Meskipun sempat ada pelonggaran sanksi antara 2016 dan 2018 melalui kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sanksi kembali diperketat setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sanksi ini memaksa Iran menggunakan armada kapal bayangan, perantara, dan rute alternatif untuk mengekspor minyak, yang meningkatkan biaya transportasi dan menurunkan pendapatan ekspor karena harus memberikan diskon harga. China yang menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia diuntungkan dengan harga yang lebih murah akibat kondisi ini.

(fjr)

 

PROKALTENG.CO-Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan dari Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu menimbulkan dampak besar bagi distribusi minyak dunia, khususnya bagi negara-negara yang sangat bergantung pada jalur pelayaran ini. Namun, para pakar meragukan penutupan ini akan berlangsung lama karena risiko besar yang harus ditanggung Iran sendiri.

Dampak Global dari Penutupan Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20% minyak mentah dunia yang dikonsumsi, dengan lebih dari 80% pengiriman minyak tersebut menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang. Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute utama pengiriman bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG), di mana sekitar 30% bahan bakar penerbangan Eropa dan 20% LNG global melewati selat ini.

Electronic money exchangers listing

Penutupan jalur distribusi utama ini menyebabkan gangguan signifikan pada pasokan energi global. Negara-negara seperti Amerika Serikat, anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada yang terdampak memiliki cadangan strategis yang cukup untuk menghadapi gangguan pasokan sementara selama beberapa minggu, namun ketergantungan jangka panjang tetap menjadi ancaman serius.

Baca Juga :  Jika Evakuasi WNI Dilakukan, TNI Siagakan Seluruh Rumah Sakitnya

Kerentanan Iran dan Peran China

Sara Vakhshouri, pakar energi dari SVB Energy International, menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang tidak rasional bagi Iran karena negara tersebut masih bergantung pada impor barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor Iran diarahkan ke China dan India sehingga tindakan pemblokiran ini justru akan merugikan Iran sendiri.

“Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju Cina dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri,” katanya kepada Bloomberg TV yang dikutip dari Deutsche Welle.

Lebih lanjut, Nikolay Kozhanov dari Qatar University menambahkan bahwa China merupakan sumber kehidupan tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi.

Baca Juga :  Helikopter Bertabrakan di Udara, Menewaskan 10 Orang Awaknya

“Saat ini, China merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi,” jelasnya.

Konstelasi Sanksi dan Dampak Ekonomi

Iran telah dikenai sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terkait program nuklir yang diberlakukan oleh PBB antara 2006 hingga 2015. Meskipun sempat ada pelonggaran sanksi antara 2016 dan 2018 melalui kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sanksi kembali diperketat setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sanksi ini memaksa Iran menggunakan armada kapal bayangan, perantara, dan rute alternatif untuk mengekspor minyak, yang meningkatkan biaya transportasi dan menurunkan pendapatan ekspor karena harus memberikan diskon harga. China yang menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia diuntungkan dengan harga yang lebih murah akibat kondisi ini.

(fjr)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru

/