alexametrics
23.2 C
Palangkaraya
Monday, August 15, 2022

Wow! Polisi Amankan 4.000 Orang Terlibat Unjuk Rasa Tolak UU Ciptaker,

JAKARTA, KALTENGPOS.CO – Polri mengamankan ribuan orang yang
terlibat aksi unjuk rasa menolak pengesahan UU Cipta Kerja. Polri juga telah
menangkap seorang wanita penyebar 12 hoaks UU Cipta Kerja.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo
Yuwono mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap 4.000
orang terkait demo rusuh di berbagai daerah pada Kamis (8/10). Mereka berasal
dari kelompok Anarko, buruh, mahasiswa, pelajar, hingga penganggura.

“Ini masih dilakukan pemeriksaan.
Belum 24 jam. Nanti kita lihat untuk pelajar dan anak-anak akan kita panggil
orangtuanya supaya ikut melakukan pengawasan,” katanya di Mabes Polri Jumat
(9/10).

Selain itu, Polri juga menangkap
seorang wanita beinisial VE (36) pemilik akun Twitter @videlyae. Wanita ini
ditangkap karenanya menyebar hoaks 12 pasal UU Cipta Kerja.

“Ini ada di sini, ini 12 pasal
itu yang disebarkan yang di mana pasal-pasal itu adalah contohnya uang pesangon
dihilangkan, kemudian UMP-UMK dihapus gitu ya, kemudian semua cuti tidak ada
kompensasi dan lain-lain. Itu ada 12 gitu ya. Itu sudah beredar sehingga
masyarakat itu terprovokasi, kemudian masyarakat melihat bahwa kok seperti
ini?,” ungkapnya.

@videlyae diduga telah
menyebarkan hoaks UU Cipta Kerja. Sebab isi sebenarnya UU Cipta Kerja tidak seperti
yang disebarkan @videlyae.

“Tapi, setelah kita melihat bahwa
dari undang-undang tersebut, ternyata ini adalah hoaks dia karena tidak benar
seperti apa yang telah disahkan oleh DPR,” katanya.

Dijelaskan Argo, wanita warga Kota
Makassar, Sulawesi Selatan itu ditangkap di Makassar, sebelum dibawa ke
Jakarta.

“Ternyata hoaks ini ada yang
upload. Setelah kita cek adalah berada di Sulawesi Selatan lokasinya. Di daerah
Makassar. Itu pada hari Kamis, tanggal 8 Oktober 2020. Anggota ke sana,
kemudian kita lakukan penyelidikan di sana, kemudian kita lakukan adanya
seorang perempuan diduga melakukan penyebaran yang tidak benar itu ada di
Twitternya, Twitter @videlyae,” katanya.

Terkait aksi demo berujung rusuh,
Argo menjelaskan pihaknya mengamankan 796 orang dari kelompok anarko. Mereka
diamankan dari berbagai daerah di Indonesia. “Jadi kami sampaikan bahwa
beberapa orang yang diamankan yang terindikasi itu dari kelompok Anarko itu
sebanyak 796 orang di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jatim, PMJ
(Jakarta), Sumut, dan Kalbar,” ungkapnya.

Selain kelompok Anarko 601 orang
dari masyarakat umum. Sedangkan kelompok pelajar yang ditangkap berjumlah
1.548. Mereka diamankan dari sejumlah daerah di Indonesia. “Ada juga mahasiswa
sebanyak 443 di Sulsel, Jakarta, Sultra, Sumut, Papua Barat, dan Kalteng. Buruh
sebanyak 419 di Jakarta dan Sumatera Utara. Ada pengangguran sebanyak 55 di
Sultra, Kalsel dan Sumut,” imbuhnya.

Baca Juga :  Sebut Jokowi Langgar Prokes, MUI Sarankan Habib Rizieq Dibebaskan

“Jadi kalau kita melihat berapa
yang kita amankan tadi, dampak anarkis terhadap kepolisian,” imbuhnya.

Argo mengatakan, mereka yang
diamankan diduga terlibat dalam kerusuhan pada aksi demonstrasi kemarin. Ia pun
membeberkan kerusakan yang dilakukan oleh para perusuh dalam aksi kemarin. “Itu
yang dirusak di Polda Sumut itu ada dua mobil Wakarumkit dan 1 truk Sabhara
dirusak, 41 polisi luka. DI Yogyakarta 1 motor dan 9 mobil dinas Polri dan 2
pospol dirusak. Polda Riau 1 mobil dirusak dan 11 polisi terluka,” paparnya.(lengkapnya
lihat grafis)

Selain itu, Argo juga membeberkan
warga yang menjadi korban. Totalnya, ada 129 pendemo yang dirawat di rumah
sakit di Jakarta karena mengalami luka-luka. “Sedangkan untuk korban pendemo
atau warga sipil yang luka-luka ada 129 orang yang dirawat di seluruh RS di
Jakarta,” ujarnya.

