alexametrics
24.6 C
Palangkaraya
Tuesday, August 16, 2022

Malaysia Mulai Khawatir Lonjakan Pasien Positif Virus Korona Seperti T

MALAYSIA mulai kebingungan menghadapi pandemi
virus Korona jenis baru atau COVID-19 yang meluas. Sudah 2 hari sistem mirip
lockdown atau Perintah Pengawalan Pergerakan diberlakukan di negeri Jiran itu
sejak 18 Maret 2020. Kebijakan itu untuk membendung penyebaran virus Korona
yang semakin menggila.

Stasiun kereta api dan jalan-jalan sebagian besar sepi. Orang yang bekerja
hanya di sektor penting seperti penyiaran, perawatan kesehatan, dan beberapa
lembaga pemerintah. Sementara bisnis di restoran diizinkan hanya menyajikan
makanan take away. Pasar swalayan tetap buka sepanjang isolasi dua minggu.

Penguncian negara mengharuskan orang untuk tetap di rumah hingga akhir
Maret 2020 kecuali mereka membeli atau mengirim kebutuhan. Siapa pun yang
ditemukan melanggar perintah, menghadapi hukuman enam bulan penjara, denda,
atau keduanya. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu (18/3) malam,
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mendesak semua warga Malaysia untuk
tinggal di rumah demi keselamatan mereka sendiri dan orang lain.

Baca Juga :  KJRI Jedah Tegaskan Belum Ada Kepastian tentang Ibadah Haji

“Selama dua minggu ini, tetap di rumah saja. Habiskan waktu bersama
keluarga Anda. Tidak perlu pergi ke mana pun. Dengan cara ini kita bisa
mengendalikan penyebaran virus Korona,” katanya seperti dilansir dari South
China Morning Post, Kamis (19/3).

“Tolong, hanya untuk dua minggu ini, kami ingin memutus rantai infeksi,”
pinta Muhyiddin.

Pidato Muhyiddin dibenarkan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor
Hisham Abdullah. Dia memperingatkan warga Malaysia bahwa jika tidak mematuhi
batasan dan jarak sosial, Malaysia dapat menderita gelombang ketiga infeksi
seperti gelombang tsunami.

Noor Hisham Abdullah mengatakan dalam sebuah posting Facebook bahwa negara
itu memiliki peluang tipis untuk memutus rantai infeksi COVID-19 dengan
langkah-langkah, yang telah melarang pertemuan publik, menghentikan perjalanan
ke luar negeri untuk orang Malaysia dan menutup turis keluar masuk hingga 31
Maret.

“Kegagalan bukanlah pilihan di sini. Jika tidak, kita mungkin menghadapi
gelombang ketiga virus. Yang berikutnya akan sebesar tsunami,” sebutnya.

Baca Juga :  Pesta Pernikahan Jadi Petaka, 177 Terpapar Corona, 7 Meninggal

Malaysia makin mengalami lonjakan jumlah pasien lantaran adanya kegiatan
tabligh akbar yang dihadiri 16 ribu orang. Sejak itu jumlan pasien terus
meningkat.

Dalam laman Channel News Asia, Malaysia pada Kamis (19/3) melaporkan 110
kasus baru COVID-19 baru, sehingga total kasusnya di negara itu menjadi 900
orang seperti laporan Menteri Kesehatan Adham Baba. Dari kasus-kasus baru, 63
kasus terkait dengan pertemuan tabligh akbar di sebuah masjid di Sri Petaling,
Kuala Lumpur.

Acara itu dihadiri oleh 16.000 orang, juga menyebabkan infeksi di
negara-negara tetangga termasuk Brunei, Singapura, Kamboja, dan Thailand.
Sebelumnya, Noor Hisham Abdullah membenarkan bahwa pihak berwenang telah
menghubungi 10.553 jemaah yang menghadiri pertemuan tersebut. Dari jumlah
tersebut, 4.986 sampel diambil dan 513 di antaranya dinyatakan positif
COVID-19.

