alexametrics
30.6 C
Palangkaraya
Friday, August 12, 2022

Viral, Edy Mulyadi Hina Kalimantan, Sebut Lokasi IKN Tempat Jin Buang Anak

PROKALTENG.CO – Sebuah potongan video pendek viral di media sosial. Tagar atau tanda pagar #tangkapedymulyadi pun trending di berbagai platform media sosial, seperti Twitter, Instagram dan Facebook.

Hal itu menyusul kegeraman warganet terhadap sosok Edy Mulyadi yang ada dalam video viral tersebut. Dimana sejumlah kalimat yang dilontarkan bernada menghina Kalimantan sebagai daerah yang dipilih menjadi lokasi Ibu Kota Negara (IKN) oleh Pemerintah.

Dalam potongan video yang dilihat prokalteng.co pada akun Instagram Instagram @Factaindo, terdengar Edy Mulyadi yang  menghina Kalimantan sebagai tempat Jin Buang Anak, Pasar Genderuwo dan Kuntilanak.

Menurut Edy Mulyadi bahwa ibu kota negara akan dipindah ke Kalimantan yang disebutnya sebagai tempat jin membuang anak.

“Bisa memahami enggak, ini ada sebuah tempat elite punya sendiri yang harganya mahal,” ujarnya.

“Punya gedung sendiri lalu dijual pindah ke tempat jin buang anak,” sambungnya

Baca Juga :  Catat! Berikut Kelompok yang Diprioritaskan Peroleh Vaksin Covid-19

Bahkan Edy Mulyadi menyebut pasar bagi Ibu Kota Baru adalah kuntilanak dan genderuwo. “Pasarnya siapa?” jelasnya. “Kalau pasarnya kuntilanak, genderuwo ngapain ngebangun disana,” sambungnya.

Untuk menguatkan pendapatnya, Edy Mulyadi menanyakan lokasi tempat tinggal dimana rekan yang duduk disebelah kirinya. “Enggak ada, nih sampean tinggal dimana om?” ungkapnya. “Mana mau tinggal di Gunungsari pindah ke Kalimantan Penajam sana untuk beli rumah disana,” sambungnya.

Edy Mulyadi pun menertawai salah satu orang memberikan suaranya dan berteriak bahwa hanya monyet yang mau menjadi warga Ibu Kota Baru. “Gua mau jadi warga Ibu Kota Baru, mana mau,” ujarnya yang kemudian disahuti oleh rekan yang ditanya dengan kata, “Hanya monyet.”

Hina Menhan Prabowo

Edy Mulyadi selama ini dikenal sebagai wartawan senior dan tercatat sebagai caleg PKS nomor urut 8 daerah pemilihan Jakarta III namun gagal.

Edy lahir di Jakarta, 8 Agustus 1966 itu memulai kariernya sejak 1991 sebagai wartawan Neraca.

Baca Juga :  LIPI Temukan Katak Pinokio Spesies Baru di Belantara Kalimantan

Edy melanjutkan pekerjaannya tersebut media-media besar seperti Media Indonesia, Metro TV, TPI dan juga Warta Ekonomi.

Edy juga merupakan salah satu penulis juga yang bergabung bersama kompasiana sejak 23 Mei 2014 dengan nama akun edymulyadilagi. Ia menulis dirinya sendiri sebagai seorang jurnalis, media trainer, konsultan/praktisi PR.

Sebelum pernyataannya yang bernada menghina Kalimantan, Edy Mulyadi juga telah mejadi perbincangan hangat warganet di media sosial.

Edy Mulyadi disorot usai melontarkan pernyataan yang dianggap kontra terhadap Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo.

Bahkan kini Edy Mulyadi telah dipolisikan karena dianggap sudah menghina Prabowo dengan sebutan ‘macan jadi mengeong’.