Sementara Kabid Humas Polda Metro
Jaya Kombes Polisi Yusri Yunus mengatakan pihaknya menemukan sejumlah perusuh
bayaran yang didatangkan dari luar Jakarta pada aksi demo. Ada
kelompok-kelompok yang datang untuk melakukan kerusuhan, bahkan didominasi oleh
anak-anak STM.

“Dia tidak tahu apa itu UU Cipta
Kerja, yang dia tahu ada undangan untuk datang, disiapkan tiket kereta api,
disiapkan truk, disiapkan bus, kemudian ada uang makan untuk mereka semua,”
katanya.

Keberadaan massa bayaran
ditemukan petugas saat memeriksa ponsel para perusuh serta pengakuannya saat
diperiksa polisi. “Darimana kita bisa bilang itu? Dari bukti-bukti handphone
dan keterangan yang kita terima dari mereka. Semua sudah kita amankan total
1.192,” katanya.

Yusri mengatakan para perusuh
yang diamankan petugas diketahui berasal dari beberapa daerah di sekitar
Jakarta. Orang-orang itulah yang terlibat bentrokan dengan petugas dan
perusakan sejumlah fasilitas umum di Ibu Kota. “Beberapa kelompok memang datang
dari beberapa daerah seperti Purwakarta, Karawang, Bogor, Banten, yang datang
ke Jakarta memang tujuannya untuk melakukan kerusuhan,” katanya.

Dikatakannya, petugas akan
memanggil orangtua dari para pelajar agar diberikan pembinaan dan edukasi serta
menunjukkan bukti pesan singkat ajakan berunjuk rasa berakhir rusuh. “Ini untuk
pembelajaran jangan sampai nanti diulangi lagi bisa dijaga orang tuanya,”
tuturnya.

Baca Juga :  Zona Merah Dianjurkan Tak Gelar Salat Id Berjamaah

Hasil pemeriksaan sementara, dari
1.192 orang yang diamankan petugas 285 orang yang terindikasi terlibat pidana.
Mereka melawan petugas, perusakan fasilitas umum hingga membawa senjata tajam. “Ini
yang masih kita lakukan pendalaman makanya saya belum menyatakan tidak dia itu
sebagai tersangka, tidak,” ujarnya.

Senada diungkapkan Pangdam Jaya
Mayjen Dudung Abdurachman. “Ada beberapa yang kita tangkap. Mereka ini nggak
paham tujuannya untuk apa, bahkan mereka ada yang dari Subang berangkat,”
ujarnya.

Kepada pendemo itu Dudung
bertanya siapa yang menggerakkan rombongan dari Subang tersebut. Si pendemo
mengaku memang ada yang memintanya datang dengan janji uang. “Dia nggak bawa
uang sama sekali, ada yang cuma (bawa) Rp 10.000. Saya bayangkan kalau nanti
setelah demo dia pulang pakai apa. Hasil dari HP yang kita lihat itu, dia
dijanjikan setelah demo nanti dapat uang,” ujarnya.

Mirisnya kata Dudung, orang yang
menjanjikan uang kepada para pendemo tersebut tidak datang ke Jakarta. “Bahkan
penggeraknya itu justru nggak datang ke Jakarta. Dia berhenti di Pamanukan. Kan
kasihan seperti itu, masyarakat-masyarakat yang tidak paham diberikan
informasi-informasi yang salah,” imbuhnya.

Jajaran Kodam Jaya turut membantu
mengamankan para pendemo yang membuat rusuh. Pangdam Jaya juga ragu para
perusuh itu benar-benar datang dari kelompok mahasiswa. “Dan saya lihat yang
melakukan pelemparan-pelemparan kepada polisi itu saya lihat, saya nggak yakin
itu mahasiswa. Kalau mahasiswa itu pakai jaket almamater itu,” jelas Dudung.

Sedangkan Wakil Gubernur DKI
Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan dari 1.192 orang pendemo  yang diamankan polisi, lebih dari 60
persennya berstatus pelajar. “Lebih dari 60 persen ternyata usianya di bawah 19
tahun atau pelajar, bukan mahasiswa apalagi buruh,” katanya.

Karenanya Riza mengimbau kepada
para pelajar untuk tidak ikut dalam aksi unjuk rasa. Sebab, hal itu dapat
membahayakan diri sendiri apabila terjadi kericuhan. “Urusan demo itu biarlah
bagi mereka yang sudah dewasa, urusan buruh, urusan mahasiswa dan upaya ini
bisa dilakukan secara konstitusi dengan mengajukan judicial review,” imbuh
Riza.

Selain itu, menurut Riza,
mayoritas orang yang diamankan di Polda Metro Jaya bukanlah warga DKI Jakarta. “Dari
semua itu ternyata lebih dari 50 persen adalah bukan warga Jakarta,” katanya.