MALAYSIA mulai kebingungan menghadapi pandemi
virus Korona jenis baru atau COVID-19 yang meluas. Sudah 2 hari sistem mirip
lockdown atau Perintah Pengawalan Pergerakan diberlakukan di negeri Jiran itu
sejak 18 Maret 2020. Kebijakan itu untuk membendung penyebaran virus Korona
yang semakin menggila.

Stasiun kereta api dan jalan-jalan sebagian besar sepi. Orang yang bekerja
hanya di sektor penting seperti penyiaran, perawatan kesehatan, dan beberapa
lembaga pemerintah. Sementara bisnis di restoran diizinkan hanya menyajikan
makanan take away. Pasar swalayan tetap buka sepanjang isolasi dua minggu.

Penguncian negara mengharuskan orang untuk tetap di rumah hingga akhir
Maret 2020 kecuali mereka membeli atau mengirim kebutuhan. Siapa pun yang
ditemukan melanggar perintah, menghadapi hukuman enam bulan penjara, denda,
atau keduanya. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu (18/3) malam,
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mendesak semua warga Malaysia untuk
tinggal di rumah demi keselamatan mereka sendiri dan orang lain.

Baca Juga :  Wabah Ebola Bikin WHO Panik. Dari Kongo Menyebar ke Uganda

“Selama dua minggu ini, tetap di rumah saja. Habiskan waktu bersama
keluarga Anda. Tidak perlu pergi ke mana pun. Dengan cara ini kita bisa
mengendalikan penyebaran virus Korona,” katanya seperti dilansir dari South
China Morning Post, Kamis (19/3).

“Tolong, hanya untuk dua minggu ini, kami ingin memutus rantai infeksi,”
pinta Muhyiddin.

Pidato Muhyiddin dibenarkan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor
Hisham Abdullah. Dia memperingatkan warga Malaysia bahwa jika tidak mematuhi
batasan dan jarak sosial, Malaysia dapat menderita gelombang ketiga infeksi
seperti gelombang tsunami.

Noor Hisham Abdullah mengatakan dalam sebuah posting Facebook bahwa negara
itu memiliki peluang tipis untuk memutus rantai infeksi COVID-19 dengan
langkah-langkah, yang telah melarang pertemuan publik, menghentikan perjalanan
ke luar negeri untuk orang Malaysia dan menutup turis keluar masuk hingga 31
Maret.

“Kegagalan bukanlah pilihan di sini. Jika tidak, kita mungkin menghadapi
gelombang ketiga virus. Yang berikutnya akan sebesar tsunami,” sebutnya.

Baca Juga :  Menlu Iran: Tidak Ada Prospek Negosiasi dengan AS

Malaysia makin mengalami lonjakan jumlah pasien lantaran adanya kegiatan
tabligh akbar yang dihadiri 16 ribu orang. Sejak itu jumlan pasien terus
meningkat.

Dalam laman Channel News Asia, Malaysia pada Kamis (19/3) melaporkan 110
kasus baru COVID-19 baru, sehingga total kasusnya di negara itu menjadi 900
orang seperti laporan Menteri Kesehatan Adham Baba. Dari kasus-kasus baru, 63
kasus terkait dengan pertemuan tabligh akbar di sebuah masjid di Sri Petaling,
Kuala Lumpur.

Acara itu dihadiri oleh 16.000 orang, juga menyebabkan infeksi di
negara-negara tetangga termasuk Brunei, Singapura, Kamboja, dan Thailand.
Sebelumnya, Noor Hisham Abdullah membenarkan bahwa pihak berwenang telah
menghubungi 10.553 jemaah yang menghadiri pertemuan tersebut. Dari jumlah
tersebut, 4.986 sampel diambil dan 513 di antaranya dinyatakan positif
COVID-19.

Most Read

Artikel Terbaru

/