“Masa Menteri Pertahanan kayak begini enggak ngerti sih, jenderal bintang tiga, macan yang menjadi kayak mengeong gak berarti begini aja,” ujarnya dalam video yang beredar di media sosial.

PROKALTENG.CO – Sebuah potongan video pendek viral di media sosial. Tagar atau tanda pagar #tangkapedymulyadi pun trending di berbagai platform media sosial, seperti Twitter, Instagram dan Facebook.

Hal itu menyusul kegeraman warganet terhadap sosok Edy Mulyadi yang ada dalam video viral tersebut. Dimana sejumlah kalimat yang dilontarkan bernada menghina Kalimantan sebagai daerah yang dipilih menjadi lokasi Ibu Kota Negara (IKN) oleh Pemerintah.

Dalam potongan video yang dilihat prokalteng.co pada akun Instagram Instagram @Factaindo, terdengar Edy Mulyadi yang  menghina Kalimantan sebagai tempat Jin Buang Anak, Pasar Genderuwo dan Kuntilanak.

Menurut Edy Mulyadi bahwa ibu kota negara akan dipindah ke Kalimantan yang disebutnya sebagai tempat jin membuang anak.

“Bisa memahami enggak, ini ada sebuah tempat elite punya sendiri yang harganya mahal,” ujarnya.

“Punya gedung sendiri lalu dijual pindah ke tempat jin buang anak,” sambungnya

Baca Juga :  Ketua PKS Kalteng Kutuk Pernyataan Edy Mulyadi

Bahkan Edy Mulyadi menyebut pasar bagi Ibu Kota Baru adalah kuntilanak dan genderuwo. “Pasarnya siapa?” jelasnya. “Kalau pasarnya kuntilanak, genderuwo ngapain ngebangun disana,” sambungnya.

Untuk menguatkan pendapatnya, Edy Mulyadi menanyakan lokasi tempat tinggal dimana rekan yang duduk disebelah kirinya. “Enggak ada, nih sampean tinggal dimana om?” ungkapnya. “Mana mau tinggal di Gunungsari pindah ke Kalimantan Penajam sana untuk beli rumah disana,” sambungnya.

Edy Mulyadi pun menertawai salah satu orang memberikan suaranya dan berteriak bahwa hanya monyet yang mau menjadi warga Ibu Kota Baru. “Gua mau jadi warga Ibu Kota Baru, mana mau,” ujarnya yang kemudian disahuti oleh rekan yang ditanya dengan kata, “Hanya monyet.”

Hina Menhan Prabowo

Edy Mulyadi selama ini dikenal sebagai wartawan senior dan tercatat sebagai caleg PKS nomor urut 8 daerah pemilihan Jakarta III namun gagal.

Edy lahir di Jakarta, 8 Agustus 1966 itu memulai kariernya sejak 1991 sebagai wartawan Neraca.

Baca Juga :  Survei Indikator: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat, Aparat S

Edy melanjutkan pekerjaannya tersebut media-media besar seperti Media Indonesia, Metro TV, TPI dan juga Warta Ekonomi.

Edy juga merupakan salah satu penulis juga yang bergabung bersama kompasiana sejak 23 Mei 2014 dengan nama akun edymulyadilagi. Ia menulis dirinya sendiri sebagai seorang jurnalis, media trainer, konsultan/praktisi PR.

Sebelum pernyataannya yang bernada menghina Kalimantan, Edy Mulyadi juga telah mejadi perbincangan hangat warganet di media sosial.

Edy Mulyadi disorot usai melontarkan pernyataan yang dianggap kontra terhadap Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo.

Bahkan kini Edy Mulyadi telah dipolisikan karena dianggap sudah menghina Prabowo dengan sebutan ‘macan jadi mengeong’.

“Masa Menteri Pertahanan kayak begini enggak ngerti sih, jenderal bintang tiga, macan yang menjadi kayak mengeong gak berarti begini aja,” ujarnya dalam video yang beredar di media sosial.

Most Read

Artikel Terbaru

/