JAKARTA, KALTENGPOS.CO – Polri mengamankan ribuan orang yang
terlibat aksi unjuk rasa menolak pengesahan UU Cipta Kerja. Polri juga telah
menangkap seorang wanita penyebar 12 hoaks UU Cipta Kerja.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo
Yuwono mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap 4.000
orang terkait demo rusuh di berbagai daerah pada Kamis (8/10). Mereka berasal
dari kelompok Anarko, buruh, mahasiswa, pelajar, hingga penganggura.

“Ini masih dilakukan pemeriksaan.
Belum 24 jam. Nanti kita lihat untuk pelajar dan anak-anak akan kita panggil
orangtuanya supaya ikut melakukan pengawasan,” katanya di Mabes Polri Jumat
(9/10).

Selain itu, Polri juga menangkap
seorang wanita beinisial VE (36) pemilik akun Twitter @videlyae. Wanita ini
ditangkap karenanya menyebar hoaks 12 pasal UU Cipta Kerja.

“Ini ada di sini, ini 12 pasal
itu yang disebarkan yang di mana pasal-pasal itu adalah contohnya uang pesangon
dihilangkan, kemudian UMP-UMK dihapus gitu ya, kemudian semua cuti tidak ada
kompensasi dan lain-lain. Itu ada 12 gitu ya. Itu sudah beredar sehingga
masyarakat itu terprovokasi, kemudian masyarakat melihat bahwa kok seperti
ini?,” ungkapnya.

@videlyae diduga telah
menyebarkan hoaks UU Cipta Kerja. Sebab isi sebenarnya UU Cipta Kerja tidak seperti
yang disebarkan @videlyae.

“Tapi, setelah kita melihat bahwa
dari undang-undang tersebut, ternyata ini adalah hoaks dia karena tidak benar
seperti apa yang telah disahkan oleh DPR,” katanya.

Dijelaskan Argo, wanita warga Kota
Makassar, Sulawesi Selatan itu ditangkap di Makassar, sebelum dibawa ke
Jakarta.

“Ternyata hoaks ini ada yang
upload. Setelah kita cek adalah berada di Sulawesi Selatan lokasinya. Di daerah
Makassar. Itu pada hari Kamis, tanggal 8 Oktober 2020. Anggota ke sana,
kemudian kita lakukan penyelidikan di sana, kemudian kita lakukan adanya
seorang perempuan diduga melakukan penyebaran yang tidak benar itu ada di
Twitternya, Twitter @videlyae,” katanya.

Terkait aksi demo berujung rusuh,
Argo menjelaskan pihaknya mengamankan 796 orang dari kelompok anarko. Mereka
diamankan dari berbagai daerah di Indonesia. “Jadi kami sampaikan bahwa
beberapa orang yang diamankan yang terindikasi itu dari kelompok Anarko itu
sebanyak 796 orang di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jatim, PMJ
(Jakarta), Sumut, dan Kalbar,” ungkapnya.

Selain kelompok Anarko 601 orang
dari masyarakat umum. Sedangkan kelompok pelajar yang ditangkap berjumlah
1.548. Mereka diamankan dari sejumlah daerah di Indonesia. “Ada juga mahasiswa
sebanyak 443 di Sulsel, Jakarta, Sultra, Sumut, Papua Barat, dan Kalteng. Buruh
sebanyak 419 di Jakarta dan Sumatera Utara. Ada pengangguran sebanyak 55 di
Sultra, Kalsel dan Sumut,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ini Unggahan Medsos Pentolan KAMI yang Membuat Mereka Ditangkap

“Jadi kalau kita melihat berapa
yang kita amankan tadi, dampak anarkis terhadap kepolisian,” imbuhnya.

Argo mengatakan, mereka yang
diamankan diduga terlibat dalam kerusuhan pada aksi demonstrasi kemarin. Ia pun
membeberkan kerusakan yang dilakukan oleh para perusuh dalam aksi kemarin. “Itu
yang dirusak di Polda Sumut itu ada dua mobil Wakarumkit dan 1 truk Sabhara
dirusak, 41 polisi luka. DI Yogyakarta 1 motor dan 9 mobil dinas Polri dan 2
pospol dirusak. Polda Riau 1 mobil dirusak dan 11 polisi terluka,” paparnya.(lengkapnya
lihat grafis)

Selain itu, Argo juga membeberkan
warga yang menjadi korban. Totalnya, ada 129 pendemo yang dirawat di rumah
sakit di Jakarta karena mengalami luka-luka. “Sedangkan untuk korban pendemo
atau warga sipil yang luka-luka ada 129 orang yang dirawat di seluruh RS di
Jakarta,” ujarnya.

Sementara Kabid Humas Polda Metro
Jaya Kombes Polisi Yusri Yunus mengatakan pihaknya menemukan sejumlah perusuh
bayaran yang didatangkan dari luar Jakarta pada aksi demo. Ada
kelompok-kelompok yang datang untuk melakukan kerusuhan, bahkan didominasi oleh
anak-anak STM.

“Dia tidak tahu apa itu UU Cipta
Kerja, yang dia tahu ada undangan untuk datang, disiapkan tiket kereta api,
disiapkan truk, disiapkan bus, kemudian ada uang makan untuk mereka semua,”
katanya.

Keberadaan massa bayaran
ditemukan petugas saat memeriksa ponsel para perusuh serta pengakuannya saat
diperiksa polisi. “Darimana kita bisa bilang itu? Dari bukti-bukti handphone
dan keterangan yang kita terima dari mereka. Semua sudah kita amankan total
1.192,” katanya.

Yusri mengatakan para perusuh
yang diamankan petugas diketahui berasal dari beberapa daerah di sekitar
Jakarta. Orang-orang itulah yang terlibat bentrokan dengan petugas dan
perusakan sejumlah fasilitas umum di Ibu Kota. “Beberapa kelompok memang datang
dari beberapa daerah seperti Purwakarta, Karawang, Bogor, Banten, yang datang
ke Jakarta memang tujuannya untuk melakukan kerusuhan,” katanya.

Dikatakannya, petugas akan
memanggil orangtua dari para pelajar agar diberikan pembinaan dan edukasi serta
menunjukkan bukti pesan singkat ajakan berunjuk rasa berakhir rusuh. “Ini untuk
pembelajaran jangan sampai nanti diulangi lagi bisa dijaga orang tuanya,”
tuturnya.

Baca Juga :  Sebut Jokowi Langgar Prokes, MUI Sarankan Habib Rizieq Dibebaskan

Hasil pemeriksaan sementara, dari
1.192 orang yang diamankan petugas 285 orang yang terindikasi terlibat pidana.
Mereka melawan petugas, perusakan fasilitas umum hingga membawa senjata tajam. “Ini
yang masih kita lakukan pendalaman makanya saya belum menyatakan tidak dia itu
sebagai tersangka, tidak,” ujarnya.

Senada diungkapkan Pangdam Jaya
Mayjen Dudung Abdurachman. “Ada beberapa yang kita tangkap. Mereka ini nggak
paham tujuannya untuk apa, bahkan mereka ada yang dari Subang berangkat,”
ujarnya.

Kepada pendemo itu Dudung
bertanya siapa yang menggerakkan rombongan dari Subang tersebut. Si pendemo
mengaku memang ada yang memintanya datang dengan janji uang. “Dia nggak bawa
uang sama sekali, ada yang cuma (bawa) Rp 10.000. Saya bayangkan kalau nanti
setelah demo dia pulang pakai apa. Hasil dari HP yang kita lihat itu, dia
dijanjikan setelah demo nanti dapat uang,” ujarnya.

Mirisnya kata Dudung, orang yang
menjanjikan uang kepada para pendemo tersebut tidak datang ke Jakarta. “Bahkan
penggeraknya itu justru nggak datang ke Jakarta. Dia berhenti di Pamanukan. Kan
kasihan seperti itu, masyarakat-masyarakat yang tidak paham diberikan
informasi-informasi yang salah,” imbuhnya.

Jajaran Kodam Jaya turut membantu
mengamankan para pendemo yang membuat rusuh. Pangdam Jaya juga ragu para
perusuh itu benar-benar datang dari kelompok mahasiswa. “Dan saya lihat yang
melakukan pelemparan-pelemparan kepada polisi itu saya lihat, saya nggak yakin
itu mahasiswa. Kalau mahasiswa itu pakai jaket almamater itu,” jelas Dudung.

Sedangkan Wakil Gubernur DKI
Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan dari 1.192 orang pendemo  yang diamankan polisi, lebih dari 60
persennya berstatus pelajar. “Lebih dari 60 persen ternyata usianya di bawah 19
tahun atau pelajar, bukan mahasiswa apalagi buruh,” katanya.

Karenanya Riza mengimbau kepada
para pelajar untuk tidak ikut dalam aksi unjuk rasa. Sebab, hal itu dapat
membahayakan diri sendiri apabila terjadi kericuhan. “Urusan demo itu biarlah
bagi mereka yang sudah dewasa, urusan buruh, urusan mahasiswa dan upaya ini
bisa dilakukan secara konstitusi dengan mengajukan judicial review,” imbuh
Riza.

Selain itu, menurut Riza,
mayoritas orang yang diamankan di Polda Metro Jaya bukanlah warga DKI Jakarta. “Dari
semua itu ternyata lebih dari 50 persen adalah bukan warga Jakarta,” katanya.

Most Read

Artikel Terbaru

/